Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Kegelisahan Intan


__ADS_3

Tak berapa lama terdengar ketukan di pintu, Intan mempersilahkan Laras masuk.


"Tok tok tok"


"Masuk saja."


Laras masuk terlebih dulu, baru kemudian Saras mengikutinya di belakang.


"Untuk apa Laras mengajak, Saras? aku pikir anakku mengajak, Mas Reno kemari," batin Intan sudah mulai merasa akan ada hal buruk yang bakalan terjadi.


"Kalian duduklah terlebih dulu, aku ingin menata berkas dulu sebentar." Intan lekas mengirim notifikasi chat pesan pada, Reno.


[Mas Renon cepatlah ke kantor expedisi di jalan.. Saras ada di sini bersama dengan, Laras. Hatiku tak tenang].


Sebuah pesan untuk Reno, dan kebetulan toko sembako sedang tidak ramai.


"Ya ampun, aku harus segera ke kantor, Intan. Firasatku mengatakan, akan terjadi hal buruk. Tapi apakah itu?" Reno gerak cepat menutup toko sembako milik, Laras.


Dia berdebar-debar memikirkan sesuatu hal tapi entah apakah itu.


Sementara Intan telah selesai menata semua berkasnya. Hatinya gelisah, tapi dia mencoba untuk menenangkan dirinya.


"Laras, ada apa datang kemari?" Intan menautkan alisnya.

__ADS_1


"Begini, ibu. Aku ingin bertanya satu hal mengenai..


"☎️☎️☎️☎️☎️☎️☎️☎️☎️" telpon di ruangan tersebut berbunyi, hingga terpaksa Laras menghentikan perkataannya.


"Sebentar ya, Laras. Ibu, angkat telpon dulu. Khawatirnya telpon penting." Intan melangkah ke meja kerjanya dan menerima telpon tersebut.


"Oh, jadi bapak telah menemukan salah satu pelaku?" perkataan Intan lantang saat menerima panggilan telpon.


Mendengar apa yang Intan ucapkan, tiba-tiba Saras panik dan gelisah. Dia mengira Intan sedang berbicara masalah restoran yang terbakar.


"Aduh, aku pikir sudah berbulan-bulan kejadiannya tak di usut oleh, Intan. Jika benar salah satu orang bayaranku tertangkap, aku juga bisa tertangkap. Bagaimana ini?" batin Saras mulai panik.


"Nak, mami pulang dulu ya? ada hal yang penting yang harus di urus sekarang juga," bisik Saras pada Laras.


Sejenak Saras membuka tasnya dan mengambil satu lembar uang lima puluh ribu dan memberikannya pada, Laras.


Saat Saras akan pergi, Intan menahannya.


"Saras, kamu mau kemana? kita kan belum ngobrol sama sekali?" tegurnya lantang.


"A-anu a-aku ada keperluan sebentar." Tiba-tiba Saras pergi begitu saja.


"Laras, ada apa dengan, mamimu?" Intan menautkan alisnya.

__ADS_1


"Entahlah, bu. Mami, mengatakan ada sesuatu hal yang ingin di urusnya."


"Laras katanya ingin tanya sesuatu pada, ibu? coba katakan saja."


"Bu, tapi aku harap ibu menjawabnya dengan jujur ya," tukas Laras harap-harap cemas.


"Baiklah, katakan saja."


"Apa benar ibu pernah menikah dengan, Mas Tara?"


"Deg deg deg " Jantung Intan berdetak kencang.


Sesuatu hal yang sudah lama dia sembunyikan dan tutup rapat dari Laras, tapi kini malah Laras menanyakan hal ini.


"Bu, kenapa ibu diam? jawab, bu," kembali lagi Laras bertanya. Dia semakin penasaran dengan jawaban dari, Intan.


"Kenapa, ibu diam saja? apakah memang benar adanya, sehingga dia sulit untuk mengatakannya?" batin Laras di penuhi


oleh rasa penasaran.


Sedangkan hati Intan di liputi oleh rasa kekhawatiran untuk mengatakan kejujuran.


"Ya Allah, aku harus bagaimana dan mengatakan apa? aku sangat takut ya Allah, jika aku mengatakan yang sejujurnya, pasti Laras akan membenciku," batin Intan terus saja gelisah.

__ADS_1


******


__ADS_2