
Intan bingung harus memberi saran apa lagi pada Laras. Sebenarnya dia ingin mengatakan pada Laras supaya bercerai saja dengan Tara, tapi rasanya tidak etis.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan, setelah mengetahui suamimu seperti itu?" tanya Intan penasaran.
"Entahlah, bu. Karena aku masih sangat mencintainya. Aku belum bisa memutuskan apapun," jawab Laras sekenanya.
"Haduh, kalau seperti ini susah untuk bisa memisahkan Laras dengan Tara. Berarti hanya Atin yang bisa di andalkan," batin Intan gelisah.
Sementara saat ini Tara juga telah sampai di rumah Laras, dia sempat heran bagaimana bisa Laras keluar dari rumah.
"Gembok dan rantai masih utuh, dan ini masih terkunci. Bukannya tadi Laras yang menemuiku? nggak mungkin itu hantu." Tara membuka pintu gerbangnya.
"Jika di dalam ada Laras, berarti yang datang menemuiki adalah hantu," batin Tara seraya melajukan mobilnya masuk ke garasi.
__ADS_1
Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, dia langsung berlari kecil menuju ke rumah. Setiap sudut ruangan di dalam rumahnya, dia telusuri untuk mencari keberadaan Laras, namun tidak juga di temuinya.
"Berarti yang tadi menemuiku bukan hantu, melainkan Laras. Apa mungkin dia punya kekuatan supranatural yang bisa membuka gembok tanpa ada kuncinya? atau dia bisa menghilang menerobos pintu gerbang?" batin Tara mengernyitkan alisnya.
Tara mencoba menelpon Laras untuk mengetahui keberadaanya saat ini ada di mana, akan tetapi nomor ponselnya tidak aktif.
"Aduh, pake acara ngambek dan tidak mengaktifkan nomor ponsel sih!" gerutu Tara mendengus kesal.
"Pasti saat ini sedang ada di rumah, papi. Tapi aku nggak mungkin ke sana setelah apa yang tadi aku lakukan padanya," gerutu Tara kembali.
Waktu berjalan begitu cepatnya, tak terasa sudah menjelang pagi. Semalam Tara tertidur saat memikirkan Laras, hingga pagi menjelang dia baru bangun.
"Aduh, seperti ini jadi nggak ada yang melayani aku. Baik air mandi, baju kerjaku, dan sarapanku. Ternyata nggak enak juga jika istri ngambek?" Tara bangkit dari duduknya, dia melangkah malas menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Mata dia terasa masih sangat enggan untuk di buka, dia masih ngantuk yang teramat sangat, tapi dia harus pergi ke kantor juga.
Dengan sangat terpaksa dia melakukan semuanya sendiri, memilih pakaian kerja dan memakai sepatu serts sarapan sendiri. Namun saat dia ingat Atin, wajahnya berubah menjadi sumringah.
"Semangat, nggak ada Laras malah kebeneran. Aku lebih bebas untuk menghampiri Cantika." Tara mempercepat sarapannya, supaya bisa lekas ke kantor.
Hanya lima menit sarapan, dia sudah berada di dalam mobil dan siap melajukan mobilnya. Berkali-kali dia bercermin di kaca mobil, seraya tersenyum sendiri.
Tara melajukan mobilnya seraya terus bersiul karena suasana hati sangat senang, dia akan bertemu dengan Atin yang dia kenal dengan nama Cantika.
Saat ini dia sedang tidak memikirkan Tia maupun Laras. Tara sedang memikirkan bagaimana supaya bisa memiliki Atin seutuhnya, karena Atin sangat sulih di luluhkan.
Sementara saat ini Atin sudah berada di kantor.
__ADS_1
"Apakah hari ini Tia dan Tara tidak datang lagi ke kantor? kalau memang iya, sebaiknya aku ijin pulang. Karena percuma saja aku di sini, sedangkan tujuan utamaku adalah mengintai segala tingkah laku Tara," batin Atin menghela napas panjang.
***********