Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Keluarga Monalisa


__ADS_3

Sementara sejak kepergian Mona, mamahnya selalu saja menangis.


"Mah, sudahlah nggak usah bersedih terus. Nanti juga Mona pulang sendiri, kalau sudah nggak punya uang." Delta mencoba menghibur istrinya.


"Ini semua gara-gara papah, memaksa Mona untuk menerima perjodohannya dengan pria yang nggak sempurna itu!" Desny berkata lantang.


"Mah, pria itu cuma cacat sedikit yakni satu matanya yang bermasalah. Dia pewaris tunggal, mah. Jika Mona menjadi istrinya, kelak pasti bahagia," Delta menjelaskan panjang lebar.


"Bahagia menurutmu, pah. Tapi tidak dengan Mona, padahal sebentar lagi dia lulus kuliah dan dia mendambakan menjadi seorang perawat. Tapi semua impiannya musnah begitu saja, karena ulah papah." tak terasa bulir bening keluar dari mata Desny.


"Mah, mau sampai kapan menyalahkan papah terus dan menangis terus seperti ini?" Delta menghela napas panjang seraya memijit pelipisnya.


"Sampai Mona kembali, mamah tidak akan menyalahkan papah lagi dan tak menangis lagi," jawab Desny ketus.


Delta tak bisa berkata lagi, dia memutuskan untuk meminta bantuan kedua kakak Mona yakni Monica dan Momoy.


Delta melangkah pergi meninggalkan Desny yang terus saja menangis memikirkan keberadaan Mona dan kondisinya.


"Sebaiknya aku ke kantor Monic dulu, baru ke kantor Momoy." Delta melajukan mobilnya.


Hanya beberapa menit saja, telah sampai di kantor Monica. Delta lekas keluar dari mobilnya dan melangkah pasti ke ruang kerja anaknya.


"Papah, pagi sekali kemari ada apa?" tanya Monica penasaran.


"Papah ingin minta tolong padamu, nak," jawab Delta agak ragu seraya menjatuhkan pantatnya di sofa.


"Katakan saja, pah. Ngga usah sungkan." Monica beralih dari tempat duduknya di kursi kerjanya menuju ke sofa samping Delta.


"Sudah seminggu lebih, Monalisa belum juga pulang. Hampir tiap hari mamah menangis terus. Papah bingung, mau mencari lagi keberadaan Monalisa," Delta menghela napas panjang seraya menatap sendu pada Monica.

__ADS_1


"Bukannya waktu itu aku sudah pernah menasehati papah, supaya jangan menjodohkannya dengan pria yang cacat itu? ataupun pria manapun. Lagi pula Mona itu masih sangat muda sekali, dia ingin meniti karirnya," ucap Monica.


"Papah itu aneh, anak ingin bekerja setelah kuliah malah di suruh menikah dengan pria yang lebih tua dan tak sempurna pula. Siapapun tidak akan mau, pah." ucap Monica sedikit ketus.


Delta hanya diam saja tak membalas perkataan dari Monica, dia hanya tertunduk lesu. Apa yang dia lakukan memang salah, tapi demi membalas budi pada pria yang akan di nikahkan olehnya.


Hingga pada akhirnya, Delta berkata.


"Papah memang salah, tapi itu semua papah lakukan demi membalas budi kebaikan papahnya Riky. Riko memberikan dana begitu banyak di perusahaan papah, sehingga tidak sampai bangkrut. Lagi pula, Riky anak sematq wayang. Pasti kelak peninggalan dari Riko akan jatuh ke tangan Riky. Pikir papah, jika Mona menikah dengan Riky kelak tidak akan kekurangan apapun," panjang lebar Delta menjelaskan pada Monica.


"Pah, kekayaan tidak akan menjamin hidup seseorang bahagia. Lagipula kenapa saat papah butuh dana tidak membicarakannya padaku dan Momoy. Kami pasti akan membantu papah," ucap Monica menatap heran pada Delta.


"Nak, kalian kan sudah berumah tangga. Papah nggak enak sama suamimu, jika papah meminta bantuan darimu ataupun dari Momoy," ucap Delta singkat.


"Pah, itu bukan suatu alasan yang tepat. Kami ini anak papah, seharusnya jika ada suatu masalah papah cerita padaku dan Momoy. Jika papah memutuskan semuanya sendiri, sama saja papah meragukan kemapuanku dan Momoy. Dan sama saja papah tidak menganggap kami anak. Papah malah lebih percaya pada orang lain, daripada pada anak-anak papah." Monica sedikit geram dan mendengus kesal.


"Ya, nak. Papah minta maaf, karena tidak terbuka padamu dan Momoy. Pikir papah, kalian telah berkeluarga sehingga papah tak berani mengusik kenyamanan kalian dengan menceritakan permasalahan yang sedang papah hadapi waktu itu," Delta tertunduk lesu seraya menghela napas panjang.


"Terima kasih ya, nak. Kalau begitu papah pulang dulu, karena papah juga akan ke kantor Momoy untuk meminta bantuannya pula," Delta bangkit dari duduknya dan lekas melangkah pergi dari ruang kerja Monica.


"Hati-hati ya, pah." Pesan Monica.


Delta hanya tersenyum kecut dan lekas berlalu pergi. Dia melangkah menuju ke parkiran mobil, dan lekas melangkah menuju ke mobilnya.


Delta melajukan mobilnya menuju ke kantor Momoy, yang jaraknya tak jauh dari kantor Monica.


Delta segera melangkah menuju ke ruang kerja Momoy.


"Eh, papah. Duduklah, pah." Momoy menyunggingkan senyum melihat kedatangan Delta.

__ADS_1


Dia lekas menutup berkas yang sedang di cek nya.


Momoy menghentikan aktifitasnya dan bangkit dari duduknya. Dia lekas duduk di sofa, begitu pula Delta.


"Ada apa, pah?" tanya Momoy mengernyitkan alisnya.


"Nak, papah ingin minta tolong supaya kamu ikut mencari keberadaan Mona," ucap Delta menatap sendu Momoy.


"Memangnya sampai sekarang belum pulang juga, pah? aku pikir, malah sudah kembali ke rumah," Momoy mengernyitkan alisnya.


"Belum, mamahmu tiap hari menangisi Mona," Delta tertunduk lesu.


"Baiklah, pah. Nanti aku dan suami pasti akan bantu papah mencari keberadaan Mona. Kenapa nggak di telpon saja, pah?" saran Momoy.


"Papah sudah mencobanya, akan tetapi nomor ponsel tidak aktif. Papah juga sudah melapor ke polisi, tapi sampai detik ini juga belum ada kabar sama sekali," ucap Delta menghela napas panjang.


"Katakan saja pada mamah, supaya jangan terlalu mengkhawatirkan Mona. Dia itu anak cerdas, pasti saat ini dalam kondisi baik-baik saja. Kami akan turut mencarinya, dan jika perlu kami akan mengerahkan seluruh anak buah kami. Kenapa pula papah baru mengatakannya sekarang, jika Mona belum juga kembali?" Momoy mengernyitkan alisnya.


"Papah berharap Mona hanya pergi sesaat dan segera kembali. Tapi ternyata sampai satu minggu lebih, Mona tak juga kembali. Mamahmu tiap hari selalu saja menangisinya," ucap Delta seraya tertunduk lesu.


"Ya sudah, nanti kami bantu papah. Papah dan mamah jangan bersedih apalagi khawatir, yakinlah jika Mona saat ini kondisinya baik-baik saja," Momoy terus saja memberi penghiburan pada Delta.


Sementara di lain tempat, Mona sedang melamun memikirkan orang tuanya terutama mamahnya.


"Mah, aku kangen sekali sama mamah. Tapi aku takut pulang, mah. Aku takut jika aku pulang langsung di perintahkan oleh papah menikah dengan Riky yang tak aku cinta sama sekali."


"Jaman sudah modern, masih saja menjodohkan seperti jaman Siti Nurbaya saja. Padahal dulu Ka Monic dan Ka Momoy juga memilih jodohnya sendiri."


Demikian gerutuan Monalisa di sela lamunannya.

__ADS_1


*********


__ADS_2