
Tak terasa pagi menjelang, Tara mengerjapkan matanya. Dia mengernyitkan alisnya heran sendiri, karena tidur di sofa.
"Hoam, kenapa aku tidur di sofa?" sejenak Tara mengingat kejadian semalam.
"Oh iya, semalam aku meminta di pijit oleh Mona. Ternyata pijatannya enak juga, sampai aku tertidur pulas.
"Males sekali aku untuk berangkat ke kantor, tapi aku kangen juga dengan Cantika. Apakah pagi ini sudah mulai berangkat ya," Tara tersenyum sendiri.
Tara bangkit dari duduknya, dia lekas ke toilet kamar mandi untuk melakukan ritual mandi paginya.
Setelah selesai dengan acara mandinya, Tara melangkah ke ruang makan untuk sarapan pagi.
"Bi, Dita sudah bangun belum?" tanya Tara pada bibi yang sedang menyajikan makan untuk Tara.
"Sepertinya masih tidur, Tuan." Jawab bibi singkat.
Setelah beberapa menit sarapan, Tara lekas berangkat ke kantor hanya ingin bertemu dengan Cantika. Padahal hari ini, Cantika belum juga berangkat ke kantor karena sibuk mengurus kepindahannya dan bapaknya.
Senyum tawa renyah Tara keluar dari bibir Tara saat sampai di kantor. Satu tujuan utama melangkah ke ruang kerja Cantika. Namun lagi-lagi ruangan Cantika kosong.
__ADS_1
"Sial, katanya dia mulai hari ini berangkat ke kantor! tapi kenapa tidak datang juga? awas kamu ya Cantika, terus saja mempermaikan hatiku ini. Aku pastikan secepatnya kamu akan terjebak dalam pelukanku. Dan pada saat itu tiba, kamu akan menuruti semua kemauanku!" gerutu Tara mendengus kesal saat tak mendapati adanya Cantika.
Tara memutuskan untuk kembali ke rumah saja, karena sudah tidak semangat untuk bekerja.
Tak berapa lama, Tara telah sampai di rumah. Dia mendapati Tia sudah ada di rumah sedang memberi ASI pada Dita.
"Mas, kamu nggak jadi bekerja?" tanya Laras di sela memberikan ASI pada Dita.
"Aku lagi males ke kantor, ingin istirahat di rumah. Bagaimana kondisi ibumu, apakah sudah sadarkan diri? kalau sudah, sebaiknya di rawat di rumah saja supaya kamu tidak meninggalkan kewajibanmu sebagai seorang istri," saran Tara seraya merebahkan badannya di pembaringan.
"Aku juga sudah berniat seperti itu, tapi sampai detik ini ibu belum juga sadarkan diri," Tia menghela napas panjang seraya menatap Tara yang sudah tertidur pulas.
Setelah selesai memberi ASI pada Dita, Tia memberikannya pada Mona. Dan dirinya segera berangkat kembali ke rumah sakit.
"Mona, Dita sudah tidur. Aku juga sudah menyediakan ASI di frezer. Jika Tuan tanya, bilang saja sedang ke rumah sakit kembali," pesan Tia pada Mona.
"Baiklah, Nyonya." Jawab singkat Mona.
Tia melangkah pergi meninggalkan rumah dan memesan taxi on line menuju ke rumah sakit kembali.
__ADS_1
Seperginya Tia, tak berapa lama kemudian Tara terbangun. Tara bangkit dan berjalan menuju ke kamar baby Dita di mana sedang ada Mona.
"Mona, apa kamu melihat Nyonya?" tanya Tara mengernyitkan alisnya.
"Barusan Nyonya berpesan, jika Tian mencarinya, dia saat ini sedang berada di rumah sakit, Tuan." Jawab Mona singkat.
"Mona, tolong kerikin aku. Badanku terasa nggak karuan, biasa istri yang mengurusku. Tapi dia dari kemarin sibuk dengan ibunya yang sakit," Tara menatap memohon pada Mona.
Hingga akhirnya Mona bersedia melakukan apa yang di perintahkan oleh Tara.
"Di sini saja ya, Tuan?" pinta Mona.
"Baiklah, dimanapun itu aku bersedia." Tatq menyunggingkan senyum.
Tara membuka bajunya di depan Mona, sempat Mona memalingkan mukanya. Membuat Tara yang melihatnya terkekeh.
"Kamu kenapa, Mona? memangnya sebelumnya kamu belum pernah melihat pria tak memakai baju?" Tara menggoda Mona.
Mona hanya menggelengkan kepala seraya tertunduk malu.
__ADS_1
********