
Setelah pernikahan, Yogi memutuskan tinggal di rumah Intan. Namun dia akan tetap melanjutkan usaha kiosnya di pasar.
"Bapak sama ibu mau honeymoon dimana?" canda Atin terkekeh.
"Atin, suka sekali kalau ngeledekin bapak," Yogi mengerucutkan bibirnya seraya menatap Atin.
"Kami sudah tua, Atin. Tak perlu honeymoon," sela Bu Mita.
Setelah acara syukuran pernikahan telah selesai, semua anggota keluarga berkumpul di teras halaman. Hanya Laras yang menyendiri di dalam kamar, sedangkan Risky ikut berkumpul pula di teras halaman.
Semua bercanda ria termasuk Keano dan Kevin. Hinhga menjelang maghrib barulah semua masuk rumah. Keano dan Kevin berpamitan pulang.
Waktu bergulir begitu cepatnya, tak terasa telah menjelang malam. Semua istirahat di kamarnya masing-masing.
Saat Yogi dan Mita sudah ada di kamar, Yogi memberanikan diri bertanya tentang Intan dan Laras. Karena ada suatu hal yang masih mengganggu pikirannya.
"Bu, sebenarnya bagaimana kondisi rumah tangga Intan dan Laras? pada saat itu aku bertanya pada mereka tapi tidak ada satupun yang menjawab," tanya Yogi penasaran.
Sejenak Mita terdiam, dia menghela napas panjang. Tak lama kemudian dia mulai bercerita. Awal mula dia bercerita tentang Intan.
"Intan awalnya menikah dengan Reno, namun dia di hianati. Suaminya selingkuh dan menikah siri dengan wanita yang tadinya adalah bos dari Reno."
"Saat Intan melahirkan Laras, dia langsung di talak oleh Reno, serta Laras di bawa pergi oleh Reno dan istri barunya."
"Intan bertemu dengan Laras belum lama. Intan menikah lagi beberapa tahun lalu tapi hanya sebatas menikah siri."
"Saat itu suami sirinya selalu saja berkilah pada saat Intan meminta di nikahi resmi. Dan pada akhirnya kebenaran terbongkar, ternyata suamu Intan adalah suami resmi Laras. Tapi Laras tidak mengetahui akan hal ini."
"Hanya Intan yang mengerahui semuanya, makanya dia langsung mengurus perpisahan dengan Tara."
Demikian Bu Mita bercerita panjang lebar pada Pak Yogi. Namun masih ada yang membuat Pak Yogi penasaran, hingga dia bertanya kembali pada Bu Mita.
"Bu, kalau Laras tidak mengetahui jika Tara pernah menikah siri dengan Intan. Lalu kenapa Laras sampai sekarang murung?" tanya Pak Yogi penasaran.
"Laras mengetahui Tara selingkuh dengan wanita lain, tapi dia enggan berpisah karena masih sangat cinta pada Tara. Dia murung karena sejak dia di sini, Tara sama sekali tak menghubunginya," Bu Mita menjelaskan secara detail.
__ADS_1
"Rumit juga kehidupan Intan dan Laras ya, bu? kasihan juga mereka berdua menjadi korban pria yang sama," Pak Yogi menghela napas panjang.
"Iya, pak. Sampai saat ini Intan selalu khawatir, bagaimana kalau kelak Laras tahu tentang hal ini. Bapak jangan bongkar hal ini ya, pak. Karena baru saja bersama setelah dari bayi berpisah. Ibu yakin, jika Laras mengetahui akan hal ini, dia pasti akan membenci Intan. Walaupun Intan juga cuma korban dari Tara," pinta Bu Mita panjang lebar.
Setelah percakapan yang begitu lama, akhirnya Bu Mita dan Pak Yogi tertidur pulas.
Berbeda dengan Atin yang tak bisa memejamkan matanya, hingga dia iseng mengaktifkan kembali nomor ponsel satunya.
Banyak sekali notifikasi chat pesan dan panggilan telpon dari Tara.
"Hem, dasar buaya darat! mau menjadikanku korban selanjutnya! enak saja, justru aku yang akan membuatmu merana selamanya karena aku akan membalaskan semua sakit hati adik dan ponakanku!" gerutu Atin seraya menon aktifkan kembali nomor ponsel tersebut.
Atin terus saja memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk memberi pelajaran pada Tara.
Hingga tak terasa pagi menjelang. Atin dan Yogi berencana ke rumah untuk sekedar mengemasi semua pakaiannya.
Berbeda dengan Laras, dia memutuskan untuk pulang ke rumah menjernihkan permasalahannya dengan Tara. Dia meminta ijin pada Intan terlebih dulu.
"Bu, aku mau minta ijin," ucap Laras tertunduk lesu.
"Aku mau pulang, bu. Karena jika seperti ini terus, permasalahanku dengan Mas Tara tidak akan ada ujung pangkalnya," jawab Laras sekenanya.
"Apa sebaiknya kamu tidak sendiri? tunggu bude pulang, biar dia yang menemanimu?" pinta Intan memberikan sebuah usul.
"Bu, ini kan permasalahanku. Aku nggak ingin orang lain turut campur," ucap Laras sekenanya.
"Bude bukan orang lain, Laras. Dia itu kakak kandung ibu. Apa sebaiknya kamu dengan papimu saja?" Intan memberikan sarannya kembali.
"Nggak, bu. Biar aku pergi sendiri saja tolong ijinkan ya, bu." Laras menatap sendu Intan.
Hingga akhirnya Intan mengijinkan Laras untuk menemui Tara.
"Baiklah, nak. Kalau begitu ibu ijinkan, asalkan dengan satu syarat yakni kamu di antar oleh sopir pribadi, ibu." Ucap Intan mengusap surai hitam Laras.
"Baiklah, bu. Kalau begitu aku siap-siap dulu ya." Laras melangkah menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Dia lekas mengemasi barang-barang yang di perlukan untuk di bawanya ke rumah Tara. Setelah semua siap, Laras membawa serta Risky.
Tak lupa dia berpamitan dengan Intan dan Bu Mita. Segera Laras membawa Risky masuk ke dalam mobil. Segeralah mobil di lajukan oleh sopir pribadi Intan.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam lamanya, sampailah Laras dan Risky di rumah megah dan mewah.
"Pintunya di kunci, kemana Mas Tara? apa mungkin sedang di kantornya?" Laras meraba isi tasnya mencari jepit kecil hitam.
Dia membuka gemboknya dengan menggunakan jepitan tersebut. Dan terbukalah pintunya.
Laras mencari keberadaan sepasang suami istri asisten rumah tangganya. Dan menanyakan keberadaan Tara.
"Bi, Mamang. Bapak nggak pernah pulangkah?" tanya Laras menyelidik.
"Sejak ibu pergi, bapak jarang sekali pulang," jawab si bibi.
"Bibi apa Mamang, punya nomor ponsel bapak yang baru nggak?" tanya Laras menyelidik.
"Ada, bu. Sebentar saya mengambil ponsel saya dulu." Bibi berlari kecil menuju ke paviliun belakang mengambil ponselnya.
Tak berapa lama, bibi menunjukkan nomor ponsel milik Tara yang ada di ponselnya.
"Mas Tara, aneh orangnya. Nomor ponsel ganti saja, dia nggak mau menghubungiku. Apakah Mas Tara memang sudah tak cinta lagi padaku?" gerutu Laras di dalam hati.
Setelah mendapatkan nomor ponsel Tara, Laras tidak langsung menelpon Tara. Dia ingin istirahat sejenak melepas lelah karena telah menempuh perjalanan lumayan jauh.
Kebetulan Risky juga telah tertidur pulas, Laras membaringkan Risky di sofa. Karena Laras sempat melihat ke kamar, sprei telah kotor namun belum di ganti.
"Bi, tolong jagain Risky sebentar. Aku ingin mengganti spre yang di kamar." Perintah Laras pada Bibi.
"Baik bu." Si bibi duduk bersimpuh di lantai samping sofa dimana Risky tidur.
Sementara Laras melangkah ke kamar, dia tidak pernah memerintah bibi untuk mengganti spre kamar. Dia sudah terbiasa menggantinya sendiri.
****************
__ADS_1