Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Tara Cemburu


__ADS_3

Keano papahnya Kevin, merasa ikut senang melihat keceriaan Kevin.


"Alhamdulilah, akhirnya aku bisa melihat senyum Kevin lagi. Sudah lama Kevin selalu murung sejak meninggalnya almarhumah mamahnya," batin Keano.


"Di sini juga ada nomor ponsel kok, mah. Biar Kevin yang pilihkan nomor ponsel yang cantik ya, mah?" Kevin antusias memilih dua nomor ponsel yang cantik.


Intan dan Kevin seru-seruan memilih nomor ponsel. Sesekali mereka bercanda ria. Dan tiba-tiba perut Intan berbunyi karena lapar.


"Hayoo, mamah pasti lapar ya?" goda Kevin terkekeh.


Intan tersipu malu, namun dia mencoba menutupi rasa malunya.


"Si dede yang di perut yang ingin makan," Intan berucap seraya mengusap perutnya.


"Wah, Kevin senang dech. Sebentar lagi mau punya adik, ya walaupun bukan adik kandung. Tapi Kevin akan anggap dia adik Kevin. Karena Mamah Intan sudah bersedia menjadi Mamah Kevin." Tiba-tiba Kevin mengusap perut Intan.


"Mah, kita makan yuk. Nggak usah jauh-jauh, itu depan galeri ada tempat makan. Yuk, pah. Ikut sekalian makan siang bareng kita." Kevin menuntun tangan Keano dan Intan.


Kevin nggak peduli, jika para karyawan berbisik-bisik membicarakannya.


Mereka bertiga makan, dan Intan tanpa merasa malu tambah porsi makan. Sesekali bercanda dengan Kevin.


"Kevin, kalau ingin ketemu mamah. Datang saja ke restoran ya, karena mamah sebenarnya nggak boleh terlalu cape. Tapi ponsel mamah hilang jadi mamah kelayaban untuk membelinya," Intan menggenggam jemari Kevin.


"Siap, mah. Ini kan ada satu resto yang di sekitar mall di sini ya, padahal Kevin sering loh ke restoran ini. Ternyata milik Mamah Intan," Kevin berkata seraya menyantap makanannya


Sedangkan Keano hanya menjadi pendengar setia dengan sesekali mencuri pandang pada Intan.


"Sayang, dia sudah bersuami dan sedang hamil. Jika tidak, pasti sudah aku dekati dia," batin Keano seraya menghela napas panjang.


**********


Sejak pertemuannya dengan Kevin saat itu, Intan lebih sering berada di restoran dekat mall. Karena biar dia setiap hari bertemu dengan Kevin.

__ADS_1


Hari-hari Intan lebih bahagia sejak berkenalan dengan Kevin. Dia sudah menganggapnya seperti anak sendiri.


Intan bahkan bisa melupakan permasalahan dengan Tara, sejak ada Kevin. Tak terasa perkenalannya dengan Keano dan Kevin sudah terjalin lama. Dan kini usia kandungannya sudah memasuki umur enam bulan.


"Sayang, aku senang dech melihatmu. Beberapa bulan terakhir hingga kini, aku lihat kamu lebih bahagia dan ceria," Tara menyunggingkan senyum.


Intan tak meresponnya, dia hanya diam saja. Dan segera berangkat ke restoran untuk menyiapkan sarapan buat Kevin. Karena hampir setiap hari, dari sarapan hingga makan sore, Kevin selalu ke restoran.


Karena kebetulan jarak rumah ke restoran nggak terlalu jauh. Hingga Kevin suka menghabiskan waktu di restoran.


Tara merasa curiga karena tiap hari, bahkan pagi sekali. Intan sudah pergi ke restoran.


"Dia terlihat lebih ceria, tapi tidak denganku. Dia masih saja diam padaku, apa dia menyimpan sesuatu? biasa dia protes jika aku terlalu lama di rumah Laras, tapi kenapa sekarang tidak?" Tara bertanya-tanya dalam hati.


"Sebaiknya aku ikuti saja dia ke restorannya, mungkin saja aku bisa mencari tahu apa yang menyebabkan selalu ceria tapi tidak dengan diriku, dia tetap bersikap jutek." Tara mengikuti laju mobil Intan.


Tak berapa lama, dia telah sampai di restoran. Begitu pula dengan Tara. Tara begitu kaget saat melihat seorang anak muda berusia ABG menyalami Intan di depan pintu masuk restoran. Di sebelah pemuda ABG seorang pria yang sangat tampan melebihi ketampanan Reno maupun Tara.


Perlahan api cemburu mulai datang di hati Tara.


Hati Tara merasa panas, saat melihat Intan selalu saja tersenyum dan bahkan tertawa saat bersama Kevin dan Keano.


Intan menuangkan sarapan di piring Kevin dan Keano. Suasna seperti itu membuat Tara tak bisa lagi menahan cemburu.


Perlahan tapi pasti, Tara menghampiri meja di mana ada Intan, Kevin, dan juga Keano. Tiba-tiba Tara menyambar semua piring yang ada di meja dan melempar semuanya ke lantai hingga pecah semua piring dan semua makanan berantakan.


Intan, Kevin, dan Keano terhenyak kaget dengan kedatangan Tara yang tiba-tiba membuat gaduh. Ketiga langsung berdiri menatap sinis pada Tara, terutama Intan.


"Apa sih maumu?" Intan melotot pada Tara seraya berkata lantang.


"Justru aku yang harusnya bertanya padamu seperti itu! apa maumu, atau kamu ingin membalaskan sakit hatimu padaku? kamu selingkuh dengan pria lain? pantas saja beberapa bulan ini kamu selali ceria, dan cuek padaku!" Tara berkata macam-macam.


"Oh, jadi anda suami dari Intan? kalau bicara jangan sembarangan, saya dan Intan tidak ada hubungan yang serius." Keano merasa geram mendengar tuduhan Tara.

__ADS_1


"Halah, mana ada maling ngaku!" Tara menyeringai licik.


"Jaga ucapanmu, dia ini temanmu!" Intan melotot pada Tara.


"Teman tapi mesra kan? jangan-jangan, anak yang kamu kandung juga tidak sepenuhnya anakku," sindir Tara ketus.


"Plak plak" dua tamparan mendarat di pipi Tara.


"Tega kamu ya, menuduhku? setelah apa yang kamu lakukan padaku? harusnya kamu koreksi diri, dan ngaca sana! seperti apa perbuatanmu padaku!"


"Selama ini aku menahan rasa sakit, yang kamu toreh setiap harinya! aku bisa bertahan karena adanya anak ini! jika aku sedang tidak hamil, aku sudah pisah darimu jauh-jauh hari."


"Aku sudah nggak kuat, melihatmu mendua. Kamu selalu berbohong padaku, kamu bilang akan lebih perhatian padaku karena aku sedang hamil."


"Tapi kamu selalu menghabiskan waktumu bersamanya."


Tak teras bulir bening keluar dari mata Intan. Dia sudah tak sanggup menahan rasa sakit di hatinya.


"Justru sejak aku kenal anak ini, aku bisa tersenyum lagi. Dan aku bisa sedikit melupakan rasa sakit yang kamu toreh padaku!" Intan menunjuk pada Kevin.


"Jahat kamu! mengatakan hal yang sama sekali tak pernah aku lakukan! kamu menuduhku berbuat zina dengannya?" Intan semakin terisak dalam tangisnya.


Tiba- tiba Kevin memeluk Intan, untuk menenangkannya.


"Mah, sudahlah. Jangan menangis dan jangan bersedih lagi, kasihan si dede byi nanti ikut sedih," Kevin mengusap surai hitam Intan.


"Heh, bocah tengil! lepaskan pelukanmu dari istriku!" Tara menarik paksa tubuh Kevin yang sedang memeluk Intan.


Kevin emosi dan tiba-tiba melayangkan tinjunya ke perut Tara.


"Bug." Ini buatmu yang telah membuat Mamah Intan menangis.


Tara menjadi semakin emosi, dia akan membalas memukul Kevin. Namun dengan cepat tangannya di tahan oleh Keano.

__ADS_1


"Saya mohon maaf atas sikap anak saya. Harusnya kamu tak langsung emosi, tapi bicarakan dengan kami secara baik-baik. Dan jangan asal menuduh sembarangan, karena jatuhnya fitnah." Keano menasehati Tara.


********


__ADS_2