
Setelah merasa puas mengintip dan mendengarkan pembicaraan antara, Toro dan Tiara tidak ada yang mencurigakan, Toni beranjak pergi.
"Hem, aman. Dia cuma membicarakan masalah kerja sama. Tapi jika, Tiara menyanggupinya, pasti mereka akan sering bertemu. Aku kok khawatir mereka akhirnya jadi saling jatuh cinta ya?" batin Toni menjadi gelisah sejak mengetahui ada pemuda lain selain dirinya yang juga menyukai, Tiara. Apa lagi kini, Toni telah bertemu dengan pemuda tersebut.
"Aku juga harus mencari cara, supaya setiap hari juga bisa bertemu dengan, Tiara. Kira-kira aku harus apa ya?" sembari melangkah pergi dari toko kue, Tiara. Sembari, Toni memutar otaknya memikirkan cara tepat untuk bisa lebih dekat dengan, Tiara.
Sementara, Toro telah selesai urusannya dengan Tiara. Dia pun tak lama-lama berada di ruangan, Tiara.
" Sayang sekali, Tiara tidak langsung menerima tawaranku. Coba jika, Tiara langsung menerimanya pasti aku akan sangat merasa senang."
"Dengan begitu setiap harinya aku bisa bertemu dengannya. Kata pepatah jawa, witing tresno jalaran soko kulino ( datangnya cinta karena telah terbiasa )."
"Aku sangat berharap hal itu terjadi pula pada, Tiara. Sehingga dia bisa peka dengan perasaanku ini."
__ADS_1
Selama dalam perjalanan keluar dari tiko kue, Tiara. Toro terus saja menggerutu di dalam hati. Pada saat, Toro akan masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba pundaknya di tepuk oleh seseorang, Toro pun menoleh.
"Bukannya kamu tadi yang ada di ruangan, Tiara?" Toro menautkan alisnya.
"Iya, benar. Aku hanya ingin mengingatkanmu, supaya jangan terlalu dekat dengan, Tiara," pinta Toni lantang.
"Memangnya kenapa jika aku dekat dengannya? lagi pula dia itu single tak punya suami atau pun kekasih," Toro menautkan alisnya kembali.
"Perlu kamu tahu, jika Tiara itu calon pendampingku. Jadi anda harus tahu diri dan jaga jarak, karena aku tak suka kamu terlalu dekat bahkan akrab dengan, Tiara," kembali lagi Toni berkata dengan lantangnya.
"Nggak usah banyak omong, tingga turuti saja apa mauku," gertak Toni.
"Enak saja, memang kamu siapanya aku? ngatur seenaknya saja. Aku tahu jika kamu itu suka dengan, Tiara hingga begitu cemburunya anda saat melihatku bersama dengan, Tiara."
__ADS_1
"Jika anda memang laki-laki yang jentle, tak begini caranya. Mari kita bersaing secara jantan. Jangan bisanya mengancam dan memerintah orang dengan seenaknya saja."
Toro terus saja berkata lantang di hadapan, Toni. Mendengar hal itu, Toni menahan amrarahnya. Tapi Toni membenarkan semua yang di katakan oleh, Toro.
"Baiklah, kita akan bersaing secara jantan. Dan aku minta kamu jangan memakai cara yang licik," tukas Toni menyetujui saran, Toro.
Kini Tini tak lagi berkata lancang atau pun mengancam pada, Toro lagi. Dia kini menyadari apa yang barusan di lakukannya adalah suatu kesalahan.
"Baiklah, aku terima tantanganmu. Kita bersaing secara sehat dan jujur." tukas Toni.
Setelah mengucapkan akan hal itu, Toni berlalu pergi meninggalkan Toro tanpa pamit.
Sedangkan, Toro hanya bisa menghela napas panjang seraya menggelengkan kepalanya. Dia melanjutkan kembali masuk ke dalam mobilnya dan melajukannnya.
__ADS_1
Toro adalah seorang kepala strategi perusahan pertambangan minyak dan batu bara. Sedangkan Toni seorang direktur proyek pembangunan gedung-gedung bertingkat setara apartement dan perumahan elite. Status keduanya masih single.
******