Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Kebusukan Tara Terbongkar


__ADS_3

Setelah mendengar kata detektif, Keano menjadi penasaran dengan hasil Atin menjadi deteftif hari ini.


"Memangnya apa saja yang kamu lakukan saat menjadi detektif?" tanya Keano penasaran.


Atin meraih ponselnya yang ada dalam saku bajunya. Dia membuka ponselnya dan menunjukkan semua vidio yang dia dapat dari hasil mengintai Tara.


Sejenak Keano melihat semuanya, dan sekilas menyunggingkan senyumannya.


"Kerjamu bagus sekali, kamu memang pantas mendapat julukan detektif." Keano mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Atin.


"Tolong kamu kirim semua vidionya ke nomor ponselku sekarang juga." Pinta Keano seraya menyerahkan ponsel Atin padanya.


Atin menerima ponselnya dan dia langsing mengirim semua vidio ke nomor ponsel Keano. Setelah itu dia pamit pulang, karena khawatir bapaknya gelisah jika Atin tak kunjung pulang.


Atin melajukan motor maticnya arah jalan pulang. Dia sengaja mempercepat laju motornya, supaya lekas sampai rumah.


Tak berapa lama kemudian, sampailah Atin di rumah. Ternyata apa yang sedang di pikirkannya benar-benar terjadi. Bapaknya sedang mondar-mondir di teras rumah dan wajahnya sangat terlihat kepanikan.


Begitu melihat Atin, Yogi lekas menghampirinya.


"Alhamdulilah, bapak khawatir sekali denganmu. Takut terjadi sesuatu yang buruk padamu." Yogi mengusap dadanya sendiri seraya menghela napas panjang.


"Maaf ya, pak. Sudah membuat khawatir bapak. Tadi mampir dulu ke rumah teman, pak. Makanya aku ingin supaya bapak mempunyai ponsel, biar kita gampang komunikasinya. Tapi bapak selalu menolak, padahal ponsel mempermudah komunikasi. Apalagi bapak jualan, setiap kali banyak pelanggan kita yang pesan sayuran lewat ponselku," Atin menjelaskan betapa pentingny ponselnya.


Sejenak Yogi terdiam, seolah sedang mencerna apa yang telah di katakan oleh Atin.


"Benar juga apa yang kamu katakan, ya sudah bapak mau kalau kamu membelikan ponsel. Tapi apa bapak bisa menggunakannya?" Yogi sedikit ragu.


"Di jamin bapak bisa, nanti aku yang ajari bapak sampai bisa. Jangan khawatir, dan jangan pesimis dengan mengatakan tidak bisa." Atin memberi suport pada bapaknya.


"Ya sudah, sana mandi terus makan. Kebetulan bapak barusan buat nasi goreng sama goreng telor dan sosis," perintah Yogi.


"Ok boz, yuk kita masuk pak." Atin mengajak Yogi masuk ke dalam rumah.


Atin segera masuk ke dalam kamar dan lekas melakukan ritual mandi sorenya. Beberapa menit kemudian, Atin makan sore bersama dengan Yogi.


Sementara Laras terus saja gelisah karena tidak ada kabar dari Tara hingga sore hari.

__ADS_1


"Mas Tara, kemana sih? masa sampai sore begini belum juga pulang, tidak memberi kabar pula." Laras terus saja mencoba menelpon Tara seraya mendengus kesal.


Selagi terus saja menggerutu, ponsel Laras bergetar ada notifikasi chat pesan. Laras mengira itu adalah pesan dari Tara. Namun ternyata dari Intan.


Intan mengirim notifikasi chat pesan berupa beberapa vidio. Laraspun penasaran ingin tahu darimana Intan mendapatkan vidio tersebut. Laras segera menelpon Intan.


πŸ“±"Asalamu alaikum, bu."


πŸ“±"Walaikum salam wr wb, pasti kamu ingin bertanya mengenai beberapa vidio yang ibu kirim, kan?"


πŸ“±"Iya, ibu dapat dari mana vidionya?"


πŸ“±"Ibu sendiri yang menyaksikannya langsung, saat ibu selesai mengecek restoran ibu."


πŸ“±"Ibu, serius?"


πŸ“±"Sangat serius, nak. Ibu pikir, Tara bukanlah suami yang baik. Jika dia baik, nggak mungkin menguncimu di rumah. Itu dia lakukan supaya dia leluasa di luar sana bersama wanitanya."


πŸ“±"Ibu hanya ingin anak ibu tidak di sakiti dan di selingkuhi oleh suaminya. Jangan sampe masa lalu ibu, di rasakan juga olehmu."


πŸ“±"Seharusnya kamu peka dengan sikap suamimu. Kalau perlu kamu selidiki, ibu bersedia membantumu."


Setelah bercengkrama cukup lama di dalam panggilan telpon, sejenak Laras merenung semua yang di ucapkan oleh Intan.


"Sebenarnya apa yang ibu katakan ada benarnya, aku juga sudah cukup lama curiga dengan Mas Tara. Tapi aku memang masa bodoh dan tak ingin mencari tahu lebih lanjut," gerutu Laras.


"Oh iya, aku kan pernah di ajari papi cara membuka kunci tanpa kunci aslinya." Laras mencari jepit rambut kecil warna hitam.


Setelah ketemu dengan jepitnya, dia langsung membuka pintu gerbangnya dengan memasukkan jepit tersebut ke lubang kuncinya.


"Cekrek." bunyi gembok terbuka.


"Alhamdulilah, Ya Allah."


Laras langsung berlari ke dalam rumah hanya untuk mengambil tas slempang dan menggendong Risky. Laras sengaja tidak berpesan apapun pada sepsanga asisten rumah tangganya.


Dia lekas pesan taxi on line ke alamat rumah yang ada di vidio kiriman dari Intan. Hanya hitungan menit saja, laras telah sampai ke lokasi sebuah perumahan.

__ADS_1


Laras meminta sopir taxi mengantarnya ke depan perumahan nomor dua. Laras meminta mobil tersebut parkir di seberang perumahan nomor dua.


"Alhamdulilah, kamu tidur Risky. Sehingga memudahkan mami untuk menyelidiki papimu," batin Laras mengusap surai hitam Risky yang tertidur di pangkuannya.


Lima Menit..tidak ada hal yang mencurigakan..


Sepuluh menit..tidak ada hal yang mencurigakan..


Pada menit yang ke tiga puluh, barulah Laras shock, membola matanya, mulutnya terperangah.


Dia melihat Tara sedang mencium kening wanita muda yang menggendong bayi berumur dua bulan.


"Astaghfiruloh alazdim, ternyata ibu benar," batin Laras.


"Pak, saya titip anak saya dulu ya. Sebentar saja kok, saya mau ke rumah itu." Laras segera keluar dari mobil taxi tersebut.


Dia berlari kecil menghampiri Tara yang sedang bercanda riang dengan baby Dita.


"Mas Tara, ternyata seperti ini kelakuanmu di luaran? tega kamu ya, mas!" tak terasa keluar bulir bening dari mata Laras.


Tara terhenyak kaget saat melihat kedatangan Laras yang secara tiba-tiba. Tara tak bisa berkata apapun, wajahnya berubah menjadi pucat pasi.


"Aduh, kok Laras tahu aku ada di sini? darimana pula dia tahu? terus kenapa pula dia bisa keluar dari rumah, padahal pintu gerbang aku gembok dari luar," serentetan pertanyaan keluar di hati Tara.


"Mas Tara, kenapa kamu diam saja? siapa wanita ini?" Laras menghardik Tara seraya menunjuk ke arah Tia.


"Mba, yang siapa? saya ini istrinya dan ini anak kami," tiba-tiba Tia berkata.


"DUARRRRRR"


Bagaikan di sambar petir di sore hari, saat Laras mendengar penuturan dari Tia.


Dia sudah tak bisa menahan lara, dia berlari pergi dari hadapan Tara dan Tia. Laras langsung masuk ke dalam mobil taxi on line pesanannya.


Laras meminta sopir taxi mengantarnya ke rumah orang tuanya. Pikirannya kalut tidak karuan. Sejenak dia menelpon Intan dan bercerita semuanya.


Saat Laras berkata akan ke rumah orang tuanya, Intan melarangnya. Intan meminta Laras pulang ke rumahnya, supaya tidak bisa di jangkau oleh Tara.

__ADS_1


******


__ADS_2