
Tara mengajak pulang Tia, supaya dia dan ibunya lekas berkemas-kemas untuk pindah rumah.
"Sayang, kita pulang sekarang yuk? untuk kamu dan ibumu berkemas-kemas pindah ke rumah baru." Tara merangkul Tia membawanya melangkah menuju ke mobilnya.
Tara lekas melajukan mobilnya menuju ke rumah jelek milik Tia. Hanya beberapa menit saja, mereka telah sampai.
"Loh, kok kalian cepat sekali pulang?" Bu Ita mengernyitkan keningnya.
"Iya, bu. Kliennya nggak jadi datang, katanya tiba-tiba ada urusan keluarga yang tak bisa di wakilkan," jawab Tara sekenanya.
"Bu, sekarang juga ibu dan Tia kemasi barang kalian. Kita pindah ke rumah yang baru, karena aku telah menyiapkan rumah baru untuk kalian," pinta Tara.
Saat Bu Ita akan bertaya, Tia menggandeng tangannya melangkah masuk ke dalam kamar. Sehingga Bu Mita mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Tara. Dia menuruti Tia, dengan lekas mengemasi pakaiannya.
Tak berapa lama kemudian, Tia dan Bu Mita telah selesai mengemasi pakaiannya.
"Nak Tara, bagaimana dengan perabotnya?" tanya Bu Ita mengerutkan alisnya.
"Tinggal saja, bu. Karena di rumah baru sudah ada perabotan lengkap," jawab Tara sekenanya.
Mereka segera melangkah masuk ke dalam mobil Tara, dan Tara lekas melajukannya menuju rumah baru yang telah di sediakan untuk Tia dan ibunya.
Hanya beberapa menit saja, mereka telah sampai di sebuah rumah yang lumayan besar dan mewah. Akan tetapi tidak semewah rumah yang di tempati oleh Laras.
Baik Tia maupun Bu Ita terkesima saat melihat rumah baru yang akan di tempati oleh mereka.
"Dasar orang kampung, melihat rumah seperti ini saja, kagum dan heran," batin Tara mengejek Tia dan Bu Ita.
"Apa kalian suka?" tanya Tara pura-pura memastikan.
"Wah, sangat suka sekali. Terima kasih, Mas Tara," Tia sangat sumringah.
__ADS_1
"Terima kasih, Nak Tara. Ini sebuah anugerah buat kami yang selama ini tinggsl di gubug jelek," ucap Bu Ita seraya takjub melihat sekitar ruangan seraya menggendong Dita anak Tia.
Sementara di rumah Laras, dia sedang gelisah karena dari tengah malam hingga siang hari, Tara tak juga pulang. Di telpon nomor ponsel malah tidak aktif.
"Sebenarnya kemana sih, Mas Tara? pake acara menghilang saja," gerutu Laras terus saja mencoba menelpon nomor ponsel Tara, namun tetap saja tidak terhubung.
Laras berinisiatif pergi ke rumah orang tuanya, namun pintu gerbang di kunci oleh Tara sehingga dia tidak bisa keluar sama sekali.
Laras sangat kesal dengan ulah Tara yang semakin hari semakin keterlaluan padanya.
"Kenapa sih, Mas Tara pake acara mengunci pintu gerbangnya segala?" Laras mengalah kembali ke dalam rumah.
Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Laras untuk menelpon keluarganya. Pertama dia menelpon Intan untuk sejenak meluangkan rasa kangennya. Lalu dia menelpon Reno. Laras tak sungkan bercerita pada Tara tentang ulahnya yang pergi dari tengah malam hingga siang hari belum juga pulang.
Laras juga bercerita bagaimana pintu gerbang di kunci dari luar oleh Tara. Semua kelakuan Tara ini membuat Laras menjasu sedikit ada rasa curiga.
Berbeda suasana di kantor Tara, saat ini Atin menjadi heran dan tanda tanya dalam hati, kenapa pula Tara dan Tia tidak datang ke kantor?
"Aku yakin saat ini Tara dan Tia sedang bersama. Tia sama sekali tak mendengarkan apa yang aku katakan padanya. Dia malah masih saja menanggapi Tara," batin Atin menghela napas panjang.
Hingga sore menjelang, saat pulang dari kantor, Atin memutuskan untuk mengintai rumah Tia. Dia ingin tahu apakah benar jika saat ini Tia sedang bersama dengan Tara.
Atin melajukan motor maticnya ke arah rumah Tia. Tak berapa lama, sampailah dia di seberang rumah Tia. Dia terus saja memandango rumah Tia, dan berharap ada seseorang keluar dari rumah tersebut.
Namun sudah dua jam lamanya, Atin berada di seberang jalan tak juga ada seseorang yang keluar dari rumah tersebut.
"Apa aku sebaiknya tanya pada tetangga sekitarnya ya?" gerutunya seraya terus menatap ke arah rumah Tia.
Tak berapa lama, melintaslah sebuah mobil masuk pelataran rumah Tia. Sesaat keluarlah Tara dan Tia dari mobil tersebut. Mereka berdua masuk ke dalam gubug tersebut.
"Benar kan dugaanku, mereka jalan berdua." Atin mengabadikan moment itu ke dalsm vidio di ponselnya.
__ADS_1
Atin masih saja penasaran dengan apa yang selanjutnya akan mereka lalukan. Hingga Atin terus saja menunggu di balik pengintaiannya. Selang beberapa menit, Tara dan Tia telah keluar dari rumah gubug tersebut serata masuk ke dalam mobil dan kembali lagi Atin mengabadikan lewat rekaman vidio di ponselnya.
Tara melajukan mobilnya menuju ke rumah Tia yang baru. Atin masih saja penasaran, sehingga dia mengikuti arah laju mobil Tara.
"Bukannya ini arah ke perumahan elite?" batin Atin terus saja mengikuti laju mobil Tara.
Tak berapa lama, mobil masuk ke perumahan elite, dan masuk ke salah satu rumah mewah.
"Benar kan, Tara masuk ke perumahan elite?"batin Atin dengan kembali mengabadikan hal tersebut lewat vidio ponselnya.
Bahkan saat Tara dan Tia turunpun tak luput dari bidikan kamera Atin. Setelah Atin cukup puas dengan penyelidikannya, diapun lekas melajukan motor maticnya arah jalan pulang.
"Tia-tia, tergoda dengan rumah yang di berikan oleh Tara. Sehingga dia melupakan apa yang pernah Tara lakukan padanya." batin Atin seraya terus melajukan motor maticnya.
"Berita yang sangat bagus untuk Keanno.
"Lebih baik aku langsung ke rumah Keano untuk memperlihatkan bukti vidio ini. Jika aku tunjukkan lewat notifikasi chat pesan sepertinya kurang afdol." Atin mengurungkan niatnya untuk pulang, namun dia melajukan motornya ke rumah Keano.
Hanya beberapa menit saja, Atin telah sampai di ruma Keano. Dia langsung memencet bel pintu gerbang rumah Keano.
Sang bibi dari arah dalam rumah berlari kecil menuju ke pintu gerbang. Sejenak si bibi mengintip dari lubang kunci.
Setelah dia tahu siapa yang datang, bibi langsung membukakan pintu gerbangnya tanpa menunggu lama lagi
Atin langsung melajukan motor maticnya menuju pelataran rumah Keano. Dan memarkirkannya begitu saja. Dia langsung menjatuhkan pantatnya di sofa teras halaman rumah.
"Tumben kemari sorean, pasti belum mandi nech," goda Keano terkekeh.
"Sudah tahu ngomong, memang aku belum mandi. Demi membantu sahabat bestieku ini," ucap Atin serayae mengerucutkan bibirnya.
"Memangnya kamu habis darimana, apa nggak kerja?" tanya Keano penasaran.
__ADS_1
"Aku kerja, tapi saat tahu Tara dan Tia tidak masuk kerja, jiwa detektifku meronta," Atin terkekeh.
*****