
Reno semakin geram karena ejekan Tara, namun dia nggak ingin ceroboh. Dia sengaja datang, untuk meminta Tara menceraikan Laras.
Berbeda halnya dengan Tara, dia malah semakin senang saat Reno tak berkutik oleh perkataannya. Dia semakin semangat untuk membuat Reno semakin emosi.
"Kenapa, papi? kok diam saja, sadar diri kan jika semua yang aku katakan benar adanya?" Tara terkekeh.
"Makanya kalau ingin menegur orang, lihat dulu diri sendirinya seperti apa? sudah benar atau belum?" kembali lagi Tara mengejek Reno.
"Papi, aku hebat kan? mempunyai istri dua yang ternyata ibu dan anak. Aku yakin, sebentar lagi Intan akan kembali padaku, dan membatalkan niatnya menceraikanku," kembali lagi Tara terkekeh.
"Nggak usah bermimpi kamu, Intan nggak akan kembali lagi pada pria bermuka dua sepertimu! aku juga akan membuat Laras meminta pisah darimu, dengan begitu kamu tidak akan mendapatkan Intan maupun Laras. Aku akan membuat keduanya benci padamu!" gertak Reno melotot pada Tara.
"Papi, berharap Intan kembali pada papi. Makanya papi rela datang kemari demi Intan iya kan? Bagaimana cara papi membuat Laras membenciku? dengan mengatakan jika Intan adalah istri siriku? hhhaaaa, silahkan saja jika papi bisa. Paling yang ada Laras semakin membenci Intan karena mengetahui Intan adalah madunya," Tara terus saja menantang Reno.
"Aku rasa papi tidak akan mengatakan pada Laras tentang pernikahan siriku dengan Intan. Aku ingin melihat, seberapa hebat papi bisa memisahkan aku dengan Laras," Tara tersenyum sinis.
Reno mati kutu,dia tak bisa membalas perkataan Tara, hingga akhirnya dia berlalu pergi meninggalkan Tara.
"Hhhhhaaaa, mati kutu dech mertuaku," Tara terkekeh seraya menggelengkan kepalanya.
Sementara Reno terus saja berjalan menuju ke mobilnya dengan sangat kesal. Namun apa yang di katakan Tara ada benarnya, hinga dia tak bisa berkata.
"Bagaimana caraku untuk bisa memisahkan Laras dari Tara. Jika aku menceritakan hal yang sebenarnya pada Laras memang akan berhasil dan Laras bisa berpisah dengan Tara, akan tapi dia juga akan membenci Intan. Sementara mereka baru saja bertemu sebagai ibu dan anak. Masa iya, mereka berpisah lagi?" gerutunya seraya melajukan mobilnya.
Sejenak Reno menghentikan laju mobilnya untuk menelpon Intan dan menceritakan semua tentang pertemuannya pada Tara. Apa saja yang telah di katakan Tara padanya, di katakan pula oleh Reno pada Intan.
Setelah cukup lama bercengkrama dengan Intan lewat panggilan telpon, Reno melanjutkan kembali perjalanan pulangnya.
Sementara Intan sangat geram mendengar cerita dari Reno tentang apa saja yang di katakan oleh Tara.
__ADS_1
"Ya Allah, bagaimana caraku untuk bisa memisahkan Laras dari Tara. Karena Tara bukanlah pria yang baik."
"Tunjukan jalanMu Ya Allah, supaya aku bisa memisahkan Laras dari Tara. Namun tidak menceritakan aibku."
Demikian doa Intan di dalam hati memohon petunjuk dari Allah.
"Pasti sebentar lagi Tara akan menerotku, lebih baik aku ganti nomor ponselku saja. Supaya aku nyaman dan cepat menemukan cara jitu untuk bisa melepaskan Laras dari cengkraman Tara." Intan melepas nomor ponselnya dan mematahkannya serta membuangnya ke tong sampah.
Kebetulan di pondel Intan ada dua nomor ponsel, sehingga yang satu di buang, masih ada satu lagi, dan tak perlu membelinya lagi.
Apa yang di katakan Intan ternyata benar, Tara saat ini sedang kesal karena gagal menelpon Intan.
"Sialan, nomor ponsel Intan sudah tidak aktif! pasti Reno telah mengadu panjang lebar pada Intan!" gerutunya geram.
"Lihat saja, Intan! kamu menceraikanku, tapi aku tidak akan melepaskan Laras sampai kapanpun, bahkan aku akan membuat Laras menderita. Seperti apa yang aku rasakan karena ulah Intan. Aku masih sangat mencintainya, tapi dia malah pergi dari hidupku!" batin Tara geram seraya mengepalkan tinju dan menghela napas panjang.
Tara beralih menelpon Laras, dengan berbohong padanya. Jika saat ini dia sedang sakit, dan meminta Laras supaya lekas pulang.
"Bu, aku minta maaf. Aku nggak bisa terlalu lama di sini, barusan suamiku telpon jika saat ini dia sedang sakit." Pamit Laras pada Intan.
"Aku yakin, ini pasti cuma akal-akalan Tara saja untuk mengelabui Laras," bantin Intan geram.
"Baiklah, nak. Tapi ibu nggak bisa mengantarmu, sebaiknya kamu telpon papi untuk minta di antarkan. Satu hal, jangan katakan jika kamu dari rumah ibu. Karena ibu khawatir, kamu tidak di ijinkan bertemu dengan ibu," pinta Intan.
"Baiklah, bu. Aku sudah telpon papi kok, sebentar lagi dia datang kemari. Ibu jangan khawatir, aku nggak akan cerita pada suamiku jika telah bertemu dengan ibu," ucap Laras menyakinkan Intan.
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Reno telah sampai di halaman apartement Intan.
"Aku ingin tahu, dimana rumah Laras yang sekarang. Lihat saja Tara, aku akan membuat perhitungan denganmu," gerutu Reno di dalam hati.
__ADS_1
Tak berapa lama, Laras telah berada di dalam mobil Reno.
Selama dalam perjalana, baik Laras maupun Reno tidak berbicara sepatah katapun. Mereka berdua asik dengan lamunannya masing-masing.
Hingga tak terasa, setelah menempuh perjalanan beberapa jam. Mereka telah sampai di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah milik Tara.
"Papi, masuk dulu kan? biar aku buatkan minum?" pinta Laras.
"Nggak usah, nak. Sudah sore, nanti papi bisa kemalaman sampai rumah," tolak Reno halus pada Laras
Reno melajukan kembali mobilnya arah jalan pulang. Sedangkan Laras segera masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
"Pasti rumah mewah yang Tara beli memakai uang milik Intan. Karena dia tidak punya apa-apa, hanya numpang hidup saja." Gerutunya seraya melajukan mobilnya.
Dia tidak menyadari jika dia juga numpang hidup pada Saras. Dia tak memiliki harta apapun.
Sementara di dalam rumah, Tara telah berakting sakit. Entah menggunakan apa, sehingga tubuhnya bisa di buat seolah demam.
"Sayang, maaf ya aku nggak bisa menjemputmu. Kemarin aku menjemputmu, tapi kamu tidak ada di rumah papi. Aku tanya tetangga, kata mami piknik ke Bali. Dan kamu pergi sama papi. Memangnya kamu pergi kemana sama papi?" tanya Tara menyelidik.
"Aku sama papi cuma pergi ke taman sebentar kok, cuma menemani Risky bermain," jawab Laras berbohong.
"Kamu pulang dengan siapa, sayang?" tanya Tara kembali.
"Aku minta di antar oleh, papi." Jawab Laras sekenanya.
"Aduh, celaka! papi sudah tahu rumah ini, pasti suatu saat akan datang kemari," batin Tara panik dan gelisah.
"Mas, sejak kapan kamu demam seperti ini? sudahkah ke dokter?" Laras menempelkan punggung tangannya di kening Tara.
__ADS_1
"Bagaimana aku mau kedokter dengan kondisi seperti ini. Aku sakit karena merindukanmu, sayang." Rayu Tara mengedipkan matanya.
********