
Mata, Tara berkaca-kaca. Dia menyesali keegoisannya.
"Ya Allah, dulu aku menyia-nyiakan istri sebaik, Intan. Bahkan aku telah membodohinya, menjadikan dia madu dari anaknya sendiri."
"Jika dulu aku tak berbuat licik, nggak akan seperti ini jadinya. Hidupku hancur lebur tak punya apa pun sama sekali. Aku bahkan tak tahu mau kemana lagi, kaki ini melangkah?"
"Enggan rasanya jika aku harus kembali ke rumah. Tapi apa aku bisa bertahan hidup jika keluar dari rumah, Mona?"
Akhirnya, Tara memutuskan kembali ke rumah, Monalisa. Karena dia takkan bisa hidup di jalanan tanpa memeliki uang sepeser pun.
Satu jam berjalan kaki, akhirnya sampai juga di depan rumah. Akan tetapi saat, Tara akan masuk ke dalam rumah, pintu terkunci dari dalam.
Tara memencet bel rumahnya, tapi tak kunjung di bukakan oleh, Monalisa. Terus saja, Tara memencet bel hingga Monalisa merasa bising mendengar bunyi bel yang tak kunjung berhenti.
Niat hati ingin membiarkan, Tara di luar saja. Akhirnya, Monalisa mengurungkannya karena telinga merasa bising.
"Mas, apa nggak bisa pencet bel satu kali saja? anakmu sedang tidur menjadi kaget karenamu," tatap sinis dari Monalisa.
__ADS_1
"Jangan menyalahkanku, karena kamu yang terlalu lama tak membukakan pintunya." Tara nyelonong masuk begitu saja.
Monalisa mengikutinya dari belakang.
"Dari mana kamu, mas? sebelum pergi kamu mengacak-acak kamar, sana di beresin," pinta Monalisa sinis.
"Itu tugas seorang istri, bukan suami."
"Mas, aku sudah memutuskan untuk tak melanjutkan pernikahanku denganmu," tegas Monalisa.
"Tak perlu kamu bertanya ini itu, koreksilah dirimu sendiri. Mana ada seorang wanita yang mempunyai suami sepertimu, yang ada bisa hipertensi atau kurus kering," tukas Monalisa mencemooh.
"Tapi aku nggak akan menalakmu, Mona. Walaupun kamu berdikeras ingin bercerai dariku. Kamu jangan egois, Mona. Pikirkan masa depan, Marsya? masa dia hidup tanpa seorang ayah?" Tara mencoba membujuk, Monalisa.
"Justru jika kami masih bersamamu, tak ada masa depan cerah untuk, Marsya. Dengan kondisimu seperti ini, apa yang akan kamu berikan untuk masa depan, Marsya?"
Sejenak Tara terdiam, seolah sedang berpikir.
__ADS_1
"Maafkan aku, Mona. Aku janji akan berubah, tapi tolong jangan meminta cerai dariku. Mulai besok aku akan mencari pekerjaan, tapi aku pinjam motormu untuk transportasi dan sedikit uang untuk sekedar membeli bensin atau makan siang di jalan," tukas Tara meyakinkan, Monalisa.
"Baiklah, aku akan memberimu satu kali lagi kesempatan. Tapi awas, jika kamu tak berubah, tak perlu aku menunggumu menalakku, tapi aku yang akan menggugat cerai dirimu," ancam Monalisa ketus.
"Mona, apa kamu nggak bisa membujuk papahmu untuk menerimamu bekerja di kantornya?" Tara mencoba merayu, Monalisa.
"Ya sudah, besok kan aku libur kuliah. Pagi sebelum, papah berangkat kita kerumah untuk membicarakan tentang hal ini," tukas Monalisa.
"Sekarang beresi kamarnya karena kamu yang telah membuatnya berantakan. Aku lelah seharian mengurus anakmu, juga memikirkan kuliahku," pinta Monalisa.
"Baiklah, sayang. Tapi aku minta jatah ya? karena sudah lama kita tak bermain, aku rindu padamu," rayunya.
"Maaf, karena hari ini aku cape sekali. Lain waktu saja ya, Mas Tara,"Monalisa berlalu begitu saja.
Tara menahan rasa kesalnya pada Monalisa.
*****
__ADS_1