
Laras mengurungkan niatnya untuk langsung pulang. Dia malah berniat untuk sekalian menjenguk Intan.
"Assalamu Alaikum," Laras memberi salam sebelum masuk ruang rawat Intan.
"Walaikum sallam wr wb," jawab serentak Intan dan Bu Mita.
Keduanya menoleh ke arah pintu, dan keduanya sama terkejutnya melihat sosok Laras.
"Nak, kemarilah," Bu Mita melambaikan tangan pada Laras seraya tersenyum.
"Intan, dia yang sempat ibu ceritakan tadi padamu," Bu Mita menjelaskan pada Intan.
"Jadi saat ini Rizky sedang di rawat di rumah sakit ini juga? pasti saat ini Tara sedang menjaga anaknya," batin Intan.
Laras mendekat menghampiri Bu Mita dan Intan.
"Loh, ibu kok kenal sama Ibu Intan?" kata Laras mencairkan suasana.
"Jadi kalian sudah saling kenal? aku ini ibunya Intan," Bu Mita berkata seraya tersenyum pada Laras.
__ADS_1
"Oh, berarti aku harusnya memanggil ibu dengan sebutan nenek?" Laras mengernyitkan alisnya.
"Hhee, iya boleh saja. Kalau di lihat juga rupamu seumuran dengan cucuku yang saat ini tidak bisa kami gapai," kata Bu Mita seraya menghela napas panjang.
"Laras, kenapa kamu ada di sini?" Intan sengaja bertanya karena merasa penasaran.
"Anakku sakit, bu. Dan harus di rawat inap selama satu hari," jawab Laras sekenanya.
"Memangnya suamimu sudah datang, sehingga kamu bisa pergi?" tiba-tiba Bu Mita bertanya.
"Alhamdulillah sudah, nek. Makanya aku bisa bergerak dan niatnya akan pulang untuk mengambil pakaian anakku. Tapi tak sengaja aku malah melihat Bu Intan di sini, jadi aku ingin sekalian menjenguknya. Kami ini bersahabat sudah lumayan lama, iya kan, Bu Intan?" ucap Laras panjang lebar seraya tersenyum.
"Iya, bu." Jawab Intan singkat.
"Dunia ini bahkan sangat sempit, bu. Karena wanita muda yang ibu kenal adalah istri sah suamiku. Aku nggak bisa membayangkan bagaimana reaksi ibu jika suatu saat mengetahui akan hal ini," batin Intan seraya menghela napas panjang.
"Intan, kamu kenapa?" tiba-tiba Bu Mita mengagetkan lamunannya.
"Nggak apa-apa kok, bu." Intan mencoba tersenyum.
__ADS_1
"Bu Intan, kenapa bisa di rawat di sini? bagaimana kandungan, ibu?" tanya Laras seraya menatap sendu Intan dan mengusap lengan Intan.
"Kenapa aku tak bisa membenci Laras, padahal dia adalah istri Tara juga?" batin Intan.
"Kenapa setiap aku bertatapan dengannya, seraya aku dekat dengannya?" batinnya kembali.
Intan terus saja menatap Laras tak berkedip, membuat Laras heran.
"Bu Intan, apakah ibu baik-baik saja?" Laras mencoba bertanya kembali.
"Eh iya, maaf. Aku baik-baik saja, Laras. Hanya waktu itu aku terlalu cape jadi membuat perutku kram, dan dokter menyarankan untuk beberapa hari rawat inap di sini," jawab Intan menutupi rasa gugupnya.
"Bu, kenapa di saat ibu sakit seperti ini suami ibu tidak ada di sini? harusnya kan menjadi suami siaga, apa lagi ibu sedang hamil yang harus extra penjagaan. Maaf, bu, " Laras tiba-tiba berkata yang sedikit mengguncang hati Intan.
"Suaminya sudah kemari, tapi sedang keluar sebentar. Tapi biasa, suami Intan kalau bilangnya keluar sebentar tapi datangnya lagi entah jam berapa," tiba-tiba Bu Mita menyela.
"Oh begitu ya, nek. Ya sudah ya, Bu Intan. Aku buru-buru, jadi nggak bisa berlama-lama di sini. Lekas sembuh ya, bu. Assalamu alaikum." Laras pamit seraya menyalami Intan dan Bu Mita.
******
__ADS_1