
Mendengar hal itu, hati Reno semakin penasaran.
"Apakah pria itu suami siri Intan? tapi menurut Rendi, dia itu duda beranak satu. Apa duda ini juga menyukai Intan, aku harus selidiki hal ini," batin Reno antusias.
"Kenapa kamu bengong, pasti memikirkan, Tuan Keano. Iya kan? percuma kalau kamu ingin bersaing dengannya, karena dia pria yang sangat kaya juga ketampanannya tiada bandingnya jika di bangkan dengan kita," Reno mengernyitkan alisnya.
"Biarpun aku tidak sekaya dan setampan dia, tapi aku pernah ada di hatinya jadi lebih mudah untuk meluluhan hatinya kembali," Reno sangat yakin dengan dirinya sendiri.
"Seyakin itu? apa kamu telah lupa dengan apa yang telah kamu lakukan pada Intan? kamu memang pernah ada di hatinya, tapi kamu juga yang telah menoreh luka paling dalam di dalam hati Intan. Bukan lebih gampang, tapi lebih susah untukmu. Karena wanita jaman sekarang berprinsip, tidak akan jatuh ke lubang yang sama." Rendi mencoba menasehatinya.
Sejenak Reno terdiam tanpa ada sepatah katapun. Dia memikirkan apa yang barusan di katakan oleh Rendi memang ada benarnya. Dia kini tak yakin lagi dengan dirinya.
"Eh, bengong lagi? pasti memikirkan apa yang barusan aku katakan, iya kan?" Rendi menepuk bahu Reno yang sedang melamun.
"Huh, sok tahu dech." Reno mengerucutkan bibirnya.
Sementara saat ini Tara merasa kesepian karena tidak ada Laras dan Risky. Dia melamun sendiri di teras halaman. Selagi bengong, datanglah si bibi.
"Tara, mana uang yang kamu janjikan? tiga bulan kamu belum membayarku." Bibi menengadahkan tanganya seraya menatap sinis pada Tara.
"Bi, aku belum ada uangnya. Sabar sedikit kenapa?" Tara melirik sinis pada si bibi.
"Sabarku bukan sedikit lagi sudah sampai tiga bulan. Anak bibi yang di kampung butuh uang," Bibi berkata sinis pada Tara.
"Bibi butuh sekarang untuk kedua anak bibi. Dan untuk ongkos pulang kampung, karena bibi sudah nggak mau bekerja menipu istrimu lagi, kasihan dia," Bibi terus saja menengadahkan tangannya.
Tara bangkit dari duduknya, dia melangkah ke kamar mencari kotak perhiasan milik Laras. Dia menemukan sekotak perhiasan yang isinya masih komplit, dan dia bawa menemui bibi.
"Ini buat, bibi. Karena aku sedang tak punya uang sama sekali. Ini cukup untuk gaji bibi tiga bulan." Tara menyerahkan sekotak perhiasan tersebut pada bibi.
Bibi menerimanya, dia membuka sekotak perhiasannya. Dia membelalakan matanya saat melihat isi kotak perhiasan tersebut. Ada gelang, kalung, cincin, dan anting. Masing-masing ada dua motif yang berbeda.
__ADS_1
"Ini serius untuk bibi semua?" bibi seakan tak percaya.
"Iya, bi. Katanya bibi juga mau pulang kampung kan? itu buat gaji bibi yang sempat nunggak tiga bulan sama buat ongkos pulang kampung," Tara menjelaskan panjang lebar.
"Terima kasih ya, Tara. Bibi ijin mau jual dulu ini perhiasan." Bibi pergi dari hadapan Tara seraya tersenyum sendiri.
"Memang semua wanita sama ya, kalau nggak uang ya perhiasan. Pasti langsung tersenyum nggak cerewet lagi. Hanya satu wanita yang berbeda yakni Intan. Bahkan aku sama sekali tak pernah menafkahi lahir. Setiap aku mendapat hasil dari kantor, aku katakan buat menambah modal supaya kantor semakin berkembang, padahal setiap bulan aku berikan pada Laras." Tara menggerutu sendiri seraya menatap kepergian bibi yang semakin jauh semakin tak terlihat.
Sejenak dia tersenyum sendiri, saat membayangkan Intan dan Laras tinggal dalam satu atap bersama sebagai istrinya.
"Jika Intan dan Laras bisa akur menjadi istriku dan tinggal satu atap, sepertinya aku sangat bahagia. Tapi sayangnya, saat ini Intan sudah bukan istriku lagi," gerutunya seraya tersenyum dan kemudian murung.
"Aku nggak bisa jika berlama-lama tanpa istri di sampingku, sebaiknya aku paksa Laras untuk pulang," batin Tara.
Dia beranjak bangkit dari duduknya, dan lekas langkah ke garasi untuk mengambil mobilnya. Lekas dia melajukannya ke arah rumsh mertuannya.
Perjalanan cukup lama, karena rumah mertuanya jauh berada di luar kota. Hingga butuh waktu beberapa jam barulah Tara sampai di pinti gerbang rumah mertuanya.
Namun Tara terkejut, saat mendapati rumah mertuanya sepi tak berpenghuni. Tara menanyakan keberadaan mertua dan istrinya pada tetangga dekat rumah mertuanya.
Hatinya di liputi oleh kekesalan yang teramat sangat.
"Huh, jauh-jauh aku samperin malah nggak ada. Haduh, cape doang hasilnya nol besar!" gerutunya seraya terus mengemudi dan sesekali memukul-mukul kemudinya dan sesekali mengacak-acak rambutnya.
Sementara di apartement sedang terjadi kesalah pahaman. Dimana Keano dan Kevin datang. Laras mengira jika Keano adalah suami siri dari Intan.
"Hey, om. Bisakah anda berbuat adil pada kedua istri anda? jangan cuma pada istri sah, tapi pada istri siri juga. Kasihan ibu, dia kurang perhatian dari anda. Jika anda tak bisa menafkahi dua istri, sebaiknya anda jangan memiliki dua istri," omelan Laras saat Keano dan Kevin datang.
"Maaf, anda siapa? kalau berucap yang benar!" Kevin langsung terbawa emosi.
"Saya anak dari Bu Intan, dari suaminya yang dulu." Jawab Laras dengan lantangnya.
__ADS_1
Sementara Keano hanya tersenyum sendiri melihat tingkah Laras yang telah salah paham padanya. Keano sengaja diam saja melihat tingkah Laras.
"Pah, kok papah diam saja sih? jawab dong?" Kevin mengerucutkan bibirnya.
Tak lama kemudian, keluarlah Intan. Kevin langsung saja menyalami Intan dan memeluknya.
"Mamah, sehat kan?" Kevin menyunggingkan senyum.
"Alhamdulilah sehat, sayang." Intan tersenyum seraya memgusap pipi Kevin.
Melihat Intan yang begitu lembut pada Kevin, Laras semakin kesal.
"Bu, kenapa masih saja bersikap manis dengan anak ini? padahal ibu sudah di sakiti oleh bapaknya!" Laras berkata lantang.
Intan yang mendengar ucapan dari Laras mengernyitkan alis tanda bingung.
"Laras, apa yang kamu katakan? Om Keano nggak pernah menyakiti ibu, justru dia dan Kevin selalu membantu ibu." Intan mencoba menjelaskan.
"Bagaimana dia nggak menyakiti ibu, bukankah dulu ibu pernah cerita tentang suami siri ibu?" Laras mengernyitkan alisnya.
"Iya, nak. Tapi Om Keano bukan suami siri ibu. Kamu telah salah paham, minta maaflah padanya." Pinta Intan pada Laras.
Sepontan wajah Laras memerah karena rasa malu. Dia perlahan menghampiri Keano seraya mengulurkan tangannya.
"Om, aku minta maaf sudah salah paham," ucapnya seraya tertunduk malu.
"Iya nggak apa-apa," Keano menerima uluran tangan Laras seraya menyunggingkan senyumnya.
"Minta maaf juga sama aku dong," Kevin mengerucutkan bibirnya menatap sinis pada Laras.
Laras menghampiri Kevin dan mengulurkan tangannya namun tak mengucapkan kata maaf sama sekali.
__ADS_1
"Minta maaf yang ikhlas donk, seperti pada papahku." Pinta Kevin.
********