Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Aksi Rindy CS


__ADS_3

Polisi tak menemukan sama sekali jejak para pelaku. Karena sama sekali tidak ada bukti yang kuat untuk menangkap dua pelaku perampokan tersebut.


Walaupun mereka bersusah payah mencoba mencari bukti-bukti, tapi tetap saja tak di temukannya bukti.


Sementara saat ini, Rindy terus saja mencari jalan untuk bisa masuk ke ruang rawat Reno tanpa di ketahui oleh pihak rumah sakit.


"Aku sudah menemukan dimana saat ini, Mas Reno telah di rawat. Tapi aku belum menemukan cara yang tepat untuk bisa masuk ke ruang rawat, Mas Reno," batin Rindy sedang mencari cara untuk bisa menyingkirkan Reno.


"Yes, aku telah menemukan cara yang jitu untuk menyingkirkan, Mas Reno. Aku butuh bantuan dua temanku," batin Rindy menyeringai sinis.


Segera Rindy membicarakan rencananya dengan dua temannya itu. Malam itu juga, Rindy melancarkan aksinya.


Dengan tak lupa menggunakan penyamaran, ketiganya menyelinap masuk ke rumah sakit.


Dua teman Rindy yang sangat gesit mencari sumber CCTV, dan merusak CCTV yang ada di sekitar ruang rawat Reno, juga yang ada di dalam ruang rawat Reno.


Ketiganya menyamar sebagai perawat, dengan memakai seragam perawat dan memakai masker serta sarung tangan.


Ketiganya menyamar sebagai perawat pria.


"Heh, siapa kalian? kenapa merusak CCTV nya?" Reno membelalakan matanya saat terjaga dari tidurnya.


Salah satu membekap mulut, Reno. Dan Rindy menyuntikkan sesuatu ke lengan Reno. Seketika itu juga, Reno tak sadarkan diri.


Setelah itu mereka bertiga lekas meninggalkan ruang rawat Reno. Kebetulan saat itu, Rendy sedang ada di dalam toilet dan air kran menyala sehingga dia tak mendengar terjadinya kegaduhan.


Rendy terhenyak kaget, pada saat melihat tubuh Reno kejang dan matanya melotot serta mulutnya mengekuarkan busa.

__ADS_1


"Astaghfiruloh alazdim, Reno!" Rendy berlari dan langsung memencet tombol darurat yang ada di atas kepala Reno repatnya di dinding.


Datanglah satu dokter dan dua perawat.


"Bagaimana hal ini bisa terjadi, Tuan? dokter mengernyirkan alisnya.


"Saya tidak tahu, dok. Tadi saya dari toilet, dan pada saat saya keluar toilet, pasien sudah seperti itu," tukas Rendy.


"Padahal kondisi pasien semula baik-baik saja," dokter masih belum percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Astaghfiruloh alazdim, suntikan apa ini?" dokter tak sengaja menemukan sebuah alat suntik yang tergeletak di samping tangan Reno.


Dokter meraihnya dengan mengalasi tangannya memakai sebuah tisu.


"Sepertinya ada yang ingin mencelakai, pasien," tukasnya.


"Tuan, tolong jaga pasien dengan benar. Supaya hal ini tidak terjadi lahi, sementara saya akan menyelidiki alat suntik ini. Untuk sementara saya memberi pasien suntikan bius supaya dia bisa sejenak istirahat sembari saya mengecek alat suntik ini," tukas sang dokter.


Dokter mengecek cairan tersebut dengan seksama. Hanya beberapa jam telah keluar hasilnya.


"Astaghforuloh alazdim, ada seseorang ingin mencelakai pasien," dokter menggelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang.


Dokter lekas kembali ke ruang rawat Reno dengan membawa obat penawar buat menangkal racun yang saat ini sedang menjalar di tubuh Reno.


Obat penawar tersebut di suntikan ke tubuh Reno.


"Tuan, anda harus benar-benar menjaga pasien. Karena barusan ada seseorang yang ingin mencelakainya."

__ADS_1


"Setelah saya memeriksa cairan yang ada di dalam alat suntik yang sempat tertinggal di sisi lengan pasien. Ternyata berisi cairan racun yang sangat mematikan."


"Racun ini bekerja secara perlahan di dalam tubuh pasien, dia bisa mengalami struk dan lama-lama badan melemah."


"Racun yang menyiksa tubuh secara perlahan-lahan."


Penjelasan dokter sangat mendetail pada Rendy. Sejenak Rendy terdiam merasa tak percaya.


"Bagaimana mungkin, aku tinggal ke toilet sebentar saja ada orang yang masuk dan ingin mencelakai, Reno?"


"Seharusnya jika ada orang yang masuk, aku bisa mendengarnya. Tapi tadi aku sama sekali tak mendengar apa pun?"


Batin Rendy masih saja di liputi oleh rasa penuh tanda tanya. Dia masih saja belum percaya dengan apa yang menimpa, Reno. Dia merasa sangat bersalah, karena teledorannya dalam menjaga, Reno. Asa orang yang ingin mencelakainya.


"Ya Allah, kasihan sekali Reno. Aku harus mengatakan apa pada anak, Reno? tentang kejadian ini, pastinya dia akan menyalahkanku," batin Rendy.


"Sebaiknya aku tanyakan dulu apakah kondisi Reno baik-baik saja, ataukah..


"Dok, bagaimana kondisi pasien untuk saat ini? apakah racun itu berbahaya padanya?" Reno menatap sendu pada sang dokter.


"Kita lihat besok pagi, Tuan. Jika racun belum menjalar ke tubuh pasien, pasti besok akan baik-baik saja."


"Saya sudah berusaha memberi suntikan pencegahan supaya racun itu tidak menyebar ke seluruh tubuh."


"Tapi pasien sempat dua jam tak mendapatkan suntikan penangkal, saya khawatir racun telah menyebar terlebih dulu ke seluruh anggota tubuh."


Dokter kembali lagi menjelaskan secara detail pada Rendy.

__ADS_1


"Ya Allah, semoga kemujizatan terjadi dalam tubuh, Reno. Racunnya belum sempat menyebar," batin Rendy.


******


__ADS_2