
Intan paham dengan ponselnya sendiri. Sejenak dia mengamati ponsel Laras.
"Nak, kamu dapat dari mana ponsel ini?" Intan mencoba menyelidik.
"Di beri oleh suamiku, bu. Pada saat itu ponselku hilang, dan tak lama kemudian suamiku memberinya," Laras menyunggingkan senyum.
"Berarti ponselku dan ponsel Laras, di manipulasi oleh Tara. Benar-benar licik dia, melakukan segala cara supaya kebohongannya tidak terbongkar," batinnya menahan geram.
Laras merasa penasaran mengapa Intan sesekali melamun.
"Bu, sebenarnya apa yang merisaukan hati ibu? apakah suami ibu?" Laras mencoba menyelidik seraya menatap Intan yang pandangan matanya entah menerawang kemana.
Laras sejenak ingat akan curhatan Intan waktu dulu mereka masih dekat.
"Aku yakin, semua ini pasti karena suaminya yang telah menipunya. Awas saja ya kamu, jika aku bertemu akan aku pukul habis-habisan memakai sapu!" batin Laras kesal seraya terus menatap Intan.
Reno juga merasa heran pada Intan, kenapa pertemuannya dengan Laras tidak membuatnya bahagia, tapi malah terus saja melamun seperti ada yang merisaukan hatinya.
"Laras, apa sebaiknya kita pulang saja. Lihatlah ibumu, sepertinya dia sedang banyak pikiran dan butuh istirahat." Reno berbisik pada Laras.
"Tapi, pi. Aku masih sangat merindunya, aku tahu permasalahannya, pi. Lain waktu aku akan cerita pada, papi." Laras membalas bisikan Reno.
Sejenak Intan barulah sadar dari lamunannya, saat Bu Mita datang membawa baby Intan yang menangis meminta ASI.
"Nak, sepertinya bayimu haus. Berilah dia ASI supaya tidak menangis lagi." Bu Mita meletakkan babynya di pangkuan Intan.
Bu Mita duduk di samping Intan, seraya mengusap bahunya.
"Nak, jangan terlalu banyak pikiran. Fokuslah merawat anakmu ini. Percayalah Allah pasti akan menolongmu, menyelesaikan permasalahanmu yang sangat rumit ini," Bu Mita mencoba memberikan suport pada anak semata wayangnya.
"Iya, bu." Intan mencoba menahan air matanya supaya tidak tertumpah.
"Mas Reno, Laras. Aku kekamar dulu sebentar, karena akan memberi ASI anakku." Intan mencoba tersenyum si hadapan Reno dan Laras, seraya dia beralih dari duduknya melangkah ke kamarnya.
__ADS_1
Bu Mita juga masuk ke dalam untuk kembali menemani Risky bermain. Semenrara Laras mulai bercerita namun secara berbisik pada Reno.
Laras bercerita tentang curhatan Intan tempo dulu, dimana Intan mempunyai teman baru. Dan hubungannya dengan teman barunya sangat akrab.
Tapi Intan harus menelan pil pahit, karena secara tidak sengaja, Intan mengetahui jika ternyata suaminya adalah suami sah dari temannya.
Sejenak Reno sangat fokus mendengar cerita Laras tentang kisah hidup Intan.
"Barusan kamu mengatakan jika suami ibumu adalah suami sah dari temannya? berarti ibumu itu hanya istri siri?" Reno bertanya untuk memastikannya.
"Iya, pi. Namun kata ibu, pada saat dulu mereka menikah siri, suaminya berkata masih lajang. Namun karena suatu hal dia baru bisa menikahi ibu secara siri. Namun berjalannya waktu, ibu meminta suaminya untuk menikahinya resmi, tapi kembali lagi suami ibu beralasan," Laras bercerita kembali.
"Pada saat setelah itu. Tak lama kemudian, ibu tahu jika suaminya telah beristri. Dan ternyata istri sahnya adalah teman baru ibu, makanya ibu ingin lekas berpisah dengannya, namun pada saat itu ibu dinyatakan hamil. Sehingga ibu tak bisa bercerai darinya," kembali lagi Laras melanjutkan ceritanya.
"Kasihan sekali ibumu, padahal dulu papi telah menyakitinya. Kini dia harus mengalami kesakitan kembali," Reno menggelengkan kepala seraya menghela napas panjang.
"Iya, pi. Pasti saat ini ibu sangat tertekan batinnya, dan dia sedang bingung, pi." Laras menimpali.
"Memangnya bingung kenapa?" Reno mengerutkan alisnya.
"Hem, begitu ya?"
Di satu sisi, Reno sedih mendengar kisah hidup mantan istrinya. Namun di sisi lain, dia senang, karena masih ada kesempatan untuk bisa meluluhkan hatinya kembali.
Reno sangat yakin, pasti saat ini Intan sedang mengurus perceraiannya dengan suaminya. Dan pada saat ini, dia akan mulai mencoba mendekati Intan untuk bisa mendapatkan hatinya kembali.
Sejenak setelah berbicara berdua antara ayah dan anak, datanglah Intan.
"Maaf, lumayan lama ya." Katanya seraya menyunggingkan senyum.
"Laras, apa kamu mau menginap di sini?" tiba-tiba Intan bertanya.
Sejenak Laras menatap Reno, seolah meminta persetujuaannya. Renopun mengijinkannya, apa lagi saat ini Saras sedang piknik bersama temsn sosialitanya.
__ADS_1
"Papi nggak melarang, kalau kamu ingin menginap di sini untuk beberapa hari," Reno menyunggingkan senyuman.
"Baiklah, bu. Tapi apakah nanti aku dan anakku tidak merepotkan ibu dan nenek?" ada keraguan di hati Laras.
"Nggak kok, ibu justru sangat senang jikalau kamu bisa menginap di sini. Tapi apa suamimu mengijinkan?" Intan pura-pura bertanya.
"Nggak kok bu, aku kan beberapa hari ini sedang tinggal di rumah papi. Jadi suamiku sama sekali nggak tahu jika aku kemari." Jawab Laras seraya menyunggingkan senyuman.
"Memangnya ibu tirimu tidak marah, dia kan sangat membenci ibu?" kembali lagi Intan bertanya.
"Mami, saat ini sedang piknik bersama teman sosialita ke Bali, berangkat tadi pagi," jawab Laras kembali.
"Kamu bisa mengenakan pakaian ibu. Sedangkan Risky, nanti ibu pesankan on line saja pada sahabat ibu yang bergerak di jual beli on line," saran Intan.
Setelah cukup lama di rumah Intan, Reno berpamitan pulang. Namun sebenarnya dia tidak pulang tapi menginap di apartement Rendi yang letaknya tepat samping apartement Intan.
"Bro, tumben kamu kemari lagi? hem, aku tahu nech. Pasti dari rumah Intan kan, dia sudah melahirkan," Rendy mulai menggoda Reno.
"Hem, mulai dech. Aku habis mempertemukan anakku dengan Intan. Saat ini Laras sedang di rumah Intan," ucapnya seraya mengerucutkan bibirnya.
"Loh, bukannya yang aku katakan ada benarnya kalau kamu dari rumah Intan kan?" kembali lagi Rendi menggoda Reno seraya menaik turunkan alisnya.
"Aku mau menginap lagi di sini, untuk beberapa hari, boleh kan?" Reno meminta persetujuan dari Rendi.
"Hem, pake minta ijin segala. Seperti nggak pernah menginap di sini," Rendi melirik sinis pada Reno.
"Terima kasih, kamu memang temanku yang terbaik. Aku males kalau harus pulang dulu, bolak baliknya kan jauh." Reno menaik turunkan alisnya.
"Hem, alasan saja. Kamu kira aku tak mengerti apa yang sedang ada di pikiranmu?" cibir Reno.
Sejenak Reno teringat akan Keano dan Kevin. Dia pun memberanikan diri bertanya pada Rendi.
"Bro, pria tua dan anaknya. Masih suka ke rumah Intan, nggak??" Reno menatap menyelidik pada Rendi.
__ADS_1
"Sering, hampir tiap hari. Bahkan mereka bertempat tinggal tak jauh dari sini." Jawab Rendi sekenanya.
********