
Mendengar perkataan Reno, hati Intan sempat panas marah geram dan ingin sekali mencabik-cabik tubuh Reno dengan kuku-kuku panjangnya.
"Astagfiruloh alazdim, sabar Intan demi anakmu," batin Intan mencoba menenangkan diri sendiri.
"Mas, kenapa kamu menghakimi suamiku? apa kamu lupa dengan perilakumu sendiri? bagaimana kamu saaat aku sedang hamil? apa dulu kamu menjadi suami yang baik dan siaga?" perkataan Intan bak pisau yang telah menghunus ke jantung Reno.
Sesaat Reno mengingat semua masa lalu, dimana saat Intan hamil dia malah sibuk dengan Saras. Dia menikah siri tanpa sepengetahuan Intan. Dan pada saat Intan melahirkan, dia justru menalaknya pada saat itu juga. Di tambah dia mengambil Laras yang waktu itu baru di lahirkan oleh Intan.
"Ya Allah, betapa jahatnya dulu aku pada Intan. Penyesalan datangnya memang selalu terlambat, di saat nasi sudah menjadi bubur. Astaghfiruloh alazdim, ampunkan segala dosaku pada mantan istriku ya Allah," doa Reno di dalam hati.
Perlahan buliran bening keluar dari mata Reno. Dia sangat tertusuk oleh kata-kata Intan yang menyadarkan akan kesalahannya.
"Mas, mana fotonya? kok malah nangis, aku nggak butuh dengan air mata buayamu. Aku butuh foto Laras secepatnya, karena aku sedang sibuk tidak bisa berlama-lama di sini." Pinta Intan ketus.
Tanpa sepatah katapun Reno langsung melanjutkan kembali mengirim semua foto Laras. Dari bayi, balita, sekolah, dan foto-foto yang Reno kirim terakhir pada Intan membuatnya syok dan sampai tak sadarkan diri. Yakni foto-foto pernikahan Laras dan Tara.
"Astaghfiruloh alazdim, ternyata feeling aku selama ini ternyata benar. Laras yang selama ini dekat denganku yang menjadi istri sah suamiku adalah anak kandungku sendiri. Apa ini alasan Tara membuat makam kosong?" batin Intan sangat terpukul.
Air mata tercurah begitu derasnya, dia sangat syok mengetahui kenyataan jika istri sah dari suami sirinya adalah anak kandungnya sendiri.
Anak kandung yang setiap hari dia rindukan, dia inginkan. Dia hampir tak percaya, dia menjadi madu dari anak kandungnya sendiri.
Tiba-tiba badannya terasa lemas, dadanya terasa sesak. Kepalanya berdenyut sakit, pandangannya perlahan berkunang-kunang. Dan pada saat itu juga, Intan tak sadarkan diri.
Reno yang mendapati Intan tiba-tiba pingsan menjadi sangat panik. Dia lekas mengampiri Intan. Saat Reno akan berusaha menyadarkan Intan, Bu Mita datang.
"Reno, kamu apakan anakku hingga dia menjadi seperti ini!" Bu Mita memukuli punggung Reno.
"Aku tidak melakukan apapun padanya, hanya mengirim semua foto anaknya. Karena dia yang memintanya," Reno menjadi tambah panik.
"Awas kamu! menyingkirlah dari sisi anakku!" Bu Mita mengusir Reno.
"Tapi, bu. Aku ingin menolongnya," Reno tidak beranjak pergi, dia masih duduk terpaku di samping Intan yang masih belum sadarkan diri.
"Aku minta kamu pergi!" Bu Mita mengambi sapu dan memukulkannya pada punggung Reno.
__ADS_1
Hingga dengan sangat terpaksa, dia pergi meninggalkan apartement Intan. Sementara Bu Mita penasaran dengan apa yang di katakan Reno.
Dia ingin melihat foto yang di kirimkan Reno yang ada di ponsel Intan. Namun dia harus mengurus Intan dulu.
"Aku harus minta tolong siapa, oh iya Nak Keano. Kebetulan aku punya nomor ponselnya." Dia berlari kecil ke kamarnya untuk mengambil ponselnya.
Bu Mita lekas menelpon Keano untuk datang ke apartement.
π±"Assalamu alaikum, Nak Keano."
π±"Walaikum salam, bu. Bagaimana kabar ibu dan Intan. Kenapa Intan lama nggak datang ke restonya, Kevin selalu menanyakannya."
Bu Mita nggak menjawab pertanyaan dari Keano. Dia malah balik bertanya pada Keano.
π±"Nak Keano, sekarang posisi lagi ada dimana?"
Keano juga merasakan ada yang janggal pada Bu Mita, karena tidak menjawab pertanyaannya tapi malah bertanya.
"Ya Allah, sepertinya ada sesuatu yang terjadi," batin Keano gelisah.
π±"Alhamdulilah, kami juga sedang berada di kota B. Tolong ibu, Intan pingsan dan ibu tak tahu harus berbuat apa."
Sejenak Bu Mita memberi tahu letak apartement yang saat ini Intan tempati pada Keano.
"Ya Allah, lokasi apartement Intan tak jauh dari sini. Lebih baik aku kesana dulu," batin Keano.
"Maaf, Tuan Rendi. Saya ada perlu sebentar di sekitar perkebunan ini. Nanti saya kembali lagi." Keano berlari kecil ke arah mobilnya dan lekas melajukannya.
"Aneh itu orang, main nyelonong pergi saja setelah menerima telpon," batin Rendi mengernyitkan alis.
"Ah, lebih baik aku pulang dulu." Rendi melangkah me mobilnya dan melajukannya arah pulang.
Sementara Bu Mita penasaran ingin membuka ponsel Intan.
"Sambil menunggu Keano datang, sebaiknya aku cek ponsel Intan. Sebenarnya apa yang membuatnya menjadi seperti ini." Bu Mita meraih ponsel Intan.
__ADS_1
Bu Mita lekas membuka notifikasi chat pesan yang di kirim Reno pada ponsel Intan. Bu Mita membelalakan matanya saat melihat foto pengantin Tara dan Laras.
"Astaghfiruloh alazdim, ternyata wanita muda yang pernah aku temui di rumah sakit adalah istri sah Tara?"
"Berarti selama ini Intan mengetahui jika dia adalah istri sah Tara. Dan Intan tak menyangka istri sah Tara adalah anak kandung Intan."
Bu Mita ikut lemas, namun dia mencoba kuat. Dia hanya bisa menitikkan air mata, melihat nasib anak semata wayangnya.
Tak berapa lama kemudian datanglah Keano, Mang Jajang sudah di beritahu oleh Bu Mita. Sehingga lekas membuka lebar-lebar pintu gerbangnya supaya Keano bisa membawa masuk mobilnya sekalian.
Keano lekas turun dari mobilnya, dan berlari kecil masuk ruang tamu. Reno sempat melihat Keano yang berlari masuk rumah Intan.
"Apakah pria itu suaminya Intan? Wah kalah saingan aku, suaminya sangat tampan bak aktor korea," batin Reno mengernyitkan alisnya.
Tak berapa lama kemudian, Rendi juga telah pulang. Dia lekas keluar dari mobil dan menghampiri Reno.
"Heh, serius amat?" Rendi ikut mengamati arah pandang mata Reno.
Dan pada saat Rendi melihat mobil yang ada di pelataran rumah Intan. Rendi sempat membola matanya.
"Loh itu kan mobilnya Tuan Keano?" ceplosnya sampai Reno mendengarnya.
"Kamu kenal, Rendi?" Reno hampir tak percaya.
"Iya kenal, tadi aku bersamanya. Dan pada saat itu dia tiba-tiba pergi begitu saja setelah menerima telpon," jawab Rendi sangat yakinnya.
"Berarti benar, dia itu suami Intan yang sekarang," tiba-tiba Reno berkata.
"Masa sih, setahuku Tuan Keano duda beranak satu." Rendi menimpali.
"Tapi dia kelihatan panik berlari masuk rumah Intan," ucap Reno kembali.
"Memangnya apa yang telah terjadi di rumah Intan?" Rendi penasaran.
Reno menceritakan semuanya pada Rendi tentang kedatangannya di rumah Intan. Namun Rendi merasa heran, kenapa Intan malah pingsan saat melihat foto Laras.
__ADS_1
*******