Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Gelisah


__ADS_3

Mendengar perkataan dari Tara, Laras mengernyitkan alisnya. Dia merasa ada yang aneh pada diri Tara.


"Mas Tara, kok aneh yah? demam tapi kok ucapannya genit seperti itu?" batin Laras


"Sayang, kenapa kamu diam saja? apa kamu nggak kangen sama aku, padahal aku sehari saja tanpamu serasa sewindu," rayu Tara mulai aktifitasnya menjelajah tubuh Laras.


Entah kenapa Laras merasa aneh, tidak seperti biasanya. Dia kali ini merasa tak suka dengan perilaku Tara. Dan menepiskan tangan Tara.


"Maaf, mas. Aku harus mandi dan menyuapi Risky karena sudah siang." Laras beranjak pergi dari kamar tersebut.


"Sialan, rayuanku kenapa nggak mempan? biasanya Laras langsung luluh dan klepek-klepek, tapi ini malah menolakku. Apa dia masih marah soal Intan palsu?" batin Tara seraya mengerutkan keningnya.


Sementara saat ini Reno sedang dalam perjalan pulang ke rumahnya sendiri. Dia merasa sungkan jika kembali ke rumah Rendi karena jaraknya lumayan jauh.


Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya sampai juga Reno di rumahnya. Betapa kagetnya dia saat mendapati ada Saras di depan pintu gerbang.


"Mi, kok kamu sudah pulang? kan baru dua hari?" Reno menatap menyelidik pada Saras.


"Kemarin kan nggak jadi ke Bali, entah karena apa nggak jelas juga panitianya. Malah pergi ke puncak Bogor, sebenarnya aku kecewa. Dan pada saat akan pulang, di tahan dan semua teman nggak mengijinkanku pulang." Jawab Saras panjang lebar.


"Kamu sendiri darimana, pi?"Saras menatap menyelidik pada Reno.


"Antar Laras pulang, dia di telpon suaminya kata sedang sakit." Jawab Reno sekenanya.


"Pulang ke rumah barunya?" kembali lagi Saras bertanya.


"Ya, mi. Rumah barunya megah mewah," Reno kembali berkata.


"Masa, pi? memangnya Tara mendapatkan uang banyak, darimana?" Saras merasa tak percaya.


"Entahlah, mi. Aku juga merasa curiga dengan Tara," Reno menghela napas panjang.


Reno dan Saras lekas masuk dalam rumah karena waktu telah menjelang sore.


"Untung aku pulang kerumah, jika tadi aku pulang ke rumah Rendi, yang ada bisa menjadi bomerang," batin Reno.


Sementara saat ini Intan sedang memikirkan bagaimana caranya supaya bisa memisahkan Laras dari Tara namun tidak sampai membuka aibnya sendiri.

__ADS_1


Selagi duduk termenung di teras rumah depan, Keano datang.


"Intan, sore-sore kok melamun di teras?" Keano menghampiri Intan dan menjatuhkan pantatnya di sofa sebelah Intan.


"Mas Keano, kenapa pula sore-sore kemari? biasanya kan pagi hari." Intan malah balik bertanya.


"Kebetulan dari perkebunan teh, jadi mampir kemari." Jawab Keano sekenanya.


"Si kecil mau di beri nama siapa? sebaiknya kita ngobrol di dalam saja, sebentar lagi kan mau maghrib," saran Keano.


Intan dan Keano sama-sama beranjak dari duduknya, dan mereka pindah ke ruang tamu. Sementara Bu Mita menyapa kedatangan Keano.


"Eh ada Nak Keano, kok Kevin nggak di ajak?" Bu Mita menyalami Keano.


"Kebetulan Kevin sedang jaga galeri ponsel karena sedang rame pembeli." Keano menyambut tangan Bu Mita.


Setelab menyapa Keano, Bu Mita ke dapur meminta tolong pada Bi Mira supaya membuatkan minum untuk Keano dan Intan. Setelah itu ke kamar kembali menemani si dede bayi.


"Intan, kamu belum jawab pertanyaanku? sebenarnya kamu sedang merisaukan apa, bukannya urusanmu dengan mantan suamimu sudah beres?" Keano kembali lagi menatap Intan.


"Iya, mas. Masalah Tara sudah beres, sedang dalam tahap proses. Aku minta tolong pengacaraku yang mengurus semua, termasuk balik nama perusahaanku," Jawab Intan sekenanya.


"Di balik nama, Tara. Karena sebelumnya dia nggak bersedia tanda tangan surat perpisahan. Setelah aku menawarkan perusahaanku, barulah dia bersedia berpisah denganku," pandangan Intan menerawang jauh.


"Dan pada saat ini, kamu sedang menyesalinya?" Keano kembali bertanya.


"Tidak, aku sama sekali tidak menyesali perusahaanku di minta Tara. Aku hanya menyesali kenapa dulu aku percaya padanya, yang membuat permasalahanku semakin menjadi rumit," pandangan Intan terus saja menerawang jauh entah kemana.


"Lantas, apa yang membuatmu murung dan gelisah?"Keano terus saja bertanya menyelidik akan kegelisahan yang sedanh di rasakan oleh Intan.


Bukan karena Keano sok ingin tahu, tapi dia ingin membantu menyelesaikan kegelisahan Intan.


"Aku bingung, bagaimana caranya supaya aku bisa memisahkan Laras dari Tara. Tapi tanpa Laras tahu jika aku pernah menjadi istri siri Tara," Intan menghela napas panjang seraya mata berkaca-kaca.


"Oh, jadi itu yang membuatmu gelisah? kamu tenang saja, aku pasti akan membantumu. Orang licik seperti Tara, cara menghadapinya juga harus dengan cara licik," Keano menyunggingkan senyuman.


"Aku sama sekali nggak maksud dengan apa yang Mas Keano katakan?" Intan menghela napas panjang.

__ADS_1


"Tenang saja, itu akan menjadi urusanku. Kamu tunjukkan saja dimana alamat kantor dan alamar rumah Tara. Supaya aku bisa melancarkan aksiku," Keano sangat antusias ingin membantu Intan.


"Aku hanya tahu alamat kantor, tapi tidak tahu alamat rumahnya." Jawab Intan sekenanya.


"Nanti kamu tanyakan saja pada Laras, pasti dia akan memberitahumu," Saran Keano.


"Baiklah, mas. Sebenarnya apa yang ingin Mas Keano lakukan?" Intan semakin penasaran dengan rencana Keano.


"Tenang saja, Intan. Aku tidak akan mencelakakan Tara, hanya akan membuat Laras bisa lepas darinya sesuai keinginanmu." Keano mencoba meyakinkan Intan.


"Baiklah, mas. Aku percaya denganmu." Intan menyunggingkan senyuman.


"Senyummu yang selalu membuatku ingat pada almarhumah istriku, bahkan aku tak ingin selalu melihat senyummu setiap waktu," batin Keano.


Setelah cukup lama bercengkrama, dan minum teh serta makan cemilan, Keano memutuskan untuk pulang ke rumah yang letaknya tak jauh dari rumah Intan.


Seperginya Keano, Intan melangkah ke kamar ibunya.


"Bu, aku sedang nggak bisa berpikir. Lebih baik ibu saja yang memberi nama anak ini," Intan menggendong dede bayinya.


Sejenak bermain-main dengan si dede bayinya.


"Apa nanti cocok, kalau ibu yang memberi nama anakmu?" Bu Mita merasa ragu.


"Memang dulu yang memberi nama aku siapa? bukannya ibu, apa bapak?" tanya Intan.


"Ibu, nak."


"Ya sudah, beri nama saja anakku sesuai yang ibu inginkan. Bu, sebenarnya bapak meninggal karena apa sih? kok kita sama sekali nggak pernah ke makam bapsk?" tiba-tiba Intan bertanya tentang bapaknya.


Bu Intan terhenyak kaget saat mendengar pertanyaan dari Intan. Dia bingung harus menunjukkan dimana makam suaminya, karena dia tahu jika sebenarnya suaminya masih hidup.


Suami dan kakak Intan masih hidup, tapi Bu Mita selama ini menutupi hal ini dari Intan.


Sejenak Bu Mita terdiam saja, tak bisa berkata apapun.


"Bu, kenapa ibu diam saja?" Intan merasa heran dengan diamnya Bu Mita.

__ADS_1


*********


__ADS_2