
Tara bukannya menuruti kemauan Intan, namun dia kembali lagi bertanya.
"Sayang, pertanyaanku kenapa tidak kamu jawab sih?" Rajuk Tara mengerucutkan bibirnya.
"Pertanyaan yang mana, kamu saja nggak merespon perkataanku? tapi kamu memintaku menjawab pertanyaanmu, sudahlah nggak usah di perpanjang. Tolong ke ruangan dokter sekarang, aku ingin pulang," Intan berkata panjang lebar.
"Sayang, jika dokter belum mengijinkanmu pulang secara otomatis kamu harus tetap di sini," Bujuk Tara.
"Aku tidak ingin terlalu lama di sini, karena bukannya membuatku cepat sehat tapi malah membuatku tambah sakit," Intan mendengus kesal.
"Apa maksud ucapanmu, sayang?" Tara mengernyitkan alis.
"Pertama kali, aku di sakiti oleh istri mantan suamiku. Kedua, aku harus rela melihat suamiku bersama wanita lain. Aku nggak ingin semakin bertambah sakit melihatmu terus bersama Laras," Intan menghela napas panjang.
"Terlalu lama aku di sini, bukannya akan lekas pulih tapi malah akan menjadi pesakitan," kembali lagi Intan berkata.
__ADS_1
Tara tak bisa berkata, sebenarnya apa yang di katakan Intan ada benarnya. Hingga dia memutuskan untuk menuruti kemauan Intan. Dia melangkah menuju ke ruangan dokter. Sesampai di ruang dokter, Tara menemui dokter yang merawat Intan.
"Maaf, dok. Saya ingin meminta ijin, supaya istri saya bisa pulang. Katanya dia sudah nggak betah, dok. Ingin rawat jalan saja." Tara mengungkapkan isi hati Intan pada dokter.
"Padahal satu hari lagi, pasien bisa pulang. Apa nggak sebaiknya, anda membujuk istri anda untuk pulang besok pagi saja?" dokter memberi saran.
"Saya sudah berusaha membujuknya berkali-kali tapi istri saya tetap saja ingin pulang, dok." Jawab Tara.
"Baiklah, saya akan mengabulkannya. Tapi anda dan pasien harus menandatangani surat perjanjian jika terjadi apa-apa di luar tanggung jawab pihak rumah sakit. Karena pasien yang menginginkan pulang sebelum waktunya," dokter menjelaskan panjang lebar.
Dokter lekas mengambil surat pernyataan tersebut dan membawanya ke ruang rawat Intan, dan langkahnya di ikuti oleh Tara dari belakang.
Setelah sampai di ruang rawat Intan, dokter bertanya lagi untuk memastikan apakah Intan tidak berubah pikiran untuk pulang.
"Nyonya, besok pagi anda sudah di perbolehksn pulang. Apa nggak sebaiknya, anda pulang besok pagi saja?" saran dokter.
__ADS_1
"Maaf, dok. Saya rasa tidak perlu, karena saat ini saya telah membaik. Saya ingim rawat jalan saja, dok. Saya juga akan bedress di rumah sesuai saran dokter," Intan mencoba meyakinkan dokter.
"Baiklah, kalau anda terus saja memaksa ingin pulang. Tapi tolong tanda tangani surat pernyataan ini, jika sempat di baca dulu nggak apa-apa supaya anda paham isi dari surat pernyataan tersebut," dokter menyerahkan surat pernyataan tersebut pada Intan.
Intan menerimanya dan lekas membacanya dengan seksama, setelah itu dia langsung menandatanganinya tanpa butuh waktu lama.
"Baiklah, nyonya. Nanti ada seorang perawat yang akan melepas infusnya, dan silahkan ke bagian administrasi terlebih dulu," kata dokter menjelaskan secara panjang lebar.
"Saya permisi dulu, dan ini ada resep obat untuk nyonya. Yakni obat penguat kandungan, vitamin, juga penambah darah. Bisa nyonya ambil di bagian apoteker," dokter menyerahkan kertas resep pada Intan yang masih berbaring di brankar.
"Kalau begitu saya permosi dulu," pamit dokter seraya menyunggingkan senyum.
Sementara Tara ke bagian administrasi untuk membayar biaya rumah sakit Intan, juga menebus resep dokter di apotekernya.
*******
__ADS_1