
Tara melajukan mobilnya menuju ke kantor expedisi yang dia pikir masih miliknya. Seraya terus saja mengomel.
Hal itu tak lepas dari pengintaian Delta lewat rekaman CCTV.
"Sialan, Tara! baru awal pernikahan saja sudah menyakiti, Mona. Di tambah lagi mengumpat tentangku! lihat saja, Tara! aku akan membuatmu mengemis padaku, dan akan aku perbudak dirimu!" gerutu Delta saat melihat semua perbuatan Tara lewat pantauan CCTV.
Tak berapa lama, Tara telah sampai di kantor. Tapi langsung di hadang oleh kedua security.
"Maaf, Tuan Tara. Anda tidak di ijinkan masuk," tegur salah satu security seraya merentangkan kedua tangannya, di ikuti oleh pelototan dari security yang satunya.
"Lancang sekali kalian, aku ini bos kalian! yang membayar kalian! apa kalian ingin aku pecat, dan anak istri kalian sengsara juga karena ulah kalian ini!" bentak Tara seraya melotot dan menunjuk-nunjuk pada wajah dua security.
"Kami tidak takut dengan ancaman anda, Tuan Tara. Karena anda sebelumnya cuma benalu yang numpang hidup pada majikan kami, Nyonya Intan!" dengan lantang salah satu security berani berkata yang membuat Tara semakin terbakar emosi.
"Tuan Tara, sebaiknya anda pergi dari sini. Kalau tidak, kami akan membust anda pergi secara tidak terhormat!" tukas satu security lainnya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan pergi karena perusahaan ini milikku seutuhnya dan bukan milik, Intan! asal kalian tahu, dia itu sudah bukan lagi menjadi istriku, tapi hanya sebagai mantan!" umpatan Tara.
Kegaduhan yang terjadi di luar perusahaan terdengar hingga masuk ke dalam kantor. Hampir semua penghuni kantor keluar ingin melihat kegaduhan tersebut, karena rasa penasaran mereka.
"Hai kalian semua, ini bukan sebuah tontonan! seharusnya kalian menolongku dan menghajar dua security yang tak sopan ini!" teriak Tara lantang meminta bantuan pada semua karyawan yang melihat kegaduhan yang telah di buatnya.
Kebetulan Intan dan Keano akan keluar untuk makan siang. Mereka sempat heran, kenapa semua karyawan berdiri terpaku menatap ke pelataran kantor.
"Pah, kenapa karyawan kita bengong, semuanya menatap ke halaman kantor?" Intan menautkan alisnya.
"Sebaiknya kita lihat saja, pah." Intan bergelayut di lengan Keano.
Mereka melangkahkan kaki ke arah sumber suara teriakan, semua karyawan yang melihat kedatangan bos mereka, langsung bubar dan kembali ke meja kerja mereka masing-masing.
"Intan? kenapa dia ada di kantorku? sialan, pria itu! kenapa Intan menggandengnya?" Tara mengepalkan tinjunya saat melihat Intan datang dengan bergelayut manja di lengan Keano.
__ADS_1
Intan dan Keano menghampiri Tara.
"Untuk apa kamu kemari? bersusah payah menerobos security dengan mempermalukan diri sendiri dan menjadi tontonan banyak orang?" tanya Keano lantang.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kamu dan mantan istriku ada di kantorku? sebaiknya kalian lekas pergi saja, hanya mengganggu pemandangan mataku," cemooh Tara lantang.
"Prok Prok Prok" Keano bertepuk tangan seraya tersenyum mengejek.
"Berarti istrimu menjual perusahaan ini padaku tanpa sepengetahuanmu? hebat sekali dia, asal kamu tahu jika perusahaan ini telah aku beli dari istrimu yang bernama, Tiara. Dan telah aku berikan pada istriku tercinta, sebagai kado pernikahan kami."
"Karena seharusnya perusahaan ini menjadi milik istriku, tapi kamu telah merampasnya. Satu lagi, sertifikat perusahaan ini juga sudah beralih nama kembali menjadi, Intan bukan pria benalu sepertimu!"
Hinaan di lontarkan dari mulut Keano untuk Tara.
******
__ADS_1