Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Bu Ita Kembali Ke Rumah


__ADS_3

Bu Ita memang dinyatakan sehat karena sudah sadarksn diri. Namun fisiknya masih lemah, sehingga belum bisa berjalan. Dia di haruskan memakai kursi roda, sedangkan dia juga belum bisa berbicara.


"Dok, bagaimana kondisi ibu saya yang belum juga bisa berbicara dan badannya lemah? apakah tidak ada yang serius?" tanya Tia pada dokter yang merawat ibunya, sebelum akan di bawa pulang.


"Anda nggak perlu khawatir, semua terjadi karena pita suara yang tengah bermasalah. Dan mengenai tubuh yang lemah, karena terlalu lama koma sehingga tubuh belum bisa berinteraksi."


"Nanti saya akan memberikan obat untuk pemulihan ibu, anda. Dan rajinlah terapi berjalan, jangan terus mengandalkan kursi roda. Serta rajinlah berjemur di pagi hari dari sekitar jam delapan sampai sepuluh pagi."


Demikian nasehat dan saran dari dokter yang merawat Bu Ita.


Tia sangat seksama mendengar semua yang di anjurkan oleh dokter untuk ibunya. Dia akan menjalankan semua saran dari dokter demi kebaikan ibunya.


Setelah semua urusan di rumah sakit telah beres, dari membayar biaya administrasi hingga sejenak bercengkrama dengan dokter, Tia lekas membawa ibunya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Di dalam hati Bu Ita, masih terbesit sejuta kekecewaan pada anak dan terutama pada menantunya.


"Sebenarnya aku nggak ingin pulang, aku pikir aku telah mati tapi malah masih hidup. Ya Allah, hamba mohon ampun karena telah gagal mendidik anak semata wayang hamba. Sehingga dia tega merebut suami orang. Hanya Engkau yang mampu menyadarkan kekeliruan yang saat ini di lakukan oleh anak Hamba," sepenggal doa di dalam hati Bu Ita.


"Alhamdulilah ya, bu. Sudah di perbolehkan pulang, setelah cukup lama ibu tak sadarkan diri. Tapi kenapa raut wajah ibu murung? seharusnya ibu senang, kita bisa kembali ke rumah," Tia menatap sendu Bu Ita yang wajahnya di tekuk, tidak ada senyuman sedikitpun.


Bu Ita tak merespon perkataan dari Tia, dia hanya diam saja seraya pandangan menerawang jauh entah kemana. Bu Ita masih marah pada Tia yang telah tega membohonginya dengan berkata jik dirinya telah menikah resmi dengan Tara.


"Aku tahu, bu. Jika saat ini ibu masih marah padaku, maafkan aku, bu." Batin Tia terasa sesak karena sikap ibunya yang cuek padanya.


Tia tak berani berkata lagi, dia hanya diam asik traveling dengan apa yang di pikirkannya. Hingga tak terasa mereka telah sampai di halaman rumah.


Saat Mona melihat kepulangan Tia dengan membawa ibunya, dia sangat kesal.

__ADS_1


"Sialan, kenapa pula si nenek tua itu malah sehat? aku jadi nggak bisa berdua lagi dengan, Mas Tara!" batin Mona seraya mendengus kesal.


Sementara saat ini Tara ada di belakang punggung Mona, tanpa Mona mengetahuinya.


"Sayang, kamu nggak usah kesal seperti itu. Justru jika ibu mertuaku pulang, kita malah bisa sering jalan-jalan. Nggak suntuk dan bosan di rumag saja," bisik Tara menghibur Mona.


Setelah itu Tara pergi menjauh karena khawatir ketahuan oleh istri dan mertuanya yang saat ini sedang menuju arah pintu.


Mendengar bisikan dari Tara, Mona menyunggingkan senyuman pada Tara. Dia sudah tidak murung lagi.


"Benar juga apa yang di katakan, Mas Tara. Aku bisa setiap saat mengajaknya berlibur kemanapun aku mau," batin Mona menyeringai licik.


******

__ADS_1


__ADS_2