Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Hidup Tiara Yang Baru


__ADS_3

Sementara di suatu tempat nan jauh di sana, kini Tiara telah hidup bahagia. Dia telah mempunyai dua buah kue. Uang dari hasil menjual perusahaan, di pergunakan untuk modal membangun toko kue.


Kini Bu Ita juga telah pulih dari sakitnya, kondisinya telah sehat seperti sedia kala. Dita pun telah berumur satu tahun lebih.


"Nak, sudah lama kamu hidup menyendiri. Apa tak ingin menikah?" tiba-tiba Bu Ita bertanya tentang pernikahan.


"Bu, aku sudah nyaman hidup seperti ini, lagi pula mana ada pria yang mau dengan status janda siri?" Tiara tak yakin dengan kondisinya sendiri.


"Kamu seharusnya tak boleh pesimis, kamu itu masih muda dan cantik. Pasti banyak pemuda yang ingin meminangmu."


"Kamu pikir, ibu tidak tahu? jika saat ini saja ada beberapa pelanggan toko kuemu yang diam-diam suka padamu."


Mendengar penuturan, Bu Ita. Tiara menautkan alisnya, karena dia sama sekali tak menyadari jika ada pemuda yang diam-diam suka padanya.


"Ibu, jangan sembarangan berkata. Selama ini tidak ada satu pun pemuda yang suka denganku, apa lagi salah satu pelanggan toko kueku,"Tiara masih saja tak percaya.


"Masa kamu sebagai seorang wanita sama sekali tak peka dengan pemuda yang menyukaimu? Seharusnya kamu bisa merasakan perhatiannya yang begitu besar padamu," Bu Ita mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Bu, aku benar-benar tak mengetaui siapa pemuda yang ibu katakan?"


"Ada dua pemuda langganan toko kuemu yang ibu rasa, mereka itu sebenarnya suka padamu. Si Toro dan Toni."


Sejenak Tiara terdiam mendengar perkataan ibunya tentang, Toro dan Toni. Dia sedang mengingat perilaku dua pemuda yang di sebutkan tadi. Tapi dia tetap saja tak merasa jika, Toro maupun Toni ada hati padanya.


"Bu, menurutku sikap Toro maupun Toni biasa saja. Hanya perasaan ibu saja yang terbawa perasaan dan mengharap aku lekas bersuami."


"Tiara, kamu telah menutup hatimu. Sehinga kamu sama sekali tak bisa merasakan perhatian dari kedua pemuda tersebut."


"Permisi, sepertinya lagi berdebat seru nech. Maaf, mengganggu." tiba-tiba datang salah satu pemuda yang barusan sedang di bicarakan oleh, Tiara dan Bu Ita.


"Nak Toni, kok kami nggak tahu kedatangannya?"


"Bagaimana, Tiara dan ibu akan tahu jika asik terus berdebat."


"Waduh, jangan-jangan dia sempat mendengar apa yang kita bicarakan," bisik Bu Ita pada Tiara.

__ADS_1


"Bu, nggak perlu berbisik pula. Aku nggak tahu sama sekali apa yang sedang kalian bicarakan, jadi tak usah khawatir," ucap Toni yang sempat mendengar bisikan Bu Ita pada, Tiara.


"Aku baru datang kok, aku kemari karena ingin berbicara pada, Tiara. Ada pesanan kue," ucap Toni.


"Mari ke ruangan saya, Mas Toni. Bu, aku nitip Dita ya?"


Tiara melangkah ke ruang kerja di ikuti oleh, Toni.


"Tiara, sebenarnya aku mendengar semua yang kamu dan ibumu perdebatkan. Kenapa kamu tak peka, tapi malah ibumu yang peka jika aku ini menyukaimu?"


"Lantas seperti apa wajah, Toro? jadi bukan cuma aku yang telah menyukai , Tiara? kalau seperti ini aku tidak boleh lambat."


"Aku harus secepatnya mengutarakan perasaanku pada, Tiara. Karena aku tak ingin, Tiara di miliki oleh pria lain."


Sedari tadi, Toni hanya asik dengan lamunannya sampai, Tiara berkata berkali-kali dia tak meresponnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2