Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Pertikaian Kembali


__ADS_3

"Intan, duduklah dulu. Kita kan baru bertemu kenapa kamu malah akan pergi?" Reno berkata seraya tetap memegang jemari Intan dan menatapnya sendu.


Intan luluh dan kembali menjatuhkan pantatnya di sofa. Dia menatap sadis tanpa senyum sedikitpun pada Reno.


"Intan, kenapa kamu menatapku seperti itu? Ada yang aneh denganku, tidakkah kamu memberiku sebuah senyuman khasmu?" Reno bertanya seraya mengernyitkan alisnya.


"Mas, aku kemari bukan untuk membahas hal yang nggak penting. Tapi ingin membahas orang yang telah membuat satu restoranku terpaksa di tutup," Intan mengalihkan pernyataan yang tak penting dari Reno.


"Waktuku juga nggak banyak, kebetulan saat ini suamiku sedang di rumah. Menemaniku karena aku belum pulih benar. Jadi tolong to the point saja, supaya aku bisa lekas pulang," kata Intan ketus.


"Jika suamimu ada di rumah, kenapa pula nggak kamu ajak sekalian. Aku jan penasaran juga seperti apa rupa suamimu." Reno tersenyum kecut.


Sementara saat ini Tara malah menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Bukannya dia menyusul Intan, malah dia pergi ke rumah sakit.


Dan ternyata memang saat ini Laras cuma sendirian, karena Saras pergi begitu saja mengikuti kepergian Reno.


Sementara saat ini Intan dan Reno sedang berada di cafe, membahas permasalahan Intan.


"Mas, kita langsung ke topik saja. Aku punya bukti rekaman CCTV orang yang telah menjahatiu." Intan membuka ponselnya dan menunjukkan bukti tersebut pada polisi.


Reno melihat rekaman CCTV tersebut seraya dia mengamatinya dengan seksama.


"Jahat sekali Bu Tuti," Reno memberikan ponselnya pada Intan setelah dia melihat rekaman vidio CCTV tersebut.


"Jadi benar ini orang adalah suruhan dari Saras, mas?" tanya Intan seraya mengernyitkan alisnya.


Reno mengiyakan, dan dia menceritakan semua tentang apa yang di dengarnya sendiri waktu itu.


"Mas, aku ingin minta bantuanmu. Apakah kamu bersedia?" tanya Intan menatap lekat Reno.


"Katakan saja, aku pasti akan membantumu semampuku." Jawab Reno dengan sangat yakinnya.


"Aku ingin melaporkan kasus ini ke kantor polisi, dan akan memperkarakan Saras. Apakah kamu bersedia menjadi saksinya kelak jika saat Saras di sidang?" tanya Intan meraya tak yakin pada Reno.


"Untuk apa aku datang kemari, jika tidak berniat untuk membantumu? justru aku ingin membantumu dalam menyelesaikan permasalahanmu ini," Reno berkata dengan sangat yakin.

__ADS_1


"Baiklah, mas. Kalau begitu kita ke kantor polisi sekarang juga, karena aku ingin permasalahan ini lekas selesai." Intan mengajak Reno ke kantor polisi.


Namun saat bangkit dari duduknya, tiba-tiba dia merintih memegangi perutnya.


"Auww..astaghfirulloh alazdim," Intan terpaksa duduk kembali seraya terus merintih kesakitan dengan mata terpejam.


"Sayang, kamu kenapa? sebaiknya kita ke dokter saja, aku khawatir akan kandunganmu." Secepat kilat Reno menggendong tubuh Intan.


"Mas, tolong turunkan aku. Kita bukan muhrim, lagi pula malu di lihat orang." Intan berkata lirih seraya melotot pada Reno.


"Heh, kalian memang benar-benar tak tahu malu!" tiba-tiba ada Saras di depan mata mereka.


Baik Reno maupun Intan membola matanya saat melihat kedatangan Saras. Reno menurunkan Intan dari gendongannya seraya perlahan.


"Kenapa, kalian terkejut aku ada di sini?" Saras melotot menatap Reno dan Intan.


"Aku mengikutimu, mas. Karena aku merasa curiga, dan ternyata feelingku benar adanya! kamu sembunyi-sembunyi bertemu dengan mantan istrimu!" Saras melirik sinis pada Intan seraya mendorong tubuh Intan.


Secepat kilat Reno menopang tubuh Intan sehingga Intan tidak sampai terjatuh.


Untung saat itu di cafe sedang sepi, apa lagi Reno dan Intan memilih meja yang jauh dari meja tamu yang lainnya, sehingga pertengkara tersebut tidak sampai ada yang tahu, hanya beberapa pelayan cafe saja yang sempat menyaksikan keributan tersebut.


"Kamu bisa diam nggak?" bentak Reno pada Saras.


Sementara Intan terduduk karena merasakan perutnya sakit dan kram. Reno merasa iba dan menghampiri Intan.


"Sayang, ayuk kita ke rumah sakit," Reno lupa kembali dengan dua kali memanggil Intan dengan sebutan sayang.


Saras yang mendengarnya semakin emosi.


"Oh, jadi benar kan apa yang aku pikirkan. Kamu nggan tahu malu ya, Intan. Sudah jadi mantan saja masih mengganggu suamiku, ingat Intan saat ini Mas Reno suamiku bukan suamimu lagi!"


Intan tak menghiraukan ocehan Saras, dia masih saja merintih kesakitan. Intan malah sengaja ingin membuat hati Saras semakin terbakar api cemburu.


"Mas, tolong aku?" pinta Intan lirih.

__ADS_1


"Iya, aku akan menolongmu." Reno menghampiri Intan.


"Tolong antar aku ke dokter, ini pake mobilku." Intan memberikan kontak mobilnya pada Reno.


"Mas, aku nggak kuat jalan." Intan merintih kesakitan.


Tak butuh waktu lama, Reno langsung mengangkat tubuh Intan untuk yang kedua kalinya. Bahkan Intan sengaja kedua tangannya bergelayut manja di leher Reno. Serta kepalanya di senderkan dekat sekali dengan pipi Reno.


Saras semakin cemburu dan mengepalkan tinjunya. Sementara Reno lekas membawa Intan ke mobil, dengan degup jantung yang bertalu-talu.


Reno langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat. Saras tak tinggal diam, dia lekas memesan ojek yang kebetulan melintas di depannya, untuk dia mengikuti kepergian mobil yang di lajukan oleh Reno.


Sementara di dalam hati Intan hanyalah bayangan Tara sedang bersama Laras.


"Aku yakin saat ini kamu sedang bersama Laras, jika kamu benar mencintaiku pasti mengikuti kepergianku dan mengkhawatirkanku, tapi kamu malah mengambil kesempatan dalam kesempitan," gerutu Intan dalam hati.


"Mas, dua kali kamu salah memanggilku dengan sebutan sayang. Tolong jangan lakukan hal ini lagi." Pinta Intan.


"Memang aku masih sayang padamu, Intan. Aku tak salah, aku sadar memang sengaja memanggilmu, sayang." Reno berkata dengan sangat yakinnya.


Saat Intan akan menjawab ucapan dari Reno, terlebih dulu Reno berkata.


"Nggak usah banyak bicara dulu, lebih baik fokus sama kesehatanmu dulu. Sabar ya, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit," Reno melirik dengan senyuman seraya terus melajukan mobil Intan.


Tak berapa lama, mereka telah sampai di rumah sakit. Intan langsung di larikan ke ruang pemeriksaan.


Saat Reno akan mengikuti brankar dimana ada Intan berbaring, tiba-tiba Saras datang dan mencekal lengan Reno dengan paksa.


"Mas, ayok kita pulang. Saat ini Laras sendirian di rumah sakit, gara-gara aku mengikutimu." Saras menarik tangan Reno.


"Lepaskan, aku masih ingin di sini. Lagi pula kontak mobil Intan ada padaku!" Reno menepiskan cekalan tangan Saras.


"Sini, biar aku yang memberikan kontaknya pada Intan," Saras menengadahkan tangannya.


"Tidak, yang ada nanti kamu malah menyakitinya lagi seperti waktu itu. Sana kamu pulang saja, apa mau aku talak saat ini juga!" ancam Reno.

__ADS_1


********


__ADS_2