
Mendengar perkataan Kevin, dengan rasa enggan akhirnya Laras mengucap kata maaf pada Kevin.
"Papah, lihat kan? umur tidak menjamin seseorang bersifat dewasa? dia lebih tua dariku, tapi perilakunya seperti seumuranku main labrak orang segala," Kevin tersenyum sinis pada Laras.
"Yuk masuk," Intan merangkul Kevin mengajaknya masuk.
Laras yang melihat keakraban antara Intan dan Kevin menjadi cemburu.
"Kenapa ibu terlihat sayang pada anak itu padahal bukan siapa-siapa ibu, sementara denganku tidak bersikap seperti itu padahal aku anak kandung yang telah lama nggak bertemu," batin Laras melirik sinis pada Kevin.
Laras lekas masuk melangkah menuju ke kamarnya. Sementara Intan bercengkrama dengan Keano dan Kevin. Keano sempat bertanya bagaimana Intan bisa bertemu dengan Laras. Akan tetapi untuk hal yang teramat penting, Keano tidak berani bertanya karena ada Kevin.
Sejenak mereka bercengkrama bercanda ria bersama, hingga kadang suara gelak tawa terdengar sampai di kamar Laras. Dia merasa iri dan cemburu.
"Saat aku datang, ibu malah murung bahkan terus saja menangis. Tapi saat anak itu datang, ibu bisa tertawa lepas seperti itu. Aku jadi heran dan meragukan kasih sayangnya padaku," gerutu Laras seraya mengerucutkan bibirnya.
*******
Tak terasa malam menjelang, di kala semua orang telah tertidur. Tapi tidak dengan Intan, dia ingin bercerita tentang Tara pada Reno. Dia memutuskan untuk menelpon Reno pada malam itu juga.
Reno yang juga belum tidur, merasa sangat senang mendapat telpon dari Intan. Dia telah salah paham, berpikir jika Intam menelpon karena ada rasa kangen padanya.
"Wah, Intan menelponku. Pasti dia ingin mengatakan jika kangen dan masih cinta padaku." Batinnya seraya tersenyum sendiri dan segera mengangkat panggilan telponnya.
π±"Assalamu alaikum, Mas Reno."
π±"Walaikum salam, iya ada apa?"
π±"Aku ingin berbicara satu hal yang sangat penting. Apakah kamu ada waktu sebentar, kalau lewat telpon saja nggak apa-apa kan?"
π±"Bicara saja, aku akan mendengarkannya."
π±"Ini tentang Tara, suami Laras."
π±"Memangnya ada apa dengan Tara, lah kok kamu kenal?"
__ADS_1
Intan melangkah ke balkon kamar, supaya tidak ada yang mendengar percakapan penting tersebut.
π±"Aku jelas kenal dengan Tara, karena dia adalah suami siriku. Makanya aku shock saat melihat foto pernikahan Laras dan Tara."
π±"Apa, kamu sedang tidak bercanda kan, Intan?"
Reno masih saja belum percaya dengan apa yang sedang di katakan oleh Intan. Kemudian Intan menceritakan awal mula menikah dengan Tara.
Menceritakan juga bagaimana Tara memperdayanya dengan makam kosong tentang Laras.
Intan juga bercerita betapa shock dia, saat tahu jika anak kandungnya istri sah dari Tara. Selama ini, dia memang berteman dengan Laras. Tapi dia tidak tahu jika Laras adalah anak kandungnya.
Reno terperangah dan matanya membola saat mendengar semua cerita Intan tentang hubungannya dengan Tara. Reno hampir tak mempercayai semua itu. Dia baru percaya saat Intan mengirim berkas untuk surat cere. Karena ada lembar foto copy KTP Tara.
π±"Mas, saat ini aku sedang mengajukan proses cerai pernikahan siriku. Tapi aku bingung, bagaimana jika kelak Laras mengetahui akan hal ini?"
π±"Kamu nggak usah khawatir, Laras nggak akan pernah tahu,.jika kamu tidak memberitahunya."
π±"Kita simpan saja dengan rapat, rahasia ini dari Laras. Dan kamu nggak perlu khawatir, aku juga akan memisahkan Lara dari Tara. Karena aku nggak mau, anakku punya suami yang pembohong seperti Tara!"
π±"Iya, nggak perlu di ceritakan."
Setelah cukup lama, Intan menelpon dengan mantan suaminya. Kini dia terlelap dalam tidurnya. Namun tidak halnya dengan Reno. Dia malah semakin tak bisa tidur karena memikirkan permasalah Intan yang menurutnya terlalu rumit.
"Ya Allah, kasihan sekali Intan. Dia harus menghadapi masalah yang rumit ini."
"Aku masih saja belum percaya jika Intan menikah siri dengan suami sah anak kandungnya sendiri."
"Tara benar-benar keterlaluan! membuat makam kosong demi untuk menipu Intan. Aku harus menemui Tara besok pagi."
Demikian gerutuan Reno setelah mendapat telpon dari Intan. Dia sangat emosi pada Tara dan ingin lekas mengharjarnya.
Tak terasa pagi yang di nantikan Reno telah datang, dia meminta Intan untuk menelpon Tara dan pura-pura mengajak bertemu di sebuah cafe. Intanpun menyanggupinya, karena dia sudah benar-benar emosi dengan Tara.
"Biar saja sesekali Tara mendapat balasan dari kebohongannya selama ini! biar Mas Reno memberinya sedikit pelajaran buat Tara." Intan menyeringai sinis.
__ADS_1
Intan segera menuruti kemauan Reno, dia segera menelpon Tara. Di lain tempat, Tara sangat bahagia dan antusias saat menerima panggilan telpon dadi Intan.
π±"Assalamu alaikum, ada apa sayang?"
π±"Walaikum salam, aku ingin bertemu denganmu sekarang juga bisa nggak?"
π±"Serius, sayang. Apa sih yang nggak bisa buatmu?"
π±"Baiklah, kita bertemu di cafe yang terakhir kita bertemu."
π±"Siap, sayang. Aku langsung berangkat ya."
Setelah panggilan telpon tersebut, Intan mematikannya begitu pula dengan Tara. Intan langsung memberitahu hal itu pada Reno, sedangkan Tara lekas berangkat ke cafe untuk bertemu dengan Intan.
Hati Tara berbunga-bunga, dia berpikiran jika Intan akan kembali padanya dan membatalkan perceraiannya. Sepanjang perjalanan, dia selalu bersiul dan bernyanyi di sela mengemudinya.
Berbeda dengan Reno, dia mengemudikan mobil dengan wajah emosi tidak ada senyum sama sekali. Bagaikan vampir yang sedang mengeluarkan taringnya, dan bagaikan banteng hendak siap menerjang Tara.
Tak berapa lama, Tara telah sampai terlebih dulu di cafe tersebut. Dan beberapa menit kemudian, datanglah Reno. Tara terhenyak kaget, saat melihat mertuanya tiba-tiba ada di hadapannya.
"Papi, kemana bisa ada di sini?" Tara bertanya menutupi rasa gugupnya.
"Kenapa, kaget? karena bukan Intan yang datang?" Reno menatap tajam pada Tara seraya menjatuhkan pantatnya di kursi di hadapan Tara.
"Apa maksud, papi?" Tara pura-pura tak tahu.
"Kamu nggak usah berpura-pura lagi, aku sudah tahu semuanya. Nggak perlu kamu tutupi lagi, dasar pria jahat. Pri bermuka dua!" bentak Reno melotot pada Tara seraya mengepalkan tinjunya.
"Pi, aku benar-benar nggak tahu apa yang sedang papi katakan," Tara berkilah padahal saat ini batinnya sedang gelisah dan panik.
"Kamu telah memperdaya anak dan mantan istriku! kamu memperistri mereka berdua, dan kamu telah berbohong pada Intan saat dulu kalian akan menikah, kamu katakan statusmu single tapi ternyata sudah punya istri yakni Laras!" bentak Reno.
"Hhhee, mungkin ini salah satu karma papi. Dulu papi juga menikah siri dengan Mami Saras, padahal masih sah jadi suami Intan. Bukankah apa yang aku lakukan sama seperti papi pula? bedanya aku menikah siri dengan ibu kandung Laras. Itu semua juga serba kebetulan, aku sama sekali tidak mengetahui jika Intan ibu kandung dari Laras," Tara tersenyum mengejek pada Reno.
*******
__ADS_1