
Tara menyeringai puas, saat melihat surat kepemilikan perusahaan expedisi.
"Hhaaa, ternyata Intan tidak ingkar janji. Dia benar-benar memberikan perusahaannya padaku hanya demi status barunya." Tara terkekeh sendiri seraya menciumi sertifat perusahaannya.
"Mas Tara, sarapan dulu." Teriak Laras dari depan pintu rumah.
"Iya, sebentar." Tara lekas menyembunyikan amplop coklatnya di balik punggungnya.
"Apa yang di sembunyikan, Mas Tara?" batin Laras terus saja mengamati sesuatu yang ada di balik punggung Tara.
Namun Laras segera masuk rumah karena terdengar Risky menangis.
"Aku harus sembunyikan dulu surat ini, sebelum Laras bertanya macam-macam." Tara telah sampai di kamar, dia mencari tempat yang aman untuk menyembunyikan amplop berisikan sertifikat perusahaan juga surat pemberitahuan pisah.
Setelah benar-benar tersembunyikan, Tara melangkah ke ruang makan untuk sarapan. Pagi ini Tara merasa bahagia karena telah memiliki sebuah perusahaan expedisi yang sangat besar dan saat ini sedang berkembang.
Sembari sarapan, dia tersenyum sendiri yang membuat Laras agak heran.
"Mas, sepertinya kamu sedang bahagia sekali? pagi-pagi ada yang kirim apa barusan, mas? sampai di sembunyikan di balik punggung segala?" serentetan pertanyaan dari Laras.
"Kepo banget, urusan perusahaan ada yang mengirim proposal ingin bekerjasama," kata Tara ketus seraya menyantap sarapannya.
Setelah mendapat perkataan kasar dari Tara, Laras diam tak berani berkata kembali.
Kini mereka fokus dengan sarapannya masing-masing tanpa ada kata apapun.
Setelah beberapa saat sarapan, Tara langsung melangkah ke kamar untuk menuju ke kamar mandi. Laras telah terlebih dulu menyiapkan air di bathup.
Laras juga telah menyiapkan baju untuk ke kantor Tara. Karena jika tidak begitu, Tara akan ngomel-ngomel.
Tak berapa lama, Tara telah rapi dengan pakaian kantornya. Kini dia siap berangkat ke kantor.
"Selama aku berada di kantor, kamu nggak boleh pergi kemanapun!" pinta Tara sinis.
"Baik, mas." Laras mencium punggung tangan Tara.
Segera Tara melangkah ke garasi mobilnya dan melajukannya menuju ke kantornya. Tapi terlebih dulu Tara mengunci pintu gerbangnya dari luar supaya Laras tidak bisa pergi.
__ADS_1
"Aman, Laras tak akan bisa pergi-pergi." Tara menyeringai puas seraya melajukan kembali mobilnya.
Seperginya Tara, Laras berniat ingin mengecek ponselnya. Namun dia kaget saat ingin menelpon Intan, sudah tidak ada nomor ponsel Intan, begitu juga dengan nomor ponsel Saras dan Reno juga tidak ada.
"Aneh, kenapa yang ada di ponselku cuma nomor kontak Mas Tara?" Laras menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Sementara di tempat Intan, dia terus saja mencoba menelpon Laras namun tidak bisa. Malah ada nomor ponsel asing masuk menelpon Intan. Dia nggak tahu jika nomor ponsel tersebut adalah nomor ponsel Tara, hingga dia mengangkatnya.
π±"Asalamu alaikum, maaf dengan siapa ini?"
π±"Walaikum salam wr wb, pasti kamu paham dengan suaraku kan sayang?"
π±"Ada apa lagi, bukankah aku sudah penuhi janjiku? tolong jangan menggangguku lagi!"
π±"Uluh-uluh, sayangku galak amat? aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas perusahaannya, dan selamat ya telah memberi nama anak kita serta bertemunya dirimu dengan Laras. Tapi kali ini kamu tidak akan bertemu dengan lagi."
π±"Apa maksud ucapanmu?"
π±"Nggak usah berpura-pura, Intan. Aku sudah tahu semuanya, jika kamu telah bertemu dengan Laras. Kamu juga mengirim vidio syukuran pemberian nama baby Adam pada ponsel Laras, kan? sudah ya, aku mau kerja."
Telpon langsung di matikan oleh Tara, sementara Intan mengerutkan alisnya untuk sejenak mencerna semua ucapan Tara barusan.
"Sebaiknya aku mencoba telpon, Mas Reno. Mungkin dia punya nomor ponsel Laras yang saat ini sedang aktif." Intan lekas memencet nomor ponsel Reno.
"Intan telpon, tapi ada Saras. Sebaiknya aku rijek saja dan kirim notifikasi chat pesan." Reno merijek telpon dari Intan dan dia lekas menulis chat pesan.
"Ya, kok rijek? oh iya, mungkin ada Saras. Padahal aku nggak berniat buruk, hanya ingin tanya nomor ponsel Laras saja," gerutu Intan menghela napas panjang.
Namun beberapa menit kemudian, ada notifikasi chat pesan masuk dalam ponsel Intan.
Dia lekas membuka notifikasi chat pesan dari Reno, dan sejenak membalas chat tersebut. Dan menunggu balasan chat dari Reno.
"Mas Reno, nggak punya nomor ponsel Laras yang baru." Gerutu Intan seraya menjatuhkan pantatnya di sofa.
Reno juga mencoba menelpon Laras, namun nomor Laras tetap tidak bisa di hubungi. Kegelisahan Reno terbaca oleh Saras.
"Pi,kenapa sih? sepertinya kamu gelisah sekali?" Saras menatap menyelidik pada Reno.
__ADS_1
"Kesal, mi. Nomor ponsel Laras nggak aktif lagi." Jawab Reno sekenanya.
"Paling juga seperti kemarin, di ganti sama Tara," Saras melirik sinis pada Reno.
"Pi, sebaiknya kita ke rumah Saras saja. Mami jadi penasaran, pengen melihat rumah Saras yang baru." Ajak Saras.
"Ayok, mi. Tapi lumayan jauh sih, memangnya mami nggak apa-apa?" tanya Reno ragu.
"Nggak apa-apa, mi. Sekalian kita jalan-jalan." Saras meraih tas slempangnya dan melangkah terlebih dulu ke garasi mobilnya.
Renopun lekas menyusul Saras ke garasi, dan segera melajukan mobilnya ke rumah Laras yang baru.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam sampailah di depan pintu rumah Laras. Namun saat akan membuka pintu gerbang, Reno mengernyitkan alis.
"Mi, di kunci dari luar. Apa Laras sedang pergi bersama Tara ya?" Reno mengernyitkan alisnya kembali seraya menatap Saras.
Selagi Saras dan Reno celingukan bingung, Laras nongol dari dalam rumah, niat hati ingin membuang sampah yang ada di tong sampah kamar.
"Papi, mami. Datang kok kasih kabar dulu? masuk saja pi, mi." Saras lekas berlari ke pintu gerbang.
"Loh, kok di kunci?" Laras mengernyitkan alisnya saat mengecek pintunya.
"Nomor ponselmu ganti lagi?" Reno bertanya menyelidik.
"Nggak tahu, pi. Tadi aku mau telpon papi apa mami, nggak ada nomor ponsel kalian di ponselku." Jawab Laras bingung.
"Coba kamu ambil ponselmu, dan ambil jepit rambut yang kecil warna hitam terus bawa kemari." Perintah Reno pada Laras.
Laras berlari kecil ke dalam rumah, untul mengambil jepit rambut dan ponselnya. Beberapa detik kemudian, Laras sudah kembali lagi di hadapan orang tuanya dan memberikan jepit hitam dan ponselnya pada Reno lewat jeruji pintu gerbang.
Reno mulai mengotak atik lubang kuncinya dengan jepit hitamnya. Dan berhasil, pintu gerbangnya bisa di buka.
Segera Saras masuk dengan Reno. Mereka melangkah ke ruang tamu dan menjatuhkan pantatnya di sofa.
Kini Reno mengecek ponsel Laras.
"Benar saja, nomormu di ganti sama Tara," Reno menghela napas panjang.
__ADS_1
**********