Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Sepenggal Masa Lalu Mita


__ADS_3

Bu Mita terhenyak kaget saat di tegur oleh Intan. Dia bingung harus berkata apa.


"Baiklah, ibu yang akan memberi nama anakmu." Jawabnya singkat.


"Bu, dari aku kecil kenapa aku tidak di beri tahu dimana makam bapak? dan ibu juga tak pernah menunjukkan foto bapak," Intan kembali bertaya pada Bu Mita.


Tiba-tiba Bu Mita menangis sesenggukan, dia sudah tak ingin memendam derita masa lalunya.


"Ibu minta maaf, Intan. Sebenernya bapakmu masih hidup, tapi entahlah sekarang masih hidup atau tidak. Karena sudah lama ibu berpisah dengannya, dari kamu masih ada di dalam perut," Bu Mita tertunduk lesu.


"Astaggfiruloh alazdim, kenapa ibu berbohong padaku? kenapa dari awal tak jujur saja?" Intan sedikit kesal dengan ketidak jujuran ibunya.


Sejenak Bu Mita terdiam mengingat masa lalunya, dia kemudian bercerita pada Intan.


Beberapa puluh tahun yang lalu..


"Alhamdulilah, akhirnya Mas Yogi pulang juga?" Mita sumringah dan mencium punggung suaminya.


Namun suaminya justru heran menatap Mita yang perutnya sedikit membesar.


"Bu, kenapa dengan perutmu?" Yogi mengernyitkan alis.


"Ih, Mas Yogi? seperti belum pernah punya anak saja?" Mita tersipu malu.


"Apakah kamu sedang hamil?" Yogi masih belum percaya.


"Iya, mas. Aku sedang hamil empat bulan," jawab Mita tersipu malu.


"Kok bisa? kamu selingkuh ya dariku?" Yogi mulai curiga dengan kehamilan Mita.


"Astaghfiruloh alazdim, mas tega menuduhku? ini anakmu, mas. Aku sama sekali tak pernah selinhkuh," Mita mencoba meyakinkan Yogi.


"Kamu pikir aku percaya begitu saja denganmu? aku bekerja berlayar pulangnya enam bulan sekali, kenapa kamu tiba-tiba hamil? selingkuh dengan siapa sebenarnya dirimu, hah?" Yogi terus saja memojokkan Mita dengan tuduhannya.


"Demi Allah, mas. Aku tidak pernah selingkuh dengan siapapu. Harus bagaimana lagi, aku membuktikan supaya kamu percaya padaku, mas." Buliran bening keluar dari mata Mita.


Selagi suami istri ini berantem mempertanyakan kehamilan istrinya. Anak mereka yang baru berumur satu tahun menangis keras.

__ADS_1


Yogi langsung berlari secepat kilat menghampiri anak tersebut.


"Cup cup cup..jangan nangis sayang." Yogi menggendong anaknya yang baru berumur satu tahun.


Setelah pertengkaran yang hebat, Yogi tak bertegur sapa dengan Mita. Dia lebih banyak diam.


Pagi menjelang, saat Mita terbangun sudah tidak ada Atin dan Yogi. Hanya ada sepucuk surat di atas meja.


Surat dari Yogi yang mengatakan jika dia sengaja pergi membawa Atin. Dia juga yang akan mengurus surat perceraiannya kelak.


"Ya Allah, kenapa harus seperti ini? suamiku pergi membawa anak kami dan meninggalkanku dalam kondisi hamil seperto ini?" Mita terus saja nenangis meremas surat dari Yogi.


Mita tak percaya dengan apa yang telah menimpanya saat ini. Dia juga bingung, harus bagaimana hidup tanpa suami dan anaknya, sementara dia saat ini sedang hamil.


Demikian cerita Bu Mita pada Intan, dengan deraian air mata.


"Ya Allah, ibu. Aku minta maaf telah membuka luka lama di hati ibu," Intan memeluk Bu Mita.


"Ibu yang seharusnya minta maaf pada, nak. Karena begitu lama menutupi masa lalu ibu padamu," Bu Mita semakin sesenggukan.


"Entahlah, nak. Karena sudah lama sekali, bapak atau mbak mu nggak kunjung kembali. Bisa saja saat ini bapak telah menemukan kehidupannya yang baru," perlahan Bu Mita merenggangkan pelukannya dan mengusap air matanya sendiri.


"Kita kan nggak tahu, bu. Rencana Allah pada kehidupan kita kelak. Sudahlah, bu. Lebih baik sekarang ibu memikirkan nama yang terbaik buat anakku," Intan menyunggingkan senyuman.


"Baiklah, nak."


Bu Mita sedang memikirkan sebuah nama yang baik untuk cucunya. Sejenak Bu Mita dan Intan terdiam. Intan saat ini sedang memberikan ASI pada babynya.


"Nak, ibu sudah punya nama untuk anakmu. Semoga kamu suka dan cocok, jika tidak ya ibu akan mencari nama lagi," Bu Mita sangat antusias sekali.


"Wah, penasaran juga bu. Siapa namanya, bu?" tanya Intan penasaran.


"Adam Nabhan yang artinya sosok lelaki yang berhati mulia," ucap Bu Mita.


"Wah keren, bu. Sangat bagus sekali namanya, aku suka banget. Terima kasih, bu." Intan mengacungkan kedua jempolnya.


"Besok kita buat syukuran buat anakmu." Saran Bu Mita.

__ADS_1


"Siap, bu. Sekarang ibu istirahat saja dulu, supaya besok fit." Pinta Intan.


Bu Mita lekas melangkah keluar dari kamar Intan, dia melangkah ke kamarnya untuk beristirahat sesuai permintaan Intan.


Di lain tempat, seorang wanita yang mirip sekali dengan Intan sedang memandang foto masa muda Bu Mita.


"Nak, kamu sedang apa?" seorang pria paruh baya menghampiri Atin.


"Aku kangen, ibu. Sampai sekarang belum juga bisa bertemu dengan ibu dan adikku." Jawab Atin sekenanya.


"Maafkan bapak ya, nak. Semua karena kecemburuan, dan kecurigaan bapak pada ibumu. Sehingga kita terpisah dari ibu dan adikmu." Yogi tertunduk lesu seraya nenghela napas panjang.


"Sudahlah, pak. Mungkin semua yang terjadi ini sudah di gariskan oleh Allah SWT," Atin menghela napas panjang.


"Aku sudah berusaha mencari informasi tentang keberadaan ibu, tapi hasilnnya masih nol," Atin tertunduk lesu.


"Bapak juga, sudah berusaha mencari keberadaan ibu dan adikmu. Tapi sama saja sepertimu, belum mendapatkan hasil yang memuaskan," Yogi menghela napas panjang seraya memijit pelipisnya.


Apa yang sedang di pikirkan oleh Atin dan Yogi, saat ini juga sedang di pikirkan oleh Bu Mita. Dia selalu berdoa supaya bisa bertemu dengan suami dan anak sulungnya.


"Ya Allah, jika Engkau berhendak, pertemukanlah hamba dengan suami dan anak sulung hamba. Jika masih hidup tunjukan keberadaannya, jika sudah tiada tolong tunjukan makamnya."


"Sudah puluhan tahun ya, Allah. Aku memendam rasa ini, rasa rindu rasa kangen ingin bertemu mereka."


"Berikanlah kepastian tentang keberadaan mereka supaya hamba tidak terus berharap seperti ini ya, Allah."


Demikian sepenggal doa yang di lontarkan oleh Bu Mita. Bukan hanya kali ini saja dia berdoa. Tapi setiap waktu setiap saat, bahkan setiap dalam sujudnya, dia selalu berdoa untuk suami dan anak sulungnya.


Bu Mita tak pernah membenci suaminya, karena dia tahu jika perpisahannya dulu karena kesalah pahaman semata.


Bu Mita sudah paham dengan sifat Yogi yang sangat pencemburu dan mudah sekali termakan hasutan dari orang sekitarnya.


Bukan sekali dua kali, dulu rumah tangganya mengalami suatu permasalahan yang di akibatkan karena kesalahpahaman. Namun dulu selalu bisa di selesaikan secara damai. Namun entah kenapa saat terakhir mendapatksn suatu masalah, Yogi begitu saja pergi meninggalkan Bu Mita.


Tanpa sepengetahuan Intan, Bu Mita selalu berdoa untuk Yogi dan Atin


******

__ADS_1


__ADS_2