Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Delta Luluh


__ADS_3

Pagi menjelang, Tara menagih janjinya pada, Monalisa.


"Sayang, katanya kamu mau menolongku supaya bisa bekerja di kantor, papahmu?" rayu Tara sok manis.


"Iya, ayuk kita ke rumah, papah sekarang juga."


Mereka ke rumah, Delta yang hanya berjarak lima langkah dari rumah.


"Tumben, kamu kemari pagi sekali. Ada apa, Mona?" Delta menautkan alisnya menatap kedatangan anak dan menantunya.


"Pah, kami ingin berbicara sebentar saja. Tolong beri kami waktu."


"Ngomong saja, nggak usah sungkan. Pasti, papah dengarkan kok."


"Pah, bisa kan jika, Mas Tara kerja di kantor? tolonglah, pah," rayu Monalisa.


"Iya, pah. Aku minta dengan sangat kebaikan dari, papah," Tara ikut pula merayu.

__ADS_1


Belum juga, Delta menjawab permintaan dari anak dan menantunya. Desny, ikut pula berbicara.


"Iya, pah. Apa salahnya, papah menolong mereka. Berilah satu kesempatan untuk menantu kita berubah menjadi suami yang bertanggung jawab."


"Pah, waktu lalu aku telah berniat membuka suatu usaha dengan bermodalkan uang hasil aku menjual mobilku. Tapi aku kena sial, pah. Uang hasil penjualan mobil, raib dengan begitu saja," Tara sengaja pasang wajah memelas.


"Baiklah, aku akan memberimu pekerjaan. Tapi untuk sementara, kamu hanya menjadi staf biasa. Jika cara kerjamu profesional, aku akan menaikkan jabatanmu," tukas Delta akhirnya luluh juga.


"Yah, sama saja bohong! aku pikir akan langsung bekerja menjadi direktur atau manager, kalau hanya sebagai staf biasa untuk apa pula?" gerutu Tara di dalam hati.


"Tara, bagaimana? seandainya kamu tak mau ya tidak ada kerjaan di kantor," tegur, Delta yang melihat ketermenungan, Tara.


Tara terpaksa menerima tawaran dari, Delta. Dia lebih memilih menjadi staf biasa dari pada menjadi pengganti asisten rumah tangga di rumah, Monalisa.


"Ya sudah, nanti kamu ikut papah ke kantor. Kebetulan di kantor ada inventaris kendaraan bermotor, kamu bisa mengambil satu motor untuk transportasimu berangkat dan pulang dari kantor," tukas Delta.


"Baiklah, pah."

__ADS_1


Setelah mendapat kejelasan, Tara dan Monalisa kembali ke rumah. Dalam hati, Tara masih saja belum ikhlas bekerja hanya sebagai staf biasa.


"Mas Tara, kenapa mukamu masih saja tak ceria? bukannya, papah sudah menerimamu bekerja di kantornya?"


"Kecewa, papahmu mempekerjakanku hanya sebagai staf biasa. Padahal aku ini kan menantunya," Tara mengerucutkan bibirnya.


"Mas, apa kamu tak paham dengan yang barusan papah katakan? jika cara kerjamu bagus dan benar-bebar sesuai kriteria, papah. Pastinya kamu tidak akan selamanya berada di staf biasa. Kesuksesan itu tidak instan, semua butuh proses dan kesabara," tukas Monalisa.


"Tapi dulu aku langsung menjabat menjadi presiden direktur di perusahaaan expedisi."


"Dulu yang kamu dapatkan secara instan dan bukan murni dari hasil kerja kerasmu, makanya tak bertahan lama kan?"


"Ya sudah, aku akan bersabar. Dan ingin tahu, sampai seberapa lama papahmu mempekerjakanku hanya sebagai staf biasa. Tapi kamu tak boleh menuntutku untuk masalah materi. Pasti kerja hanya sebagai staf biasa gajinya nggak seberapa," tukas Tara.


"Iya, mas. Kamu tenang saja, aku nggak meminta macam-macam darimu. Melihatmu sudah bersedia bekerja saja aku sudah sangat senang," Monalisa menyunggingkan senyuman.


"Berarti aku sudah bisa mendapatkan jatahku kan?" rayu Tara mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Maaf, mas. Aku belum bisa memberikannya, karena tamu bulanan sedang datang baru tadi pagi."


********


__ADS_2