Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Penuh Dengan Kebohongan


__ADS_3

"Sekalian saja kita cek buku nikah anak ibu dan Mas Tara. Kita bisa buktikan, buku nikah siapa yang asli dan buku nikah siapa yang palsu," tantang Laras tak gentar.


"Jika ketahuan siapa yang memalsukan buku nikah, orang itu pasti akan terkena tindak pidana. Apa kamu siap menerima konsekuenainya, Tiara?" Laras menatap tajam pada Tiara.


Wajah Tiara pucat pasi, dia mendadak panik dan gelisah. Pandangan matanya menerawang ke seluruh penjuru ruangan.


"Aduh, buku nikah aku dan Mas Tara kan palsu? jika di bawa ke KUA, pasti aku bisa kena pasal. Dan aku memang bisa kena tindak pidana," gerutu Tia dalam hati.


Selagi situasi sedang tegang, Tara pulang.


"Sayang, kok pintu nggak di kunci.." Tara terperanga matanya membola saat melihat ada Laras.


"Mas Tara, kenapa kaget seperti itu? seperti melihat hantu saja, aku ini masih sah istrimu. Kamu lama nggak pulang dan juga nggak ada kabar sama sekali, makanya aku mencari tahu keberadaanmu. Eh, ternyata selama ini betah di rumah maduku?" Laras sengaja menyindir Tara.


Tara tak bisa berkata apapun, karena ada ibu mertuanya.


"Duduklah, Nak Tara. Ibu ingin mendengar yang sebenarnya darimu, siapa wanita ini? apa kamu mengenalnya? dia mengatakan banyak hal pada kami." Pinta Bu Ita.


"A-aku.." Tara tak bisa berucap, seketika mulutnya menjadi kelu.


"Nggak usah gugup, Mas Tara. Katakan saja sejujurnya pada istri siri dan ibu mertuamu," pinta Laras tersenyum sinis pada Tara.


"Aku sama sekali tidak mengenal wanita ini," tiba-tiba Tara berkata


Hati Laras menjadi sangat sakit, saat mendengar perkataan dari Tara.


"Baiklah, jika kamu berkilah demi menutupi aibmu pada istri siri dan ibu mertuamu. Aku akan secepatnya mengurus perpisahan kita," ucap Laras ketus.


"Buku nikahmu palsu, bagaimana mau mengurus perpisahan?" Bu Ita tersenyum sinis pada Laras.


"Bukannya tadi sudah saya katakan pada, ibu. Jika masih kurang percaya, mari kita buktikan. Ambil buku nikah anak ibu, dan kita cek bersama. Supaya ibu tahu, buku nikah siapa yang palsu," tantang Laras.


"Tia, cepat kamu ambil buku nikahmu sekarang juga. Biar bisa di cek keasliannya," perintah Bu Ita pada Tia.

__ADS_1


Tia sejenak menatap pada Tara, seolah meminta persetujuan.


"Tia, kenapa kamu diam saja?" Bu Ita menatap tajam pada Tia.


"Tapi, bu..


"Tapi kenapa? cepat buruan ambil, supaya lekas terselesaikan permasalahan ini. Dan wanita ini tidak akan mengganggu rumah tanggamu dan Tara," perintah Bu Ita kembali.


"Buku nikahnya hilang, bu," Tia berbohong.


"Bagaimana bisa hilang, sejak kapan hilang?" Bu Ita merasa semakin curiga.


"Sejak beberapa hari yang lalu, bu. Saat kita pindahan kemari," Tia berbohong lagi.


"Ya sudah, besok kita melapor ke KUA dan kantor polisi tentang hilangnya buku nikahmu dan memeriksa buku nikah dia," ucap Bu Ita.


"Baiklah, bu. Kalau begitu saya permisi, besok pagi saya akan datang kembali. Asalamu alaikum." Laras bangkit dari duduknya dan tak lupa mengambil kembali buku nikahnya dan beberapa foto kenangannya bersama Tara.


Saat Laras akan keluar dari pintu rumah Tara, tiba-tiba berpapasan dengan Reno.


"Kamu nggak perlu tahu, papi tahu dari mana. Sekarang kita pulang, dan papi minta kamu jangan pernah datang lagi kemari. Dan lupakan pria pembohong sepertinya," Reno melotot pada Tara.


Reno lekas menuntun Laras pergi dari rumah tersebut.


"Pi, tapi kita jemput Risky dulu. Dia sendirian di rumah," pinta Laras seraya terus melangkahkan kaki mengikuti Reno.


"Risky sudah ada di mobil bersama, mami. Sebelum kemari, papi dan mami ke rumahmu dulu." Reno membukakan pintu mobil untuk Laras.


Laras lekas masuk mobil bersama Reno. Dan Reno lekas melajukannya arah pulang.


Seperginya Laras, Tara tak berkata apapun. Dia panik dan gelisah, dia lekas melangkah menuju ke kamarnya di ikuti oleh Tia.


"Sepertinya ada yang di sembunyikan oleh menantuku dan anakku, sebaiknya aku selidiki." Diam-diam Bu Ita mengikuti langkah kaki anak dan menantunya ke arah kamar mereka.

__ADS_1


Saat anak dan menantunya masuk ke dalam kamar, Bu Ita menguping di balik pintu kamar mereka yang sedikit terbuka.


"Mas Tara, coba jelaskan padaku? kalau tadi itu istri sahmu, bukan? lalu bagaimana dengan Bu Intan? kamu mengatakan jika Bu Intan istri sahmu dan saat ini sedang sakit keras?" tapi kenapa dia membawa buku nikah juga? apa buku nikah yang dia bawa kemari juga buku nikah palsu seperti buku nikah kita?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Tia.


Belum juga Tara menjawab pertanyaan Laras, karena dia bingung harus beralasan apa pada Tia. Tia telah berkata kembali.


"Mas Tara, bagaimana pula dengan besok. Jika wanita itu kemari lagi untuk mengajak kita ke KUA mengecek buku nikahnya? Sedangkan buku nikah kita yang palsu, makanya aku berbohong pada ibu?" Tia terus saja bertanya karena rasa paniknya.


"Mas Tara, jika buku nikah dia palsu. Pastinya dia gelisah, tapi aku melihat di wajahnya tidak ada rasa gentar sedikitpun, malah dia yang berinisiatif mengecek buku nikah kita," kembali lagi Tia berkata.


"Brisik saja! apa kamu nggak mikir, aku sedang banyak masalah di kantor! tambah lagi masalah di rumah! kenapa dia bisa datang kemari?" bentak Tara menatap sinis pada Tia.


"Mas, kok kamu marah padaku? apa salahku, dia datang sendiri kok. Katakan sejujurnya padaku, mas. Sebenarnya yang istri sahmu, Bu Intan atau wanita tadi?" kembali lagi Tia mengulang pertanyaannya .


Akhirnya Tara berkata jujur.


"Tadi istri sahku, justru Intan istri siriku tapi sekarang aku telah di cerai olehnya."


Bu Ita yang sedari tadi menguping, terus saja memegangi dadanya. Dia begitu tak percaya dengan apa yang telah di dengarnya.


"Ya Allah, aku pikir Tara adalah pria yang baik. Ternyata dia pria yang sangat buruk. Bahkan anakku juga ikut berbohong padaku," gerutu Bu Ita seraya matanya mengeluarkan bulir bening.


Perlahan tubuhnya mulai lemas, pandangannya berkunang-kunang, kepalanya terasa berat, dan dadanya semakin sakit. Seketika itu juga, Bu Ita sudah tak bisa menopang tubuhnya sendiri.


Tubuhnya limbung dan membentur pintu kamar Tia yang sedikit terbuka menjadi terdorong sehingga terbuka lebar. Bu Ita jatuh pingsan di pintu kamar Tia.


"Bu-ibu." Tia berlari menuju ke arah pintu kamarnya.


Sementara Tara hanya terpaku diam menatap peristiwa itu. Diamnya Tara membuat kesal Tia.


"Mas Tara, cepat kemari tolong aku!" teriaknya melotot pada Tara.


Tara menghela napas panjang, dengan langkah gontay menghampiri Tia, dan mengangkat Bu Ita. Tara membaringkan Bu Ita di kamarnya.

__ADS_1


"Kamu urus ibumu, aku mau mandi karena gerah." Tara pergi begitu saja meninggalkan Bu Ita dan Tia.


***********


__ADS_2