Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Tia Mengalah


__ADS_3

Mendengar ucapan dari Tara, Tia tidak diam saja. Dia tak terima dengan keputusan Tara.


"Tidak bisa! aku tidak salah, aku tidak akan mau di cerai!" kata Tia lantang.


"Jika kamu tidak mau di cerai, kamu yang akan menjadi madu, Mona. Karena aku menikah denganmu hanya menikah siri. Aku akan menikah resmi dengan Mona," Tara berucap tanpa ada rasa salah sedikitpun.


"Tidak! sudah cukup aku menjadi madu! dulu kamu berjanji setelah urusanmu dengan istri sahmu selesai, kamu akan menikahiku! mana buktinya? kamu malah akan menikahi dia, sampai kapanpun aku tidak akan terima dengan keputusan ini!" Tia berkata lantang.


"Jadi selama ini kamu telah berbohong padaku, Mas Tara. Kamu katakan dia ini yang istri sah, tapi ternyata statusnya sama denganku?" Mona mendengus kesal seraya mengepalkan tinju.


"Dan kamu, kenapa menyebutku pelakor? sedangkan dirimu sendiri juga pelakor? sama saja maling teriak maling," Mona mencibir tersenyum sinis pada Tia.


Mendapat cemoohan tersebut, Tia mati kutu. Dia sama sekali tak bisa berkata apapun. Dia menyadari yang di ucapkan oleh Mona memang benar adanya. Tia diam saja, perlahan pikirannya traveling pada Atin.

__ADS_1


"Padahal dulu Cantika telah menasehatiku, tetapi aku sama sekali tak menghiraukannya. Aku malah semakin melangkah lebih jauh. Mungkinkah ini karma buatku, karena telah menyakiti istri sah, Mas Tara?" Tia merutuki dirinya sendiri di dalam hati.


"Heh, kenapa kamu diam saja? pasti kamu sedang menyadari apa yang aku ucapkan adalah benar adanya, iya kan?" tegur Mona tersenyum sinis pada Tia.


"Iya, aku memang sadar. Apa yang aku lakukan dulu memang salah, dan kini aku telah mendapatkan karma dari perbuatanku menjadi pelakor. Aku yakin, kelak kamu juga akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Lihat saja, dengan istrinya saja dia tak setia dan bersamaku. Pasti kelak kamu juga di perlakukan sama olehnya," dengan lantangnya Tia berkata.


"Tutup mulutmu! atau mau aku sumpal pake kaos kaki!" Mona tak bisa menahan amarah.


Mona menghampiri Tia dan menarik rambut Tia. Perkelahian tak bisa di elakkan, Tia tak mau tinggal diam. Dia mencakar wajah Mona.


"Putri anda yang gila! sudah tahu pria beristri, masih saja di dekati." Bentak Tia seraya merapikan rambutnya.


"Heh, enak saja kamu mengatakan aku gila! kamu yang nggak waras, stres!" Mona tak mau kalah membalas hinaan dari Tia.

__ADS_1


Sementara Tara malah terus saja diam melihat keduanya berantem. Dia bingung harus membela yang mana dan harus berbuat apa supaya permasalahan lekas selesai.


"Baiklah, Mas Tara. Aku mundur saja, tapi aku minta kamu memberiku harta gono gini. Walaupun aku tak bekerja setelah menikah denganmu. Tapi kamu punya anak dariku yang harus di nafkahi," ucap Tia.


"Baiklah, aku akan penuhi maumu. Rumah ini memang sudah atas namamu jadi untukmu. Aku akan memberikan separuh tabunganku untukmu," ucap Tara tegas.


"Tidak bisa, kenapa kamu melakukan itu! aku nggak rela!" Mona berkata lantang.


"Mona, diam! jangan sampai papah emosi dan menampar mulutmu yang tak bisa diam itu!" ancam Delta ketus.


Mona pun tak berkata lagi, dia hanya diam membisu dengan mengerucutkan bibirnya.


"Baiklah, mas. Aku terima, tapi tolong di urus sekarang juga. Kamu transfer separuh tabunganmu pada nomor rekeningku. Dan aku ingin cek dulu berapa nominalnya sebelum kamu tansferkan ke nomor rekeningku," ucap Tia.

__ADS_1


*******


__ADS_2