
Desny juga tak percaya jika anaknya sudah bertindak di luar batas yakni berpacaran dengan suami orang, bahkan sampai hamil pula.
"Mona, apa saat kamu akan melakukan hal ini tidak berpikir secara matang dulu. Apa yang kamu lakukan adalah salah, nak," Desny menitikkan air mata.
Beberapa bulan lamanya, dia merindukan anak bungsunya. Akan tetapi setelah bertemu malah kondisinya sangat menyedihkan.
"Mamah-papah, nggak usah menyalahkan aku. Justru semua yang terjadi padaku karena kesalahan kalian!"
"Jika kalian tak memaksa aku menikah dengan pria tua itu, aku tidak akan lari dari rumah dan tidak akan melakukan hal sejauh ini."
"Selama ini Mas Tara yang selalu membuatku tersenyum dan selalu ada untukku."
"Bukankah kalian tahu, jika cinta itu buta. Maka dari itu aku juga tak berpikir jernih jika Mas Tara telah beristri dan punya anak."
"Apa lagi dia berjanji padaku akan menikah denganku dan membuatku bahagia. Dia juga berjanji padaku akan menceraikan istrinya."
__ADS_1
Begitu panjangnya cerita dari Mona pada orang tuanya.
"Baiklah, karena semua terlanjur basah. Dan anakku telah hamil olehmu, kamu harus segera menikahinya, dan kamu cerai dia!" Delta melotot pada Tara dan menunjuk pada Tia.
Tara hanya diam saja, dari tadi dia tak bisa berkata sama sekali. Dia bingung untuk memutuskan permasalahan yang dia buat rumit sendiri.
"Bagaimana ini? awalnya aku hanya iseng ingin bermain-main saja dengan, Mona. Melepas kejenuhanku pada Tia yang pada saat itu sibuk mengurus ibunya di rumah sakit. Aku nggak menyangka menjadi rumit, dengan adanya kehamilan, Mona," dalam hati Tara menggerutu sendiri.
"Jawab, kenapa kamu diam saja?" Delta mendorong bahu Tara dengan telunjuknya.
"Ceraikan istrimu sekarang juga, karena aku nggak ingin putriku menjadi madunya!" perintah Delta.
"Pah, kasihan. Bagaimanapun istrinya tidak salah, dia hanya korban. Di sini yang salah suaminya dan anak kita, pah." Desny mencoba menasehati suaminya.
"Mah, kenapa mamah bukan membelaku? tapi malah membela wanita dekil itu?" Mona tak terima, dia mendengus kesal seraya menatap sinis ke arah Tia.
__ADS_1
" Saya nggak terima jika di perlakukan seperti ini. Saya bisa sebarkan pada semua orang jika anak om ini adalah pelakor! karena sudah tahu, pria ini punya istri tapi kenapa masih juga mau dengannya?" Tia tak mau kalah, dia ingin mempertahankan statusnya sebagai istri Tara.
"Hello, kamu ngaca dan sadar diri. Selama beberapa bulan terakhir, kamu kemana? sibuk dengan ibumu, kan? sampai kamu lupa mengurus suami dan anakmu. Makanya suamimu berpaling darimu," Mona membela diri, dia merasa tidak bersalah.
"Diam kalian berdua! disini yang berhak memutuskan adalah dia!" bentak Delta seraya menunjuk pada Tara.
"Buktikan kalau kamu benar-benar pria sejati! pertanggung jawabkan apa yang telah kamu perbuat pada anakku!" Delta terus saja memojokkan Tara.
Hingga Tara tak bisa berkilah lagi seperti biasanya.
"Baiklah, om. Beri saya waktu satu hari untuk berpikir. Besok malam saya akan menemui, om." ucap Tara.
"Tidak bisa! aku ingin sekarang juga kamu memutuskannya! saat kamu merayu anakku, apa kamu berpikir panjang? lantas kenapa pada saat di mintai pertanggung jawaban, kamu minta waktu untuk berpikir!" bentak Delta.
"Baiklah, om. Saya akan ceraikan istri saya sekarang juga di hadapan, om," Tara akhirnya menyerah.
__ADS_1
********