
Saat ini, perut Monalisa juga telah membesar. Tapi Tara belum juga mendapatkan pekerjaan. Sementara uang tabungannya perlahan tapi pasti sudah mulai menipis.
"Mas Tara, apa kamu betah nganggur di rumah saja? sementara setiap hari kita harus tetap makan? cari kerja atau apa, masa berdiam diri di rumah saja?" Mona sudah mulai bosan dengan kehidupan rumah tangganya yang terasa monoton.
"Aku itu tidak biasa kerja dengan orang, sudah berapa kali aku mengatakannya padamu kan? masih saja kamu bahas hal ini," mulai Tara terpancing emosi.
"Melihat kondisi seperti sekarang ini, ya harus dibiasakanlah. Nggak perlu jual gengsi, mas. Memang jika dengan gengsimu yang besar itu, kita kenyang? kita butuh duit, terutama untuk anak ini," Monalisa menunjuk ke perutnya sendiri yang sudah terlihat membesar.
"Semakin hari perutku semakin membesar, kebutuhan juga semakin bertambah. Apalagi menjelang melahirkan dan masa depan anak kita. Jika kamu masih saja betah standbay, bermalas-malasan di rumah, mau bagaimana kehidupan kita di masa depan?" terus saja Mona berusaha membuat supaya Tara berpikir.
"Ternyata sifat aslimu ini cerewet sekali ya? semua terlihat setelah aku menikah denganmu," Tara tersenyum sinis.
"Aku cerewet karena kamu juga, mas. Kamu pikir aku nggak kaget setelah menikah denganmu? ternyata kamu ini pemalas, dan kayu bisa sukses dulu juga karena harta istrimu, kan? si Intan itu," ucap Monalisa mencemooh.
__ADS_1
"Kamu sama sekali tidak bisa menghargai suamimu ya, istri seharusnya mengayomi bukan selalu membuat emosi suami. Hampir setiap hari, kamu membuatku marah."
"Bukannya kamu membantu mencarikan solusi untuk menyelesaikan permasalahanku. Tapi malah selalu memojokanku seperti sekarang ini."
Tara mulai tak bisa menahan rasa emosinya.
"Sebagai suami yang bertanggung jawab, seharusnya kamu bisa mencari solusi dari permasalahanmu sendiri."
"Baiklah, aku akan mencarikan solusi untukmu, mas. Aku yang akan bekerja, tapi kamu yang mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga."
"Kamu sama saja merendahkanku, masa seorang suami melakukan pekerjaan rumah tangga? kalau memberi sebuah solusi itu yang benar dong, jangan asal ngomong," Tara mendengus kesal.
"Sudahlah, itu keputusan dariku. Jika kamu tak mau ya silahkan menahan rasa lapar karena gengsi." Monalisa berlalu pergi begitu saja.
__ADS_1
"Mona, kamu mau kemana? kita belum selesai ngomongnya sudah main pergi saja," Tara memanggil, Mona tapi sama sekali tak di hiraukan oleh, Mona.
"Ternyata memang tak enak hidup dengan, Mas Tara. Aku pikir akan bahagia, tapi pada kenyataan seperti ini." Mona melangkah menyeberang menuju ke rumah orang tuanya.
"Mona, kenapa wajahmu murung? jangan katakan jika ini semua karena, Tara yang tak berguna itu," Delta menautkan alis.
"Ya siapa lagi kalau bukan dia, pah? memangnya berapa suamiku, kan hanya dia saja." Mona menjatuhkan pantatnya di sofa ruang tamu di mana saat ini duduk kedua orang tuanya.
"Pah, apa yang dulu pernah papah katakan memang benar adanya," Mona menghela napas panjang.
"Apa? jadi, Tara punya wanita lagi?" Delta membola dan mulai terpancing emosi.
"Nggak sih, pah. Cuma pernah aku nggak sengaja melihat dia sedang chat dengan beberapa wanita dari sosial media akun facebooknya. Tepat pada saat aku mendapatkan pinjaman modal dari, papah. Makanya saat aku akan memberikan uang dari, papah. Aku pikir ulang lagi, pah," Mona menghela napas panjang.
__ADS_1
*****