
Setelah sesaat telponan, mereka akhirnya merencanakan bertemu. Intan penasaran dengan apa yang ingin di katakan oleh wanita itu. Dia pergi menemui Laras tanpa sepengetahuan Tara.
Intan juga penasaran dengan wanita yang menelponnya, karena dia tidak hapal jika itu suara Laras. Dan kenapa pula Tara memblokir nomor wanita tersebut.
Mereka bersepakat bertemu di sebuah taman. Tak berapa lama kemudian mereka telah berada di taman.
"Oh, ternyata yang menelponku Laras. Kok aku nggak bisa memahami suaranya ya. Pantas saja nomornya di blokir sama Tara," batin Intan mendengus kesal.
Mereka duduk berdampingan di salah satu kursi yang di sediakan di taman tersebut.
"Maaf ya, Laras. Nomor ponselmu di blokir sama suamiku," Intan menatap lekat Laras.
"Memangnya kenapa, kok begitu suami ibu?" Laras mengernyitkan alisnya tanda bingung.
"Jika kamu tahu alasan yang sebenarnya kenapa Tara memblokir nomormu, pasti kamu kaget dan nggak percaya." Batin Intan.
"Bu Intan, kenapa diam saja?" Laras mengagetkan lamunan Intan.
"Aku juga sedang berpikir, kenapa suamiku melakukan itu semua." Intan berbohong pada Laras.
"Memangnya kamu ingin bercerita apa, Laras?" tanya Intan mengalihkan pembicaraan.
"Bu, ternyata aku ini bukan anak kandung dari ibuku. Kata papi, aku di bawa papi sejak aku di lahirkan oleh ibuku."
"Bu, aku sedang bingung. Karena ucapan papi dan mami itu bertolak belakang."
"Papi mengatakan jika ini kesalahan papi yang telah selingkuh dengan mami dan mengambil paksa aku saat baru di lahirkan."
"Mami berkata lain, dia bilang tidak pernah selingkuh dengan papi, tapi menikah resmi. Dan aku di rawat dia, karena ibu kandungku meninggalkanku begitu saja."
"Aku bingung, bu. Harus percaya pada siapa? aku ingin sekali mencari tahu di mana keberadaan ibu kandungku, tapi aku sama sekali nggak tahu seperti apa wajahnya?"
Demikian Laras mencurahkan isi hatinya pada Intan. Dia bingung bagaimana caranya supaya bisa bertemu ibu kandungnya.
"Kalau di pahami secara seksama, kok cerita Intan mirip ceritaku? apa sebaiknya aku tanya saja siapa orang tuanya dan aku minta Laras menunjukkan foto orang tuanya padaku," batin Intan sangat penasaran.
"Laras, boleh nggak ibu melihat foto papi dan mami kamu?" tanya Intan penasaran.
"Boleh, bu. Sebentar ya." Laras membuka ponselnya, namun saat akan menunjukkan foto Saras dan Reno, tiba- tiba ada yang menelponnya.
__ADS_1
Asisten rumah tangganya menelpon mengatakan jika Rizky saat ini sedang menangis, dan terus saja meminta bertemy dengannya. Walaupun sudah di hibur dengan berbagai cara namun Rizky tetap saja menangis.
Akhirnya Laras berpamitan pada Intan tanpa menunjukkan foto orang tuanya karena terburu-buru.
"Bu, maaf. Aku harus pulang sekarang, karena anakku menangis. Assalamu alaikum." Laras berlari kecil langsung menghentikan taxi yang kebetulan melintas.
Laras langsung saja masuk dalam taxi tersebut.
"Belum juga aku melihat foto orang tua Laras, dia sudah main pergi saja." Intan juga melangkah menuju ke mobilnya.
Dia melajukan mobilnya arah pulang karena sudah tidak ada lagi urusan di luar rumah. Dia akan gunakan waktu sebaik mungkin, untuk istirahat.
Tak berapa lama, sampailah Intan di rumah. Dia langsung merebahkan badannya di pembaringan, sementara Tara masih terlelap dalam tidur.
"Dasar licik, main hapus nomor Laras." Intan menatap sinis pada Tara yang sedang terlelap pada tidur.
Setelah itu, diapun memejamkan matanya. Hingga pagi menjelang, keduanya baru terbangun.
"Selamat pagi, sayang." Tara mengecup kening Intan.
"Bagaimana kondisimu, apa perutmu masih sakit?" Tara mengusap perlahan perut Intan, dan mencium perutnya.
"Kamu mau sarapan apa? biar aku carikan, biasa kan orang hamil suka ngidam?" Tara sangat antusias.
"Aku nggak ingin apapun, hanya ingin istirahat saja," jawab Intan lirih.
Dia merasa lemas, saat telah bangun, dia ingin tidur kembali.
"Ya sudah, kamu tidur lagi saja. Nanti kalau butuh apa-apa bilang saja. Aku akan standby di rumah," Tara menyunggingkan senyum.
"Yakin, bisa sih? kamu standby di rumah, paling sebentar lagi pergi ke rumah Laras," Intan tersenyum sinis.
"Bisa, sayang. Aku pastikan tidak akan kemana-mana," Tara berusaha meyakinkan Intan.
"Kakiku sakit, tolong panggilkan tukang urut samping rumah." Pinta Intan lirih.
"Biar aku saja yang mengurut kakimu." Tara langsung memijit kaki Intan.
Hingga Intan kembali tertidur, dan pada saat itu di dalam hati Tara terselubung niat akan pergi ke rumah Laras.
__ADS_1
"Intan sudah tertidur pulas, aku akan ke rumah Laras sejenak." Tara keluar dari kamar.
Segera dia melajukan mobilnya menuju rumah Laras, hanya beberapa menit saja telah sampai. Namun Tara pulang dengan membawa kekesalan.
"Mas, baru pulang? mau kopi atau mau makan?" Laras menghampiri Tara akan menyalaminya, namun Tara menepis tangan Laras.
Tiba-tiba Tara marah pada Laras dengan berkata kasar padanya.
"Maksud kamu apa, menghubungi Bu Intan?" Tara keceplosan menanyakan hal itu.
"Dari mana, mas tahu?" Laras merasa heran.
"Aduh, kenapa aku keceplosan seperti ini?" gerutu Tara dalam hati.
"Ya tahu, karena barusan aku bertemu dengannya secara nggak sengaja. Dan dia bercerita semuanya padaku," Tara berbohong untuk menutupi kegugupannya.
"Masa sih? memang Bu Intan cerita apa saja?" Laras merasa penasaran.
"Banyak, intinya kamu jangan ganggu waktu dia. Karena dia itu orang sibuk, jadi tidak ada waktu untuk mengurusi curhatanmu itu. Lagi pula kamu aneh, punya suami malah curhatnya ke orang lain." Tara menatap sinis pada Laras.
"Padahal tadi Bu Intan ramah, dia nggak berkata apapun," batin Laras.
"Aneh, tadi saat dia bertemu denganku sama sekali tidak ada raut keterpaksaan. Sikap dia biasa saja, mas." Laras berkata jujur.
"Jadi mereka sempat bertemu, kok aku sama sekali nggak tahu?" batin Tara mendengus kesal.
"Itu karena dia merasa nggak enak padamu. Pokoknya aku minta kamu nggak usah berhubungan lagi dengan Bu Intan. Karena dia selalu menegurku setelah kalian bertemu. Bahkan dia mengatakan jika aku suami yang tak berguna karena nggak bisa mendidikmu."
"Dia wanita karir yang super sibuk, jadi kamu jangan ganggu waktunya. Aku yang malu setiap kali mendapat teguran."
"Aku minta kamu menurut padaku, jika kamu masih menganggapku suamimu. Curhat padaku saja kan bisa."
Tara pulang hanya untuk menasehati Laras panjang lebar. Bukan bertanya kabar Rizky bagaimana. Laras merasa heran dengan perubahan suaminya yang sekarang suka sekali marah-marah.
"Bagaimana aku curhat padamu, setiap aku ingin bercerita denganmu, kamu entah berada di mana. Bahkan nomor ponselmu nggak bisa di hubungi," Laras berusaha membela diri.
"Di nasehati suami malah membangkang. Jika aku sedang pergi, setidaknya tunggu sampai aku kembali kan bisa," Tara melotot pada Laras.
*******
__ADS_1