Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Suasana Yang Berbeda


__ADS_3

Reno melajukan mobilnya untuk kembali kerumah, setelah sampai di rumah wajah Reno murung. Dia menghempaskan badannya ke sofa ruang tamu. Kemurungan Reno membuat Saras penasaran dan duduk menghampiri Reno.


"Mas, kok cepat banget sudah pulang?" Saras mengernyitkan alisnya.


"Nggak ada orang, rumahnya di gembok dari luar." Jawab Reno singkat.


"Ya sudah, nanti siang saja ke sana lagi. Mungkin mereka sedang ada urusan," Saras mencoba menenangkan suaminya.


Setelah itu Saras beranjak pergi ke dapur untuk memasak, karena asisten rumah tangganya sedang sibuk membersihkan pecahan guji, vas bunga dari keramik yang berserakan di lantai ruang tengah.


Sementara Reno tertidur dalam posiso duduk di sofa ruang tamu.


Berbeda suasana di rumah Intan, dia terus saja bersedih memikirkan Laras yang dia tahu telah meninggal dunia karena tipu daya Tara.


"Ya Allah, puluhan tahun aku selalu mencari keberadaan anakku, namun setelah mengetahuinya malah seperti ini adanya."


"Aku sama sekali tak di beri kesempatan oleh Allah untuk bisa memeluk anakku, yang kupeluk malah batu nisan."


"Pupus sudah harapanku untuk bisa bersama anakku. Hilang sudah hayalku tentang indahnya bertemu anakku."


"Kenapa saat beberapa kali bertemu, Mas Reno tidak berkata jujur tentang kondisi anakku?"


Demikian gerutuan Intan seraya menatap langit-langit kamar dengan deraian air mata. Bu Mita yang berniat membawakan sarapan untuk Intan, ikut merasa iba melihat kondisi Intan.


Sejak mendengar berita meninggalnya anak kandungnya, Intan menjadi murung bahkan sesekali menangis.


Bu Mita menghampiri Intan, dia duduk di pinggir ranjang.


"Intan, sarapan dulu. Semalam kamu kan nggak makan malam, kasihan anak yang ada di perutmu. Jangan karena kamu memikirkan anak yang satu, tapi anak yang lain menjadi korbannya," Bu Mita membujuk Intan supaya bersedia makan.


"Astaghfirulloh alazdim, apa yang ibu katakan memang benar adanya. Aku telah melalaikan anakku yang di kandungan. Maafkan ibu ya, nak." Intan mengusap perutnya yang masih rata.

__ADS_1


Intan bangkit dari bebaringnya, dan lekas menyantap sarapan yang di bawakan oleh ibunya. Bu Mita yang melihat Intan telah bersedia makan, menjadi sangat senang.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Akhirnya anakku bersedia untuk makan," ucap syukur Bu Mita di dalam hati seraya tersenyum melihat Intan makan dengan lahapnya.


Bu Mita tak berani berkata apapun, karena khawatir salah berucap yang akhirnya menjadi menyinggung perasaan Intan. Dia hanya berkata seperlunya saja.


Beberapa saat setelah Intan selesai sarapan, dia memutuskan untuk melakukab ritual mandi paginya. Dia berniat untuk mengecek beberapa restorannya, karena dia suntuk di rumah saja. Pikirannya menjadi tertuju pada Laras yang di kiranya telah benar-benar meninggal dunia.


"Lebih baik aku ke restoran, daripada di rumah terus aku selalu kepikiran almarhuman Laras." Gerutunya seraya berpakaian.


"Hidup harus terus berjalan, aku akan mencoba mengikhlaskan kepergian anakku, karena aku harus terus berjuang demi anak yang aku kandung ini." Batinnya seraya mengusap perutnya.


Setelah itu, Intan lekas berangkat ke restoran. Saat ini dia sedang tidak memikirkan Tara yang selalu menghilang begitu saja. Intan sudah lelah, terus saja kesal karena sikap Tara yang selalu membohonginya.


"Nggak punya ponsel bingung juga, sebaiknya aku membeli ponsel sekarang juga," Intan terus saja menggerutu seraya melajukan mobilnya.


"Sebaiknya aku ke restoran dulu, memberitahu pada semua karyawanku jika ponselku hilang. Aku khawatir ada klien atau karyawan menghubungiku lewat nomor ponselku. Ternyata repot juga kalau tidak punya ponsel," gerutunya kembali masih dengan melajukan mobilnya.


Hal tersebut juga di lakukan ke dua cabang restoran yang lain.


"Alhamdulilah, isu makanan ada kecoa tidak berpengaruh pada restoranku yang lain. Empat restoran, hanya satu yang di tutup gara-hara isi kecoa," batin Intan kembali.


Setelah selesai mengecek tiga restorannya, Intan segera menuju ke toko ponsel untuk membeli sebuah ponsel.


Waktu telah berlalu begitu cepatnya, tsk terasa telah siang. Reno kembali mencoba menghubungi ponsel Laras, namun tidak juga aktif. Dia juga pergi ke rumah Laras kembali, namun masih saja di kunci pintu gerbangnya dari luar.


Reno semakin gelisah dan semakin penasaran.


"Dua kali aku kemari, tapi pintu gerbang masih saja di kunci dari luar. Nomor ponsel juga tidak bisa di hubungi. Ada apakah sebenarnya?" gerutunya dalam hati.


Reno memutuskan untuk menghubungi nomor ponsel Tara. Namun juga sama saja, nomor ponsel Tara juga tidak bisa di hubungi sama sekali.

__ADS_1


"Bagaimana aku akan tenang jika seperti ini, suami istri nomor ponsel sama-sama nggak bisa di hubungi. Terus aku harus mencari tahu pada siapa?" Reno menjadi semakin panik saja.


Berbeda lagi suasana di kontrakan baru Tara. Saat ini Tara sedang mengendap-endap ke bagasi mobilnya. Dia memutuskan mengambil ponsel yang di sembunyikan di bagasi tersebut.


Tara hanya mengambil ponsel milik Intan, sementara ponsel Laras tetap saja di sembunyikan.


"Lumayan irit uang, ponsel milik Intan biar aku berika pada Laraa. Dan ponsel Laras tetap aku sembumyikan," Batin Tara seraya meraih ponsel milik Intan yang di sembunyikannya.


Dengan langkah pasti, Tara mencari keberadaan Laras hanya untuk memberikan ponsel tersebut. Tara menemukan Laras sedang berada di kamar untuk menidurkan Risky.


"Sayang, kemari sebentar. Risky sudah bisa di tinggal kan?" Tara melambaikan tangannya di balik korden pintu kamarnya.


Laras segera bangkit dari pembaringan, dia melangkah menghampiri Tara yang sedang menunggunya.


"Ada apa, mas?" Laras mengernyitkan keningnya.


"Aku hanya ingin memberimu ini." Tara memberikan ponsel milik Intan pada Laras.


"Ini buatku?" Laras menerima ponsel tersebut.


"Iya, tapi maaf bukan ponsel baru. Itu ponselku juga, aku memiliki dua ponsel. Tapi aku lupa jika yang ada di tanganmu itu sempat aku simpan dan tidak aku pakai," kata Tara sedikit gugup.


"Kamu nggak apa-apa kan? jika memakai ponsel bekas bukan ponsel baru?" Tara memastikan khawatir Laras tak bersedia.


"Mas, terima kasih ya. Entah ponsel baru atau seken itu tidak masalah buatku. Yang terpenting aku bisa tetap berkomunikasi dengan papi. Lagi pula ponsel ini lebih bagus dari ponselku yang dulu," Laras menyunggingkan senyum.


"Sukurlah kalau begitu, aku menjadi lega mendengarnya. Tapi aku minta maaf ada suatu kepentingan yang harus segera aku selesaikan. Jadi aku harus pergi sekarang juga," Tara lekas melangkah pergi menuju ke mobilnya.


Laras hanya bisa berpesan supaya Tara berhati-hati selama dalam perjalanan. Dia tidak berani berkomentar apapun. Karena dia sudah paham sifat dari Tara yang mudah sekali marah jika Laras terlalu banyak bertanya.


*******

__ADS_1


__ADS_2