
Keputusan Delta membuat Mona kecewa. Tapi Mona terus saja membujuk Delta.
"Pah, aku mohon bebaskan Mas Tara. Jika dia mogok makan berhari-hati pasti akan mati bagaimana?"
"Mona-Mona, kamu itu pintar dan anak kuliahan. Masa percaya saja dengan omongan, Tara? kamu nggak udah khawatir, Tara nggak akan mati. Dia hanya mencari cara supaya di bebaskan. Apa kamu mau anakmu tanpa ayah?" ucap Monica seraya terkekeh dan menggelengkan kepala.
"Iya, bodo sekali kamu, Mona. Pantas saja mudah di perdaya oleh, Tara," Momoy ikut mencemooh.
"Nak, dengarkan apa yang kakak-kakakmu katakan. Jika kamu nggak ingin Tara melarikan diri darimu. Karena dia pria yang tak bisa di percaya begitu saja. Lagi pula, dia nggak akan mogok nggak makan. Percaya saja pada kami jika anak di dalam perutmu memiliki ayah," Delta mencoba meyakinkan Mona.
"Kamu nggak usah banya pikiran, biar kami yang mengatur semuanya. Supaya kalian bisa menikah secepatnya," ucap Monica menenangkan Mona.
Mendengar papah dan kakaknya berucap, Mona sudah tak berani membujuk Delta lagi. Dia menuruti saja kemauan keluarganya.
__ADS_1
Mona pergi berlalu dari hadapan keluarganya. Kini dia merebahkan dirinya di pembaringan. Pikirannya traveling entah kemana saja.
Dia sudah tak bisa menentang papahnya lagi, karena kondisinya sedang hamil dan sangat membutuhkan perlindungan papahnya.
"Jika aku menentang, papah. Aku tak bisa mengatasi permasalahanku sendiri, apa lagi Mas Tara tak bisa di percaya. Tapi mau sampai kapan papah mengurungnya? Mas Tara juga punya kerjaan, nanti bagaimana dengan urusan perusahaannya?" gerutu Mona seraya menatap langit-langit kamar.
Sementara Tara gelisah menanti Mona kembali menemuinya tapi tak kunjung terlihat batang hidungnya.
"Risau, karena anakku tak jua datang kemari?" tiba-tiba muncul Delta di hadapan Tara, membuatnya terlonjak kaget.
"Akal licik apa lagi yang ingin kamu lakukan? supaya kamu bisa keluar dari tempat ini? jika kamu terus saja mengelak untuk menikahi Mona, sampai kapanpun kamu juga akan terus mendekam di kamar ini," Delta tersenyum sinis.
"Berapa kali aku katakan pada anda, jika aku belum bisa menikahi, Mona. Karena aku baru cerai dari Tia beberapa hari yang lalu. Aku harus menunggu masa iddah tiga bulan," Tara mencoba berbohong pada Delta.
__ADS_1
"Kamu pikir bisa membodohiku! aku ini bukan anak kecil yang bisa kamu bodohi, dan pula bukan Mona! masa iddah itu berlaku hanya untuk wanita bukan lelaki! jika kamu tetap bersi keras seperti ini, aku juga bisa membawamu ke ranah hukum! karena kamu tak bersedia mempertanggung jawabkan perbuatanmu yang telah menghamili anakku!" berbagai ancaman di lontarkan oleh Delta.
"Anda tidak bisa seenaknya main lapor, karena kita melakukannya atas dasar suka sama suka," Tara berkata dengan lantangnya.
"Bug Bug" dua pukulan mendarat di perut Tara.
"Anda juga bisa kena pasal, telah menganiaya aku!" Tara memegang perutnya yang terkena pukul oleh Delta.
"Baiklah, kalau kamu tetap pada pendirianmu tidak mau bertanggung jawab, aku akan membuat hidupmu menderita selamanya! lihat saja!" Delta berlalu pergi begitu saja meninggalkan Tara yang masih saja kesakitan.
"Sialan, kenapa susah sekali meminta lelaki itu untuk menikahi, Mona." Delta terus saja melangkah seraya mendengus kesal.
**********
__ADS_1