Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Suasana Baru Intan


__ADS_3

Tara bisa bernapas lega, karena sertifikat perusahaan telah bisa dia ambil kembali.


"Aku sudah kirim bayaran untuk kalian bertiga ke salah satu nomor rekening kalian." Tara menunjukkan bukti transferannya pada salah satu anak buahnya.


"Baik, bos. Terima kasih, jika ada pekerjaaan buat kami jangan sungkan hubungi salah satu dari kami kembali. Kami permisi dulu, bos." Salah satu anak buah Tara pamit padanya untuk mewakili kedua temannya.


Mereka bertiga pergi setelah melaksanakan tugasnya. Tara juga kembali ke rumahnya. Namun terlebih dulu dia melajukan mobilnya ke taman.


"Aku akan mengecek sertifikatnya dulu sebaiknya aku cari tempat yang aman." Tara menghentikan mobilnya di taman yang tak jauh dari laju mobilnya.


Perlahan Tara membukanya, dan dia mengernyitkan alisnya karena ada surat yang hilang.


"Loh, kok surat perceraian antara aku dan Intan tidak ada? apa mungkin Laras telah mengetahui tentang hubunganku dengan Intan? tapi aku rasa dia belum tahu. Jika dia tahu pasti akan menegurku dan pasti akan marah besar pada Intan. Ah bodo amat, yang terpenting sertifikat ini sudah aman di tanganku," Tara menciumi sertifikat tersebut.

__ADS_1


Dia melanjutkan kembali perjalanannya kembali ke rumah. Dia tidak bekerja hari ini karena sedang tidak bersemangat.


Berbeda situasi di rumah Intan, dimana saat ini dia sudah bisa melupakan kepahitan hidupnya bersama Tara. Adam juga tumbuh dengab sehat, dan semakin menggemaskan.


"Mba Atin, hari ini tidak ke kios?" Intan mengernyitkan alis saat melihat Atin sedang asik menyirami tanaman.


"Lagi libur, cape. Katanya ibu sesekali ingin di kios bersama bapak, ya sudah aku ijinkan saja. Aku juga ingin bermain bersama si cubby Adam." Atin bersemangat dalam menyirami tanaman yang ada di halaman apartement Intan.


Dari dulu hingga sekarang, Atin hobby sekali dengan tanaman. Bahkan tanaman yang ada di rumahnya di bawa semua ke apartement Intan.


"Memangnya mau kemana? apa nggak sebaiknya aku saja yang pergi?" Atin menawarkan diri.


"Katanya mba pengen bermain sama Adam, ya sudah aku saja yang pergi. Sudah lama aku nggak cek beberapa restoranku, mba," Intan menatap memohon pada Atin.

__ADS_1


"Ya sudah, pergilah. Jangan lupa ASI buat si endut Adam," Atin terkekeh seraya bercanda dengan baby Adam yang sedang di gendong Intan.


Sebenarnya Intan sudah mempekerjakan baby sitter, tapi dia tidak menyerahkan sepenuhnya urusan baby Adam pada baby sitter. Karena menurutnya, baby Adam masih terlalu kecil jika di rawat sepenuhnya oleh baby sitter.


Intan sejenak menunggu Atin selesai menyirami semua tanaman yang ada di halaman. Setelah itu barulah Intan menyerahkan baby Adam pada Atin sepenuhnya.


Dia lekas melajukan mobilnya meluncur ke tiga restoran miliknya. Senyum mengembang tersungging di bibirnya yang tipis.


"Baru dua bulan saja aku di rumah, tapi terasa bosan rasanya. Semoga semua restoranku semakin berkembang demi masa depan Adam." Gerutu Intan di sela mengemudinya.


Dia susah tidak sabar ingin lekas sampai di restorannya.


Sementara saat ini beberapa anak buah Monica dan Momoy terus saja mencari keberadaan Monalisa. Mereka belum juga bisa menemukannya. Karena sejak Monalisa tinggal di rumah Tara, dia jarang sekali keluar rumah.

__ADS_1


Jika keluarpun pada malam hari dimana para anak buah Monica dan Momoy jarang beraksi dalam pencarian.


******


__ADS_2