
"Aku nggak boleh lemah, nggak boleh nangis. Aku nggak ingin ibuku ikut merasakan kesedihanku," Intan menyemangati diri sendiri.
"Nak, ibu pikir kamu sudah di dalam mobil. Kamu dari mana saja?" Bu Mita menyeledik.
"Habis jenguk teman, bu. Kebetulan temanku di rawat di rumah sakit ini juga." Intan mencoba tersenyum.
Setelah mendengar penuturan dari Intan, Bu Mita hanya berhooh ria. Tak bertanya kembali karena sudah paham.
Mobil di lajukan oleh asisten pribadi Intan menuju ke rumah. Sepanjang perjalanan, Intan hanya diam saja, memikirkan peristiwa yang barusan di lihatnya.
Tak berapa lama, sampailah Bu Mita dan Intan di rumah.
"Bu, aku langsung istirahat ya. Kepalaku pening sekali." Intan tersenyum pada ibunya.
"Istirahatlah." Bu Mita mengusap bahu Intan.
Intan lekas melangkah ke kamarnya, dan langsung mengunci pintunya. Dia merebahkan badannya di pembaringan.
"Ya, Allah. Kembali lagi aku di hianati oleh pria. Aku pikir setelah sekian lama aku menyendiri, dan aku memutuskan menikah. Aku menikah dengan pria yang tepat, ternyata aku salah."
"Bagaimana aku harus menghadapi hari depanku? bagaimana pula nasib calon anakku ini?"
Demikian Intan terus menggerutu. Sementara di rumah sakit, Tara gelisah pikiran terus tertuju pada Intan.
"Aku harus segera ke rumah, dan menjelaskan secara detail pada Intan. Aku nggak ingin di depak olehnya, karena tanpanya aku bukan apa-apa. Dan jika aku berpisah dengan Intan, bagaimana pula nasib istri dan anakku," batin Tara.
"Mas, aku perhatikan sepertinya kamu gelisah sekali?" Laras menatap tajam Tara.
"Iya, sayang. Aku memang sedang gelisah, karena baru saja salah satu klienku yang di luar kota memintaku bertemu dengannya saat ini juga. Padahal aku sudah beralasan kalau kamu sedang sakit. Tapi klienku yang satu ini berbeda dengan yang lain, ini nggak mau tahu dan sangat keras kepala. Jika aku nggak datang juga, dia akan memutuskan kerja sama secara sepihak." Tara berakting pura-pura bingung.
"Mas, kamu pergi saja dan uruslah klienmu. Biar aku di sini di temani oleh bibi," Laras menyunggingkan senyum.
"Terima kasih, sayang. Kamu memang istriku yang sangat pengertian." Tara mencim kening Laras.
Tak lupa Laras mencium punggung tangan Tara.
Segera Tara melajukan mobilnya, namun ke arah rumah Intan. Bukan ingin bertemu dengan rekan bisnisnya.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah, Tara langsung melangkah ke kamar.
"Loh, kok di kunci dari dalam." Tara kebingungan.
"Tok tok tok, sayang tolong buka pintunya." Tara mengetuk pintu kamarnya.
Namun tidak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar. Hingga Tara masuk ke kamar sebelah yang kosong, dia lompat dari balkon kamar tersebut menuju ke kamarnya.
Tara mendapati Intan sedang tertidur pulas dengan menggenggam kertas putih hasil pemeriksaan kandungannya.
"Kertas apa ini, alhamdulillah akhirnya Intan hamil juga." Tara meletakkan kembali kertas tersebut di tangan Intan.
Tara mengecup kening Intan yang sedang tertidur. Dia ikut merebahkan badannya di samping Intan.
Saat tengah malam, Intan terbangun.
"Darimana Tara bisa masuk ke kamar, sedangkan kamar telah aku kunci dari dalam," batin Intan.
Intan merasa lapar hingga dirinya terbangun di tengah malam. Intan melangkah ke dapur mencari sesuatu yang bisa di makan.
"Wah, pasti ini ibu yang tadi masak." Intan tersenyum saat membuka tudung saji.
Sementara di dalam kamar, Tara juga terbangun. Saat meraba di sampingnya tidak ada Intan, dia lekas beranjak bangkit dari kasur.
"Sayang, aku cari- cari ternyata kamu sedang ada disini." Tara memeluk Intan yang sedang duduk makan, dia memeluk dari arah belakang.
Intan tak merespon apa yang di ucapkan oleh Tara.
"Sayang, tumben makanmu banyak? apa karena pengaruh kehamilanmu?" Tara beralih duduk di hadapan Intan.
Namun kembali lagi Intan tak merespon apa yang di ucapkan oleh Tara. Setelah selesai makan, Intan kembali ke kamar. Tara mengikutinya dari belakang.
"Sayang, aku ingin bicara padamu. Aku ingin minta maaf padamu tentang hal yang sempat kamu lihat di rumah sakit," Tara mulai memberanikan diri berkata.
"Apa benar kamu suaminya?" Intan berkata seraya dengan mata berkaca-kaca.
"Aduh, bagaimana ini? nggak mungkin aku bilang bukan, sedangkan Laras sudah bercerita padanya," batin Tara gelisah.
__ADS_1
"Kenapa diam saja, sedang mencari alasan yang tepat untuk mengelabuiku lagi?" Intan menatap tajam pada Tara.
"Bukan begitu, sayang. Kamu kok berprasangka buruk padaku? aku bukan suaminya, aku hanya berpura- pura saja." Tara berbohong.
"Kebohongan apa lagi yang ingin kamu katakan, untuk menutupi kebohonganmu yang lain?" Intan menyeringai sinis.
" Sayang, kok kamu ngomong seperti itu? kamu lebih percaya dengan omongan wanita itu daripada percaya denganku?" Tara berkilah.
"Sekarang kamu bayangkan, kita sudah menikah beberapa tahun lamanya. Sedang kamu baru kenal dia kan? masa kamu lebih percaya dengan ucapannya yang baru kamu kenal beberapa hari." Tara masih saja berkilah.
"Untuk apa juga kamu berpura- pura menjadi suaminya, dan sudah berapa lama kamu melakukan hal itu?" kembali lagi Intan bertanya.
"Belum lama, sayang. Aku melakukan semua ini atas kemauan dari almarhum suaminya, supaya di setiap kondisinya aku harus selalu ada." Tara berbohong kembali.
"Ceritanya panjang, sayang. Suaminya meninggal karena menolongku, waktu itu kami sedang bersama. Dan ada seseorang akan menusukku, tapi dia melindungku. Hingga dia yang terkena tusukan dan meninggal."
" Laras sempat depresi parah saat mengetahui suaminya meninggal, apa lagi waktu itu dia baru di nyatakan hamil 4 minggu."
"Dia belum bisa menerima kenyataan pahitnya hingga saat ini."
Demikian ucapan kebohongan Tara, untuk menutupi kesalahan terbesarnya di hadapan Intan.
Namun Intan merasa janggal dan belum percaya sepenuhnya pada Tara. Namun untuk saat ini dia diam saja. Tapi dia akan menyelidiki kebenaran semua yang di ucapkan oleh Tara tanpa sepengetahuannya.
"Sayang, kamu percaya kan dengan apa yang tadi aku ceritakan?" Tara mengagetkan lamunan Intan.
"Entahlah, mas. Mungkin untuk saat ini aku percaya, tapi entah untuk kedepannya. Jika suatu saat nanti ternyata kamu terbukti berbohong, aku takkan pernah memaafkanmu," kata Intan ketus.
"Bisa jadi yang kamu ucapkan hanyalah suatu kebohonganmu untuk menutupi kebohonganmu yang lain," kembali lagi Intan berkata.
"Harus bagaimana lagi aku meyakinkanmu bahwa semua ucapanmu benar adanya." Tara mencoba membujuk Intan.
"Baiklah, jika kamu ingin aku percaya dengan semua ucapanmu. Nikahi aku secara resmi di depan Laras." Intan mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Aduh, bagaimana ini?" Tara merasa bingung.
"Hem, kenapa raut wajahmu terlihat panik?" Intan menyeringai sinis saat melihat wajah panik Tara.
__ADS_1
"Kamu nggak berani melakukannya kan?" Intan menyeringai sinis.