Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Kabar Baik Dari Atin & Intan


__ADS_3

Berapa waktu telah berlalu, kininsudah dua bulan sejak kejadian naas yang menimpa Intan. Dimana ketiga restorannya terbakar habis tanpa sisa.


Setelah mendapat dukungan dari orang tuanya, dan kakaknya. Intan memutuskan menerima pinangan dari Keano. Beberapa kali pula dia melakukan sholat istiqaroh, dan keputusan condong pada Keano. Hingga akhirnya Intan tak meragukan Keano.


"Mas Keano, di depan keluargaku dan Kevin. Aku ingin mengatakan jika aku menerima pinanganmu," Intan tak berani menatap Keano, dia malah tertunduk malu.


Semua yang ada di meja makan sempat membola matanya lalu semua bertepuk tangan. Terutama Kevin yang terlihat sangat bahagia melebihi yang lain.


"Mah, terima kasih. Mamah bersedia menjadi ibu sambungku, ini adalah kebahagiaan yanh tak terkira buatku. Anugerah yang paling indah dari Allah. Alhamdulilah ya, Allah. Doaku selama ini tidak sia-sia." Tiba-tiba Kevin memeluk Intan penuh haru.


Semua yang mendengarnya mengucapkan syukur alhamdulilah. Dan kebahagiaan lain juga terpancar dari wajah Atin.


"Hem, aku juga ingin mengatakan sesuatu pada kalian semua mumpung kita lagi berkumpul. Aku juga telah menemukan calon pendamping hidupku, dalam waktu cepat, kami juga akan menikah," Atin tertunduk malu.


"Alhamdulilah," serentak semua mengucapkan syukur.

__ADS_1


"Nak, kok ibu sama bapak nggak mengetahui jika kamu sudah mempunyai pilihan hati?" Bu Mita mengernyitkan alisnya.


"Iya, Atin. Biasanya kamu suka cerita apapun pada, bapak? kok sekarang sama sekali nggak cerita tentang calonmu ini?" Bapak Yogi menatap menyelidik pada Atin.


"Aku sengaja tak mengatakan pada kalian semua, karena aku ingin memberi surprise pada semuanya," Atin sumringah.


"Waduh, Mba Atin. Mentang-mentang pernah kerja di kantoran, hingga pake acara surprise segala. Sudah mulai gaul nech," goda Intan terkekeh.


"Bukan seperti itu adikku tersayang, saat itu aku belum yakin dengannya makanya aku belum berani bercerita tentangnya," Atin tersipu malu.


"Astaghfiruloh alazdim, bapak! Ih, kenapa ngomongnya seperti itu?" Atin memonyongkan bibirnya.


"Sudah, nggak usah saling ejek. Ibu pengen tahu, siapa lelaki yang mampu meluluhkan hatimu?" Bu Mita menatap menyelidik pada Atin.


"Iya, Atin. Bapak juga penasaran, hebat sekali lelaki yang sanggup meluluhkan kerasnya hati anak bapak yang satu ini?" sela Bapak Yogi ikut penasaran dengan pria yang telah berhasil memenangkan hati Atin.

__ADS_1


"Namanya, Rendy." Jawab Atin singkat seraya tertunduk malu.


"Hah, Rendy samping rumah kita? setahuku setiap kalian bertemu bagai Tom dan Jerry. Selalu saja bertengkar, kok bisa ya?" Intan meragukan ucapan Atin.


"Nak, kamu belum tahu ya? ada peribahasa, benci itu benar-benar cinta?" Bu Mita menengahi seraya melirik Atin dan terkekeh.


"Iya, Atin. Bagaimana bisa kalian menjadi saling cinta? aku juga pernah dua kali melerai pertengkaran kalian berdua," Keano ikut berkata seraya mengernyitkan alisnya.


Atin hanya senyam senyum sendiri, pipinya merona merah bak kepiting rebus. Belum juga Atin menjawab, Bapak Yogi andil dalam obrolan kembali.


"Dunia ini penuh dengan teka teki, nggak bisa di tebak. Memang pada umumnya jika lelaki dan wanita saling benci, mereka malah pada akhirnya saling membutuhkan satu sama lain. Dan tak bisa hidup tanpanya," tukas Bapak Yogi.


"Begini saja, kita satukan saja pernikahan Atin dan Intan. Supaya lebih meriah dan praktis," saran Bapak Yogi.


*****

__ADS_1


__ADS_2