
Monalisa menyiram wajah, Tara dengan segelas air hingga membuatnya terhenyak kaget.
"Mona, apa yang kamu lakukan? biar begini aku masih suami sah, tidak tahu sopan santun, sama sekali tak menghargai suami," Tara mendengus kesal.
"Mana janjimu, mas? katanya setelah kamu mendapatkan makanan, akan menyelesaikan pekerjaan rumah? tapi kenapa rumah masih berantakan, dan rantang bekas makanmu sendiri tak kamu cuci?" Monalisa melotot seraya berkacak pinggang.
"Setelah makan aku ngantuk sekali makanya aku tidur. Aku sudah berniat akan mengerjakan semuanya, setelah aku tidir, jadi kamu tak perlu khawatir," ucap Tara ketus.
"Kerjakan sekarang, bukannya sudah tidur lama!" perintah Monalisa ketus.
"Berhubung kamu sudah pulang, ya kamulah yang mengerjakan semuanya. Semua itu sudah tugasnya seorang istri," tukas Tara dengan entengnya.
"Lalu apa tugasmu sebagai seorang suami? cuma makan tidur saja?" celoteh Monalisa menahan geram.
Tara tak bisa berkata lagi, dia menyadari jika selama menikah dengan, Monalisa dia tak bekerja. Hingga akhirnya, Tara mengalah dan beranjak ke dapur.
__ADS_1
"Nasib-nasib, hidupku kok jadi seperti ini ya? sama sekali tak pernah aku bayangkan sebelumnya akan menjadi seperti ini." Keluhan Tara di sela mencuci perabot rumah tangga.
Sementara, Mona berganti pakaian dan lekas ke rumah orang tuanya karena selama dirinya kuliah, Baby Marsya di titipkan di sana.
Tiga jam, waktu yang di gunakan Tara untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah, dari mencuci pakaian, perabot rumah tangga, dan mengepel serta menyapu halaman rumah.
"Mona, kenapa kamu lama banget sih, di rumah orang tuamu? cepat sini, pijitin aku. Cape sekali, Mona," pinta Tara lirih.
"Enak saja, masa laki-laki kok gitu? baru mengerjakan hal sepele saja sudah mengeluh? apa pantas di sebut sebagai seorang kepala keluarga?" tak sungkan, Monalisa mencemooh.
Monalisa bukannya merasa iba pada, Tara melainkan malah kesal dan muak mendengar penuturannya.
Monalisa tak menghiraukan sedikit pun perkataan, Tara. Justru dia malah membawa pergi Baby Marsya ke rumah orang tuanya kembali.
"Aaaaaarrghhhhh dasar istri tak berguna!" teriak Tara melempar semua bantal dan guling yang ada di pembaringan.
__ADS_1
Tara sangat marah, baru kali ini dia mempunyai istri yang pembangkang dan sama sekali tak peduli padanya.
"Beberapa istriku selalu patuh dan tak pernah membangkang, bahkan benar-benar memperlakukanku dengan sangat baik. Tapi tidak dengan, Mona. Padahal diantara istri-istriku, justru dia yang paling muda. Aku pikir jika paling muda akan mudah di kendalikan, tetapi aku salah," gerutunya seraya menghela napas panjang.
"Dasar suami tak berguna sama sekali, dari awal menikah, hingga saat ini sama sekali tak pernah membuatku bahagia," gerutu Monalisa sembari terus melangkah ke rumah orang tuanya.
"Mona, kenapa wajahmu di tekuk murung seperti itu?" Desny menautkan alisnya.
"Biasalah, mah. Sepertinya aku sudah nggak kuat lagi hidup dengan, Mas Tara. Dia hanya menjadi benalu saja, mah. Sama sekali tak pernah memberiku kebahagiaan," celotehnya kesal.
"Bukankah, Tara itu pria pilihanmu? seharusnya kamu harus bisa menerima segala konsekuensinya, jangan hanya kelebihannya yang kamu puja, tapi kekurangannya juga harus kamu terima dengan Ikhlas," tukas Desny.
"Mah, kok mamah malah membelanya bukan membelaku," tukas Monalina mengerucutkan bibirnya.
****
__ADS_1