
Keano merenung sejenak mendengar perkataan putranya. Sebenarnya dia merasa nggak enak hati baik pada Bu Mita maupun pada Intan.
Kevin pasang wajah memelas di hadapan Intan juga. Hingga saat Keano diam saja tak juga membalas ucapan Kevin, akhirnya Intan yang berkata.
"Nak, tinggallah di sini sesuka hatimu. Anggap rumah sendiri, kamu bisa kapanpun di sini dan sampai kapanpun," Intan berkata lirih seraya mencoba tersenyum di hadapan Kevin.
"Alhamdulilah, terima kasih ya mah." Kevin menciumi punggung tangan Intan.
"Iya, sayang. Kamu nggak usah sungkan di sini, karena mamah sudah menanggapmu anak," Intan kembali berkata lirih.
"Aku minta, mamah jangan sedih terus ya? aku ikut sedih jadinya, mah." Mata Kevin berkaca-kaca.
Intan mencoba tersenyum di hadapan Kevin seraya menganggukkan kepalanya pelan. Intan akan berusaha tegar dan kuat, demi anak yang ada di kandungannya.
"Ya sudah, papah pulang. Kamu jangan nakal, kasihan Mamah Intan," pinta Keano.
Keano menyalami Bu Mita dan tersenyum pada Intan, sementara Kevin ijin mengantar Keano sampai halaman rumah.
"Kevin, ingat pesan papah. Jangan nakal, jangan berulah, jangan bikin repot Mamah Intan," Keano menatap tajam anaknya.
"Pasti, pah. Aku justru akan menjaganya dan sebisa mungkin akan selalu membuatnya tersenyum." Kevin mencium punggung tangan Keano.
Pemandangan itu tak lepas dari pengintaian Reno.
"Oh, itu anak pria itu? mirip sekali papahnya, dan apakah berarti dia sudah menjadi anak tiri? aduh, kok aku jadi ingin tahu sekali kehidupan pribadi Intan?" Reno mengacak-acak rambutnya seraya terus menatap ke arah rumah Intan.
Pada saat Kevin akan masuk rumah Intan, tak sengaja dia menoleh ke arah Reno dengsn rasa tak suka, walaupun Reno tersenyum pada Kevin.
"Orang itu kok dari tadi melihat kemari, sok kenal senyum-senyum nggak jelas. Dari wajahnya mencurigakan." Kevin melangkah masuk rumah.
Bu Mita menunjukkan kamar Kevin yang kebetulan bersebelahan dengan kamar Intan. Intan memesankan beberapa setel pakaian untuk Kevin.
Karena kebetulan, Intan mempunyai langganan on line yang kualiatas pakaian di jamin bagus dan pengiriman juga cepat.
__ADS_1
"Bu, aku bingung harus bagaimana menyelesaikan permasalahanku ini. Bagaimana cara menjelaskannya pada Laras jika suaminya itu..." Intan tak sanggup meneruskan ucapannya.
"Nak, ibu bisa merasakan jika memang ini sulit. Kamu selesaikan satu persatu dulu. Setelah kamu melahirkan pisahlah dengan Tara terlebih dulu," saran Bu Mita.
"Tapi dulu nikahmu siri, bagaimana cara proses cerainya?" Bu Mita menggaruk kepalanya.
"Ibu nggak usah bingung, Intan sudah tahu kok bagaimana proses cerai pernikahan siri," Intan mencoba menjelaskan.
"Hem, setahu ibu suami yang berucap talak baru bisa bercerai. Kalau Tara nggak ucap talak berarti nggak bisa cerai kan?" Bu Mita mengernyitkan alis.
"Nggak ribet kok, bu. Syaratnya cuma foto kopy KTP/domili( legalisir pos, materai 10.000), foto kopy kartu keluarga(legalisir pos, materai 10.000), foto kopy info pernikahan tidak terdaftar dari Kantor Urusan Agama di tempat(legalisir pos, materai 10.000), alamat komplek rumah suami dan istri saat ini. Cuma itu persyaratannya, bu." Intan menjelaskan secara mendetail pada ibunya.
Bu Mita hanya berhooh ria saat mendengar penjelasan dari Intan.
"Ibu lega, jika kamu bisa mengurus perceraian sirimu dengan Tara. Ibu sempat berpikir, kamu tidak akan bisa bercerai karena Tara pernah mengatakan selamanya dia tidak akan menceraikanmu," Bu Mita menghela napas panjang.
"Bu, aku benar-benar habis pikir. Akan mengalami hal serumit ini. Seandainya saja istri sah Tara bukan anak kandungku, pasti tak sepusing ini, bu. Aku sangat takut mendapatkan penolakan dari anakku kelak jika dia tahu ternyata aku adalah madunya," Intan menghela napas panjang.
***********
Sementara ini dia tidak memikirkan tentang Laras terlebih dulu. Seperti yang di katakan ibunya, satu persatu dulu dalam menyelesaikannya. Bertahap demi bertahap.
"Mah, selamat ya? si dede sudah lahir, ganteng juga. Asik nech, mah. Kalau dah gede bisa menemani aku main bola," Kevin sangat sumringah.
"Selamat ya, Intan. Semoga jadi anak yang soleh, baik hati, dan sayang sama mamahnya," ucapan selamat dari Keano.
"Terima kasih Kevin, terimakasih Mas Keano." Intan menyeringai puas.
"Sebaiknya kamu memberitahu kelahiran anakmu pada Tara," saran Bu Mita.
"Nggak, bu. Aku nggak ingin anakku di bawa pergi olehnya, seperti saat dulu. Jadi sebaiknya aku nggak memberitahu Tara," kata Intan singkat.
"Intan, itu nggak akan terjadi. Ada aku yang akan menjaga anakmu, supaya tidak di ambil Tara," Keano meyakinkan Intan.
__ADS_1
"Terima kasih, mas. Tapi kan Mas Keano nggak setiap waktu ada di sampingku," Intan tak sadar dengan apa yang di ucapkannya.
"Tenang saja, aku saat ini tinggal tak jauh dari rumahmu. Jadi bisa memantau rumahmu," Keano mencoba menenangkan hati Intan.
"Nak, Tara kan nggak tahu rumahmu yang sekarang. Jadi kamu ngggak perlu khawatir," Bu Mita juga mencoba menghibur Intan.
"Oh iya ya, bu." Intan menepuk jidatnya.
Sementara ini Intan palsu sedang ribut dengan Tara.
"Mana gajiku? sudah beberapa bulan kamu nggak memberiku gaji!" Intan palsu berkata lantang di halaman belakang rumah Tara.
"Hust, bicara bibi jangan keras-keras. Nanti Laras mendengarnya," bisik Tara panik.
"Kalau ingin rahasiamu aman, bayar gajiku sekarang juga!" ancam Intan palsu.
"Sudah aku katakan, bibi sabar sedikit kenapa? aku pasti bakal gaji bibi kok,"Tara celingukan khawatir Laras ada di sekitarnya.
"Anakku di kampung butuh uang, kalau tidak aku males menipu istrimu dengan berperan menjadi ibunya. Kalau di pikir dosaku sangat banyak pada istrimu! Terkadang aku sedih, saat berada di samping istrimu berperan sebagai Intan," Bibi Tara berkata panjang lebar.
Seseorang menutup mulutnya saat tak sengaja mendengar pembicaraan antara Tara dan bibinya.
"Ya Allah, jadi selama ini aku telah di perdaya oleh mereka? aku nggak menyangka jika selama ini Mas Tara membohongiku." Laras segera pergi dari pengintaiannya.
Dia menitikkan air matanya. Atas apa yang telah di lakukan oleh suaminya.
"Apa maksud Mas Tara dengan semua kebohangannya," batin Laras.
"Ini tidak bisa di biarkan, aku akan memberinya pelajaran. Aku akan pulang ke rumah papi," batin Laras.
Sementara Tara saat ini kebingungan karena sudah tahu jika semua kartu telah di bekukan oleh Intan. Dan dia juga tidak bisa bekerja di kantor lagi.
"Sudah beberapa bulan, aku hidup sangat sederhana. Bekerja serabutan yang gajinya nggak seberapa, hanya bisa untuk makan saja," gerutunya seraya menghela napas panjang dan memijit pelipisnya.
__ADS_1
********