
Sejenak Tara tergagap karena tak tahu apa yang barusan di katakan oleh Tiara.
"Mas, aku juga sudah kangen denganmu. Apa kamu nggak kangen denganku?" Tia semakin bergelayut manja di lengan Tara seraya mengedipkan matanya genit.
Tara sudah mengerti apa yang Tia inginkan, karena sejak Bu Ita di rumah sakit, mereka memang tidak pernah melakukannya. Tara mendapatkan semua itu dari Mona, tanpa sepengetahuan Tiara.
"Mas, apa kita akan melakukannya di sini?" rengek Tiara.
"Aku baru pulang kerja, belum mandi sama sekali," Tara mengernyitkan alis menatap Tiara.
"Kita melakukannya sekalian mandi," Tia meraih tangan Tara supaya bangkit berdiri.
Setelah Tara bangkit, Tia mengusap adik kecil Tara. Hal itu terlihat oleh Mona, dia semakin merasa cemburu.
"Ini sudah tidak bisa di biarkan begitu saja!" Mona mendengus kesal seraya mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Saat dia akan melangkah menghampiri Tara yang saat ini bersama dengan Tia, Tara sempat memberi kode pada Mona supaya jangan mendekat.
Hingga akhirnya Mona mengurungkan niatnya menghardik Tiara. Tara mengikuti ajakan Tia, dengan melangkah berdampingan ke kamarnya.
Mereka benar-benar melakukannya di kamar mandi seperti apa yang Tia inginkan. Setelah itu baik Tia maupun Tara sama-sama melakukan ritual mandi sorenya.
Berbeda dengan Mona yang sudah bisa menebak apa yang telah di lakukan oleh Tara dan Tia. Dia sangat kesal dan selalu saja menggerutu.
"Sial, kenapa pula aku lari dari rumah malah terjebak dengan suami orang. Ini semua gara-gara papah, yang tak punya perasaan sama sekali. Pake acara menjodohkanku dengan si cacat Riky!" gerutu Monalisa.
Sementara Tara tertidur pulas setelah mandi, sedangkan Tia akan ke rumah sakit untuk meminta dokter mengijinkan Bu Ita di rawat di rumah.
Tia telah meminta ijin membawa suami si bibi ke rumah sakit dengan mengemudikan mobil Tara, guna membawa pulang Bu Ita.
Sebelum pergi, Tia menghampiri Mona.
__ADS_1
"Mona, aku mau pergi lagi ke rumah sakit dan tolong jaga Dita." Pamit Tia seraya menyunggingkan senyum pada Mona.
"Baiklah, Nyonya Tia," Mona mencoba tersenyum walaupun sebenarnya enggan.
Tia lekas membawa sopir pribadinya untuk melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dia sangat riang karena sudah bisa membawa ibunya untuk di rawat di rumah saja.
"Alhamdulilah, terima kasih ya Allah. Ibu sudah di ijinkan pulang sehingga aku bisa bernapas lega karena bisa lebih gampang untuk menghandle urusan rumah tangga," batin Tia sumrungah.
Kabar ini belum terdengar sampai ke telinga Mona. Entah bagaimana jika Mona sampai mengetahui akan hal ini. Dia akan semakin bertambah cemburu dengan keberadaan Tia di rumah.
Dia juga pasti aksn tersisih dari samping Tara dengan sendirinya.
Tak berapa lama, Tia telah sampai di rumah sakit. Segera dia menghadap ke dokter yang merawat ibunya. Dia ingin meminta ijin untuk membawa pulang ibunya.
Setelah sampai di ruang dokter, dokter yang merawat Bu Ita mengijinkannya pulang tanpa syarat. Karena kondisi kesehatan Bu Mita telah stabil. Dokter mengijinkan Bu Ita pulang, karena memang sudah saatnya pulang, akan tetapi di lepas dulu infusnya.
__ADS_1
**********