
Pagi menjelang, Tara berpamitan akan menyelidiki kasus restoran Intan.
"Sayang, aku akan mulai menyelidiki kasusmu. Selama kamu masih di sini, aku tidak akan ke kantor dulu. Kamu sudah aktifkan lagi semua kartuku bukan, nanti kalau aku di jalan butuh makan atau isi bensin nggak ada uang bagaimana." Rengek Tara bagaikan anak kecil yang sedang minta permen.
"Nggak usah khawatir, sudah aku aktifkan lagi. Tapi awas kalau kamu ingkar dengan janjimu, kamu pergi jangan lama-lama karena nggak ada yang jaga aku." Pesan Intan.
"Telpon ibu dulu, supaya menjagamu untuk sementara waktu aku nggak ada." Perintah Tara seraya berlalu pergi begitu saja.
Seperginya Tara, Intan segera menelpon ponsel ibunya namun tidak aktif. Intan beralih menelpon rumah, sama saja tidak ada yang mengangkat.
"Memangnya pada kemana sih, ibu nggak angkat dan bibi juga nggak angkat." Intan mengerucutkan bibirnya.
Akhirnya Intan menelpon Tara untuk mampir ke rumah supaya ibunya lekas ke rumah sakit.
π±"Ada apa, sayang?"
π±"Tolong mampir ke rumah, karena aku telpon ibu dan telpon rumah nggak ada yang angkat. Sampaikan pad ibu suruh lekas kemari."
π±"Baik, sayang."
Setelah itu ponsel di matikan oleh kedua belah pihak. Intan melamun sendiri seraya mengusap perutnya berkali-kali.
"Sayang, kamu sehat-sehat di perut ibu. Jangan nakal ya." Ucapnya seraya tersenyum sendiri.
"Sayang, ibu sudah nggak sabar ingin segera melihatmu lahir di dunia ini." Kembali lagi Intan mengusap perutnya.
Saat sedang asik berinteraksi dengan janinnya, tiba-tiba datanglah Saras tersenyum sinis.
"Prok prok prok." Saras tiba-tiba bertepuk tangan."
Kedatangan Saras yang tiba-tiba dengan tepuk tangannya membuat Intan terhenyak kaget.
"Kamu, untuk apa kemari?" tanya Intan dengan lantangnya.
"Uluh uluh, biasa saja kali. Nggak usah ketus begitu, aku juga ingin mengusap anakmu ini." Saras menghampiri Intan, tangan kanannya di letakkan tepat di atas perut Intan.
"Sayang, maaf ya. Dengan terpaksa, aku akan melenyapkanmu sebelum kamu lahir." tangan tangan Saras perlahan meremas perut Intan.
__ADS_1
"Saras, pergi kamu dari sini! jangan sakiti janinku yang tak berdosa!" Intan mencoba menepis tangan Saras yang sedang mencengkeram perut Intan.
Karena tak jua melepaskan cengkeraman tangannya, Intan meraih benda di atas meja namun tak sampai.
"Ya Allah, tolong hambaMu ini." Tiba-tiba entah akal darimana, Intan mengambil botol parfum di dalam tasnya.
Secepat kilat, Intan menyemprotkan parfum tersebut ke mata Saras.
"Aduh, perihhhh..sialan kamu Intan!" Saras memegang matanya dengan kedua tangannya dan perlahan melangkah pergi dengan memengangi matanya.
"Alhamdulillah ya, Allah. Terima kasih, Engkau masih melindungi janinku." Ucap syukur Intan seraya terus mengusap perutnya.
"Tenang saja ya, sayang. Ibu akan selalu menjagamu, dan tidak akan ada satu orangpun yang bisa menyakitimu." Dengan mata berkaca-kaca Intan masih saja mengusap perutnya.
Tak berapa lama, datanglah ibunya.
"Maaf ya, nak. Tadi ibu lagi kerumah tetangga untuk bayar arisan, ponsel ibu kebetulan tadi sedang di isi daya."
"Kamu kenapa, nak? seperti orang yang ketakutan?" tanya ibu seraya mengusap lengan Intan.
"Iya, bu. Tadi istri Mas Reno datang kemari dan ingin mencelakai janin ini. Dia mencengkeram perutku, bu. Terus aku semprot matanya paksi parfum, barulah dia keperihan dan pergi." Jawab Intan tiba-tiba tertumpah air matanya.
"Sudahlah, nak. Kamu nggak usah takut lagi, ada ibu disini yang akan menjagamu. Sekarang kamu tidurlah, tenangkan pikiranmu." Bu Mita mengusap surai hitam Intan seraya menyunggingkan senyum.
Intan menuruti kemauan ibunya, dia memejamkan matanya dan tertidur. Sementara Bu Mita duduk di samping brankar dimana Intan berbaring.
"Jika aku punya nomor ponsel Reno, sudah aku adukan tingkah istrinya. Dan aku minta dia untuk menasehati istrinya yang jahat itu!" batin Bu Mita mendengus kesal seraya menghela napas panjang.
"Sebaiknya aku mengirim notifikasi pesan pada ponsel Tara, supaya perginya jangan terlalu lama." Gerutu Bu Mita seraya mengetik mengirim pesan notifikasi pada ponsel Tara.
Namun notifikasi chat pesan dari Bu Mita sama sekali tak di baca oleh Tara, sehingga dia berinisiatif menelponya.
Tara yang saat itu berada di rumah Laras merasa terganggu dengan adanya telpon dari mertuanya.
"Sayang, sebentar ya. Aku angkat telpon ini, sepertinya penting." Tara langsung saja mengangkat telpon.
Dia melupakan sesuatu jika saat ini sedang bersama Laras.
__ADS_1
π±"Assalamu alaikum, ada apa bu?"
"Mas, ini kopinya mau di bawa kesitu apa? ntar kalau dingin kamu nggak suka lagi." Laras datang membawa kopi.
Setelah itu dia berlalu pergi, namun perkataan Laras sempat terdengar oleh Bu Mita.
π±"Tara, siapa tadi? jadi kamu sedang bersama wanita lain, di saat istrimu sedang di rawat di sini!"
π±"Anu, bu. Bukan siapa-siapa kok. Ini Tara sedang ada di warung kopi langganan Tara."
π±"Awas ya, kalau kamu sampai berani bohongi ibu, kamu tanggung sendiri akibatnya."
π±"Iya, bu. Ada apa ibu telpon?"
π±"Kalau pergi jangan terlalu lama, hampir saja Intan kehilangan janinnya karena akan di celakai oleh istri matan suaminya."
π±"Astaghfirulloh alazdim, kok bisa sih? ya sudah Tara lekas pulang."
Tanpa ucap salam, Tara mematikan panggilan telpon dari mertuanya.
"Mas, kamu baru datang kok sudah mau pergi lagi? memangnya mau kemana lagi, kok sepertinya ada yang serius?" serentetan pertanyaan dari Laras.
"Urusan kantor." Jawab Tara singkat seraya meraih jaket kesayangannya.
Tanpa memperdulikan Laras yang masih terpaku diam menatapnya. Tara berlari kecil menuju mobilnya dan langsung melajukannya.
"Aneh, ditanya jawabnya singkat." Gerutu Laras seraya menggelengkan kepala dan menghela napas panjang.
"Jahat banget, istri dari mantan suami Intan. Sebenarnya untuk apa dia ingin menyakiti calon anakku. Nggak akan aku biarkan siapapun menyakiti calon anakku!" Gerutu Tara seraya sesekali memukulkan tangan kekemudi.
Sementara saat ini Saras terus saja mengusap matanya.
"Sialan, awas ya kamu Intan! kali ini kamu bisa lolos, tapi lain kali aku akan bukan hanya habisi janinmu tapi juga dirimu akan aku singkirkan!" Gerutu Saras seraya meraih cermin yang ada di tasnya.
Dia bercermin untuk melihat matanya yang kena parfum.
"Aku harus ke dokter, khawatir mataku kena iritasi karena sampai merah begini. Tapi aku nggak akan ke rumah sakit ini, karena khawatir Intan telah melaporkan tindakanku tadi pada suaminya atau pada pihak rumah sakit." Saras melajukan mobilnya mencari klinik untuk memeriksakan matanya.
__ADS_1
********