
Terus saja, Intan diam membisu tak bisa berkata apa pun. Hingga pada saat akan berkata, datanglah Reno membawa Risky.
"Laras, bagaimana sih kamu? katanya mau jemput, Risky, kok malah di sini? mana, mami?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut, Reno.
Tanpa sepengatahuan, Laras. Intan kembali mengirim pesan pada, Reno.
[Mas, ternyata Laras datang kemari menanyakan tentangku dan Tara. Dia bertanya padaku apakah aku pernah menikah dengan, Tara]
[Aku bingung, mas. Harus menjawab apa, karena aku takut berkata jujur akan membuat, Laras membenciku]
[Aku heran, dia tahu dari siapa? mungkin Saras, tapi Saras tahu dari mana?]
Tiga chat pesan di kirim ke ponsel, Reno. Sejenak Reno membacanya.
"Kurang ajar, Saras. Dia ingin menghancurkan hubungan antara ibu dan anak! lihat saja kamu, Saras. Aku akan memberimu pelajaran!" batin Reno sangat kesal.
"Pi, kok tahu aku ada di sini?"
__ADS_1
"Ibu, yang memberitahunya."
"Ibu, melakukan itu juga karena, papi yang tanya terlebih dulu. Tadi, bu guru kirim pesan pada, papi. Sudah waktunya pulang, kamu belum juga menjemputnya," Reno menatap sinis pada Laras.
"Maaf, pih." Satu kata yang keluar dari mulut Laras.
"Kamu mau saja menuruti ucapan, Mami Saras? dan belajar berbohong pada, papi? pamit menjemput, Risky. Tapi ternyata malah kesini mengganggu waktu kerja, ibumu!"
"Sudahlah, mas. Pastinya, Saras yang mengajaknya kemari. Karena pagi hari dia kemari dan marah-marah padaku di pelataran kantor. Jadi jangan marah pada, Laras," Intan mencoba mencairkan suasana.
"Laras, sebenarnya kamu kemari untuk apa? apa yang sudah di katakan oleh, Mami Saras padamu?" kali ini Reno sangat emosi akan sikap, Saras.
"Dasar wanita gila! kamu juga, untuk apa percaya dengannya, sudah jelas dia benci pada ibumu! apa kamu telah lupa?"
"Bagaimana kita keluar dari rumah, Mami Saras? semua karena dia nggak suka kamu dekat, ibumu! pikir secara jernih, Laras! jangan mudah kamu di hasut begitu saja olehnya! dia hanya ingin menghancurkan hubunganmu dengan ibumu!"
"Kamu itu sudah dewasa, Laras. Seharusnya bisa berpikir lebih bijaksana. Jangan mudah di hasut begitu saja!"
__ADS_1
Begitu banyak nasehat dan kata-kata pedas yang keluar dari mulut, Reno. Dia sudah begitu emosi karena, Saras.
Laras hanya terdiam tertunduk, membuat Intan merasa iba padanya.
"Mas, sudahlah nggak usah di perpanjang. Lagi pula ada, Risky masa terus saja berkata hal seperti itu?" kembali lagi Intan mencoba menenangkan hati, Reno.
"Kamu lihat, betapa sabarnya ibumu! tidak seperti dia yang gampang emosi. Bahkan ibumu tidak pernah berkata buruk tentangnya, padahal dulu dia yang telah merebut, papi dari ibumu. Seharusnya, ibu yang dendam bukan dia." Masih saja Reno terus berkata.
"Sekarang cepat pulang sama, papi. Jangan ganggu waktu kerja, ibumu!" Reno berlalu pergi begitu saja.
"Bu, aku minta maaf ya. Aku pamit pulang dulu, asalamu alaikum." Laras mencium tangan, Intan seraya mata berkaca-kaca.
Segera Laras mengajak Risky menyusul Reno.
Seperginya, Laras. Intan kembali merasa bersalah padanya, dia hampir saja mengatakan yang sejujurnya untung saja, Reno lekas datang.
"Astaghfiruloh alazdim, mau sampai kapan aku menyimpan rahasia kelam ini?" tak terasa air mata menetes di pelupuk mata, Intan.
__ADS_1
*********