Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Selisih Paham


__ADS_3

Setelah cukup lama berada di toilet kamar Laras, Reno lekas keluar dari kamar tersebut dengan membawa stopmap dan amplop coklatnya kembali.


"Pi, ayuk kita pergi sekarang juga." Pinta Laras melangkah terlebih dulu.


"Laras, ini apa yang kamu bawa?" Reno mensejajarkan langkahnya dengan Laras dan menyerahkan stop map dan amplop coklatnya pada Laras.


"Kalau yang di stop map isinya sertifikat rumah ini, pi. Tapi kalau yang di amplop coklat, aku belum sempat melihatnya karena tadi papi sudah datang dan mengajakku lekasan. Sehingga saat akan aku buka, aku mengurungkannya," ucap Laras menjelaskan panjang lebar.


"Alhamdulilah, untung aku datang tepat waktu. Jika tadi Laras berhasil membuka isi amplop coklatnya, aku sama sekali tak bisa membayangkan akan menjadi seperti apa," batin Reno penuh dengan kelegaan.


Reno lekas masuk ke dalam mobil, begitu pula dengan Laras. Reno melajukan kembali mobilnya. Sementara saat ini Risky dan Saras telah tidur pulas di mobil, dengan posisi Risky di pangkuan Saras.


"Nak, apa memang sebenarnya kamu kemari untuk mengambil stopmap dan amplop coklat tersebut?" tanya Reno penasaran seraya terus melajukan mobilnya.


"Nggak, pi. Awal mula aku mencari semua simpanan perhiasanku, tapi nggak ada. Aku malah menemukan stop map yang sempat aku buka isinya sertifikat tanah dan rumah ini. Dan aku menemukan amplop coklat di bawah kasur, yang belum aku buka juga aku bawa sekalian saja," ucap Laras panjang lebar.


"Nak, untuk apa kamu menemui wanita itu? apa kamu masih tidak percaya dengan perilaku bejad suamimu?" tanya Reno menyelidik seraya terus saja melajukan mobilnya.


"Iya, pi. Aku sempat tak percaya padanya, tapi sekarang aku sudah tak percaya pada Mas Tara. Karena di depan wanita itu, dia sempat tak mengakuiku. Aku sudah memutuskan, pi. Akan mengurus perceraianku dengan Mas Tara secepatnya," air mata yang sempat di tahan, kini meleleh dengan sendirinya.


"Untuk apa pula kamu tangisi pria seperti, Tara. Terlalu berharga air matamu itu, nak." Nasehat Reno seraya terus melajukan mobilnya.


Setelah menempuh satu jam perjalanan, akhirnya sampai juga di rumah Saras. Reno lekas membangunkan Saras, sedangkan Laras menggendong Risky yang masih terlelap dalam tidurnya.


Terlebih dulu Laras merebahkan Risky di pembaringan, setelah itu dia membuka amplop coklat dimana isinya hak kepemilikan sebuah perusahaan expedisi.


"Ini kok di sini ada tertera hak peralihan kepemilikan tadinya punya Intan. Apakah maksudnya Intan ibuku? tapi bagaimana ibuku bisa mengenal Mas Tara? setahuku mereka kenal juga karena aku?" gerutu Laras dalam hati.

__ADS_1


"Apa aku perlu tanyakan ini pada ibu? untuk sementara waktu aku simpan dulu, karena besok aku akan mengurus surat perpisahanku dengan Mas Tara. Lebih cepat lebih baik," gerutu Laras kembali di dalam hati.


Laras menyimpan stopmap dan amplop coklatnya di bawah kasur tempat tidur. Setelah itu dia merebahkan tubuhnya di pembaringan samping Risky.


Namun matanya tak juga terpejam, dia menatap langit-langit kamar. Terlintas masa indah bersama Tara, dan mendadak masa itu hilang begitu saja. Tiba-tiba melintas bayangan Tara dan Tia yang sedang bersama.


"Ya Allah, aku pikir semua masih bisa di perbaiki. Ternyata aku salah, semuanya sudah parah. Kaca yang telah pecah tak bisa di kembalikan seperti sedia kala lagi, kertas yang telah sobek tak bisa kembali seperti sediakala," gerutu Laras di dalam hati.


Tak terasa matanya mulai terpejam dan tertidurlah Laras dengan nyenyaknya.


Sementara saat ini Bu Ita telah berada di rumah sakit untuk di rawat inap. Tia bingung karena dia memiliki baby yang baru berumur dua bulan. Dia meminta tolong pada Tara untuk rutin bergantian menjaga Bu Ita.


"Mas Tara, aku minta tolong. Kita bergiliran menjaga ibu, ya? Jika malam, kamu yang menjaga karena kasihan Dita jika ditinggal terlalu lama," Tia menatap sendu pada Tara.


"Enak saja, bagaimana dengan pekerjaanku? pagi sampai sore aku kerja, harusnya malam untuk waktuku istirahat. Jika malam aku gunakan untuk menjaga ibumu, sama saja aku nggak ada waktu istirahatnya," Tara tidak setuju dengan pengaturan jadwal menjaga mertuanya.


"Dita kan ada baby sitter, kenapa di buat repot?" Tara mengerucutkan bibirnya.


"Tapi kan nggak seharian full juga Dita bersama baby sitter. Pasti juga butuh aku," Tia terus saja membujuk Tara.


"Sudahlah, jika kamu tak mampu menjaga ibu. Lebih baik ibu di rawat di rumah saja, tapi kamu yang membayar biaya perawatnya. Karena aku sudah membiayai rumah sakit dan obat ibumu," kata Tara ketus.


"Mas, jika aku kerja bagaimana dengan Dita? kamu itu sungguh terlalu, mas. Memberikan sebuah keputusan yang sama-sama tak bisa aku lakukan tanpa bantuanmu!" Tia berkata lantang.


"Ya sudah, itu terserah kamu. Intinya aku sudah membiayai semua pengobatan ibumu," Tara berlalu pergi begitu saja.


"Ya Allah, kenapa rumah tanggaku menjadi seperti ini? aku pikir, dengan aku menikah akan lebih baik. Tapi malah menjadi seperti ini?" gerutu Tia di dalam hati.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana kalau seperti ini? aku tidak mungkin bisa di rumah sakit terus seperti ini. Sebaiknya aku meminta ijin pada dokter, supaya aku bisa membawa pulang ibu. Biar aku merawat ibu sendiri di rumah, yang terpenting ada obat dari dokter," batin Tia menghela napas panjang.


"Tapi sampai saat ini ibu belum juga sadarkan diri, aku harus bersabar sampai ibu benar-benar sadar terlebih dulu," batin Tia kembali.


Sementara Tara saat ini dalam perjalanan pulang. Dia merasa lelah, sudah ingin merebahkan tubuhnya di pembaringan. Tia di rumah sakit menjaga ibunya sendiri, sedangkan Dita di rumah bersama baby sitter.


Tak berapa lama kemudian, Tara telah sampai di rumah. Dia merasa sangat lelah, badannya ingin sekali di pijit.


"Mona-Mona." Tara memanggil baby sitter anaknya.


"Iya, Tuan." Mona berlari kecil menghampiri Tara yang sedang merebahkan diri di sofa.


"Dita, rewel nggak? sudah tidurkah dia?" tanya Tara menatap lekat wajah Mona.


"Nggak kok, Tuan. Kebetulan Dita baru saja tidur, Tuan," jawab Mona seraya tertunduk.


"Bisa nggak aku minta tolong?" Tara terus saja menatap wajah Mona.


"Minta tolong apa, Tuan?" tanya Mona masih saja tertunduk.


"Tolong pijitin kaki saya,"Tara menunjuk kakinya sendiri.


"Baik, Tuan." Mona segera memijit kaki Tara perlahan.


"Maaf, Tuan. Jika pijitan saya kurang nikmat, karena saya bukan tukang pijit dan sama sekali tidak pernah memijit," ucap Mona seraya terus memijit kaki Tara.


Namun yang di ajak bicara sudah berada di alam mimpi. Tara terlelap dalam tidur nyenyak.

__ADS_1


********


__ADS_2