
Reno dan Laras tak mengetahui jika saat ini, Saras tengah mengikuti mereka. Setelah tiga puluh menit perjalanan, sampailah Reno dan Laras di depan ruko.
"Jadi mereka tinggal di sini? lumayan juga rumahnya, tapi dapat duit dari mana mereka?" gerutu Saras seraya terus memperhatikan dari dalam mobil.
Saras tak mengetahui jika Laras memiliki tabungan dari hasil jual rumah mewah, Tara.
"Pi, bukannya itu mobil, mami? jadi diam-diam, mami mengikuti kita." Laras melirik ke arah di mana Saras memarkirkan mobilnya.
"Iya, kok papi nggak tahu jika, mami mengikuti kita?" Reno ikut melirik ke arah mobil Saras.
Saras dengan percaya dirinya keluar dari mobil dan melangkah menghampiri Reno dan Laras yang sedang melihat ke arahnya.
"Jadi kalian tinggal di sini? kamu dapat uang dari mana, mas? kok bisa membeli semua ini?" tanya Saras curiga.
"Uangku, bu. Tabunganku dari jual rumah milik, Mas Tara," sela Laras sekenanya.
__ADS_1
"Kenapa diam? kamu pikir kita dapat uang dari cara yang nggak halal?" Reno menyeringai sinis seraya menatap pada Saras.
"Mas, kenapa kamu jadi bertambah jutek padaku? aku minta maaf atas semua salahku padamu, bukankah manusia itu tak luput dari salah dan dosa?" Saras menangkupkan kedua tangannya di dada.
Namun Reno tak berucap apapun, hanya tatapan matanya saja yang tak bersahabat pada, Saras.
"Pi, sudahlah jangan marah terus. Lebih baik berdamai saja, coba di bicarakan secara baik-baik. Sebelum, papi memutuskan berpisah dengan, mami," tegur Laras menasehati Reno.
"Mi-pi, ayok kita masuk. Supaya kalian bisa ngobrol dengan nyaman," Laras mengajak Saras dan Reno masuk ke dalam ruko.
Mereka menuruti Laras dan duduk di ruangan seperti khusus untuk ruang tamu. Sedangkan Laras meletakkan semua belanjaan ke dalam tokonya.
"Pi-mi, minumlah dulu mumpung masih hangat. Dan ini ada sedikit cemilan untuk kalian," Laras menyajikannya di nampan dan di letakkan di atas meja.
Laras sudah hapal dengan minuman kesukaan orang tuanya, sehingga tak perlu bertanya lagi.
__ADS_1
"Risky, ayok kita masuk ke dalam dan sarapan. Lantas pergi ke sekolah." Laras menggandeng tangan Risky membawanya masuk.
Laras sengaja melakukan hal itu supaya Reno dan Saras lebih leluasa dalam mengobrol.
"Pi, tolong pikirkan lagi keputusanmu ingin berpisah denganku. Masa kamu melupakan segala pengorbanan dan kebaikanku selama ini padamu dan Laras?" Saras memelas menatap Reno sendu.
"Aku sudah memikirkannya, bukankah aku ini cuma numpang hidup dan benalu bagimu? bukankah aku ini tak punya apa pun yang bisa membuatmu bahagia? makanya aku putuskan berpisah denganmu."
"Kebikan yang kamu lakukan pada kami tidaklah ikhlas, dan kamu selalu saja memperhitungkannya, mengungkitnya di saat kita sedang berantem."
Sepenggal kata-kata kekecewaan Reno terhadap sikap dan perilaku Saras selama menjadi istrinya.
"Pi, aku mohon sekali lagi. Tolong pikirkan kembali, bukankah perceraian di benci oleh Allah? tolong, pi. Kita bisa memulai semuanya dari nol, dan aku akan merubah semua tingkah laku yang tak kamu sukai." Mata Saras berkaca-kaca, kedua tangannya di tangkupkan di dadanya.
"Sudahlah, Saras. Tak usah kamu membuang waktumu di sini, sebaiknya kamu tunggu saja surat dari pengadilan datang. Kamu juga bisa menikah lagi, bukannya kamu kaya dan bisa membeli segala yang kamu inginkan." Reno bangkit dari duduk.
__ADS_1
Meninggalkan Saras sendirian.
*****