
Mendengar saran dari Bapak Yogi, semua yang ada di meja makan setuju.
"Iya, ibu sangat setuju dengan apa yang di katakan oleh bapak," tukas Bu Mita tegas.
"Memangnya bapak dan ibu sudah bertemu dan ngobrol dengan, Mas Rendy?" tanya Intan menyelidik.
"Sebenarnya kami sudah serinf bercengkrama dengan, Nak Rendy. Di saat kamu berada di restoran, tapi kami juga di larang cerita padamu oleh, Atin," tukas Bapak Yogi.
"Walah dalah, berarti tadi bapak dan ibu pura-pura terkenyut eh terkejut? padahal sudah mengetahui akan hal ini?" Intan mengernyitkan alisnya seraya menatap kedua orang tuanya.
"Yaaa, begitulah," Bapak Yogi terkekeh di ikuti oleh Bu Mita.
"Hem, kalian semua curang dech. Masa menyembunyikan hal ini dariku?" Intan mengerucutkan bibirnya.
"Weleh, adikku tercinta ngmbek nech ye," goda Atin terkekeh.
Setelah hari itu, orang tua Intan mencari hari baik bagi kedua anaknya. Keano juga telah mempersiapkan semuanya untuk pernikahannya dengan Intan.
Hal serupa juga di lakukan oleh Rendy, setelah dia mendapat kabar dari Atin tentang hari pernikahannya kelak.
Sejenak Rendy termenung mengingat awal dirinya kenal dengan Atin. Rendy sesekali tersenyum sendiri.
__ADS_1
Waktu itu...
Atin sedang memangkas dan merapikan dedaunan di halaman apartement Intan, tepatnya di samping tembok apartement milik Rendy. Kegiatan yang di lakukan oleh Atin tidam bisa terlihat dari rumah Rendy.
Pagi yang cerah, seperti biasa setiap pagi Rendy melakukan rutinitas paginya dengan menyirami pepohonan yang ada di halaman rumah, tepat di samping tembok apartement milik Intan.
Saat Rendy asik menyemprotkan selangnya tinggi-tinggi sambil berdendang ria, dari seberang muncul dari balik tembok seorang wanita yang basah kuyup karena tersiram semprotan dari air selang Rendy.
"Songong lo! apa nggak lihat, main semprot saja! jadi basah kuyup kan?" Atin berkacak pinggang menatap sinis pada Rendy.
"Ma-maaf, mba. Sa-saya benar-benar nggak tahu," Rendy menahan tawanya saat melihat kondisi Atin basah kuyup.
Kemudian dia menyalakan kran air, dan segera menyemprorkan selangnya ke arah Rendy. Sontak Rendy terhenyak kaget, dan gelagapan.
"Hhhaa, enak kan? kita impas sekarang, makanya lain kali lihat dulu ada orang nggak! main semprot saja!" Atin tersenyum sinis melihat tingkah kaget Rendy.
Atin pun lekas berlalu pergi begitu saja, tanpa ada sepatah kata kembali. Sementara Rendy mengusap wajahnya yang basah seraya menatap kepergian Atin sembari menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.
Pagi harinya, saat Atin kembali memangkas dedaunan kuning dan mencabuti rumput yang ada di depan pintu gerbang tepatnya samping pintu gerbang Rendy. Kembali lagi Atin di buat geram oleh Rendy.
Bagaimana tidak, di saat Atin berjongkok mencabuti rumput, tepat di belakang mobil Rendy yang sedang parkir. Tiba-tiba mobil berjalan mundur, menyenggol Atin yang sedang berjongkok hingga terjungkal.
__ADS_1
"Aaaaauuuwwww, dasar songong!!!!!" teriak Atin dengan lantangnya.
Membuat Rendy yang ada di dalam mobil terhenyak kaget, dan lekas keluar dari mobil. Rendy melangkah ke belakang mobil, dimana Atin sedang merintih kesakitan.
"Maaf, mba. Mari saya bantu." Rendy mengulurkan kedua tangannya.
Bukan Atin namanya kalau tidak membalas Rendy. Dia menerima uluran tangan Rendy, dan menarik kedua tangan Rendy hingga kepala Rendy membentur belakang mobilnya sendiri.
"Impas bukan." Atin berlalu pergi dari hadapan Rendy.
Sementara Rendy terus saja mengusap kepalanya sendiri yang lumayan sakit.
Begitulah sekilas awal mula pertemuan Rendy dan Atin. Lambat laun mereka sering bertemu tapi sering bertikai satu sama lain. Tidak pernah akur sedikitpun.
Hingga pada suatu hari, Atin menolong Rendy yang sedang di kepung oleh beberapa preman, tepatnya di kampug sebelah.
Dimana pada waktu itu, Atin akan berangkat ke kios pasar. Tapi dia melihat Rendy sedang di kepung preman. Sedangkan Rendy sama sekali tak bisa bela diri, hingga Atin yang mengahajar para preman tersebut.
Sejak saat itu, mereka sudah tidak pernah bertikai lagi. Akan tetapi semakin hari hubungan mereka semakin dekat saja.
******
__ADS_1