
Sore hari datang, di kala pulang dari kantor, Tara tak langsung pulang ke rumah melainkan mampir ke toko kue.
"Mona-Mona, kamu pikir dengan mengambil kartu nama milik, Tiara. Aku sudah nggak bisa menemuinya, aku bisa langsung ke toko kuenya dan bertanya pada karyawannya dimana rumahnya. Aku juga ingin bertemu Dita, pasti saat ini sudah besar." Gerutunya seraya melajukan mobil menuju ke toko kue milik, Tiara.
Hanya beberapa menit saja, Tara telah sampai di depan toko kue tersebut. Tapi sayangnya dia harus kecewa karena toko kue telah pindah tapi tak ada petunjuknya pindah dimana.
"Loh, kenapa tokonya tutup? kok pindah sih, memangnya pindah kemana ya? biasanya kalau toko pindah kan ada petunjuknya atau setidaknya ada nomor ponsel yang tertulis, tapi kok nggak ada ya? apa semua ini Tiara lakukan untuk menghindar dariku?" gerutu Tara mendengus kesal.
Tara sudah kehilangan jejak, Tiara. Dia telah berniat ingin mendekatinya kembali, karena rasa bosannya pada, Monalisa.
Sementara tak jauh dari Tara, ada sepasang mata mengintai gerak gerik Tara yakni Monalisa.
"Seperti yang aku duga, Mas Tara nggak langsung pulang ke rumah melainkan mampir kemari. Syukurlah, si Tiara takut juga setelah aku telponin dia. Akhirnya toko tutup dan pindah. Dengan begini aku tak khawatir lagi jika, Mas Tara akan tergoda oleh mantan istrinya." Monalisa melajukan motor maticnya menuju arah pulang.
Sepulang dari rumah sakit dimana dia bekerja, dia sengaja tak langsung pulang ke rumah melainkan ke kantor papahnya untuk bertemu Tara guna berbicara hal penting.
Tapi dia tak sengaja melihat mobil yang di tumpangi, Tara melintas hingga dia mengikutinya dan ternyata berhenti tepat di depan toko kue milik Tiara.
"Aku ingin tahu, apa yang akan Mas Tara katakan saat aku tanya kenapa pulangnya bisa telat. Dia akan berkata jujur atau tidak," gerutu Monalisa seraya melajukan motor maticnya arah pulang.
Monalisa telah sampai di rumah terlebih dulu, beberapa menit kemudian barulah Tara sampai.
"Mas Tara, kok kamu pulangnya telat banget? memangnya mampir kemana dulu?" Monalisa berpura-pura bertanya.
"Ya, karena banyak kerjaan di kantor makanya telat pulang untuk menyelesaikan pekerjaan kantor terlebih dulu," tukas Tara sekenanya.
"Hem, hebat kamu ya mas? dalam membohingiku," Monalisa tersenyum sinis.
"Suami baru pulang kerja, rasanya cape. Bukannya pulang di suguhi minuman, senyumam manis. Tapi di suguhi tuduhan seperti ini," Tara mendengus kesal.
__ADS_1
"Mas, aku tak menuduhmu. Tetapi memang kamu telah berbohong padaku, karena kamu tak lembur di kantor, tapi kamu pergi ke toko kue milik mantan istrimu, ya kan?"
"Oh, berarti setiap hari kamu mengintai segala aktifitasku? hebat kamu, Mona."
"Bukan begitu, mas. Aku kebetulan pulang cepat dari rumah sakit, dan mampir ke kantor. Tapi tak sengaja aku melihat mobilmu melintas laju di depanku, makanya aku ikuti."
"Ternyata kamu ke toko kue milik mantan istrimu. Memangnya kamu nggak bisa move on darinya ya, mas?"
Perkataan Monalisa memancing emosi Tara yang baru sampai di rumah.
"Mona, sepertinya kamu suka sekali jika kita berantem. Ada saja yang kamu jadikan sebagai suatu masalah. Sesuatu hal yang sebenarnya tak perlu di permasalahkan, kamu buat menjadi sebuah masalah."
"Apa salahnya aku bertemu dirinya hanya ingin bertanya kabar anakku, bahkan seharusnya aku menafkahi anakku, tapi aku menelantarkannya."
Mona mencoba menahan rasa amarah yang saat ini sedang melandanya. Dia hanya diam dan berlalu pergi begitu saja, tanpa membalas perkataan dari, Tara.
"Dasar pria tukang bohong! masih saja membenarkan tindakannya, susah sekali memang jika sudah berhadapan dengan, Mas Tara. Tak pernah mengakui kesalahannya, tapi selalu saja berkilah," batin Monica menghela napas panjang.
"Tara, kamu sedang ada masalah apa? kalau ada masalah di rumah jangan di bawa ke kantor! semua berkas tak kamu teliti dengan benar, bahkan ada beberapa laporan yang tak sesuai dengan data kantor!"
"Apa kamu bosan kerja di sini? kamu hampir saja membuatku rugi besar, untung karyawan yang lain mengecek ulang data yang kamu berikan!"
Tara hanya melirik sinis pada mertuanya, dia bahkan tak berkata apa pun membuat Delta semakin emosi.
"Tara, apa kamu tak mendengar apa yang telah aku katakan padamu!"
"Pah, biasa saja bisa kan? nanti papah bisa struk karena darah tinggi papah kumat akibat marah-marah. Aku nggak mau hal buruk terjadi pada papah dan aku yang di salahkan," ucap Tara dengan seenaknya.
"Dasar menantu tak punya sopan santun sama sekali! tega kamu mendoakan mertuamu sendiri seperti itu?"
__ADS_1
"Pah, aku tak mendoakan. Hanya mengingatkan saja, segala permasalahan jangan langsung di hadapi dengan emosi, tapi pakailah pikiran dingin. Lagi pula semua manusia tak pernah luput dari salah dan dosa."
"Sama halnya diriku, pah. Aku bukan malaikat yang selalu saja benar, aku hanya manusia biasa makanya tolong maafkan aku karena kerjaku sedang buruk."
"Aku memang sedang tak fokus kerja karena anakmu, pah. Dia yang selalu saja membuat banyak masalah. Apa yang tadinya bukan masalah malah di jadikan sebagai masalah."
"Jika papah mau pecat aku silahkan saja. Tapi jangan salahkan aku tak menafkahi, Mona."
Dengan beraninya, Tara membalas semua perkataan dari, Delta. Dia tak ingin begitu saja di rendahkan oleh mertuanya.
"Apa lagi yang di lakukan oleh, Mona," batin Delta mendengus kesal.
Saat pulang dari kantor, kebetulan Monalisa sedang berada di rumah orang tuanya. Delta menghampiri Monalisa dengan wajah murung.
"Mona, kamu membuat masalah apa lagi hingga Tara kerja tak fokus. Beberapa hari ini dia hampir saja merugikan perusahaan papah."
"Aku tidak berbuat apa pun kok, pah. Mas Tara saja yang membuat alasan palsu seolah aku ini bersalah padanya," tukas Monalisa.
"Data penjualan tak sama dengan data keuangan perusahaan. Hampir saja papah rugi besar, untung ada karyaewan lain yang mengoreksinya," tukas Delta.
"Tara mengatakan jika dia tak fokus kerja karena kamu yang telah membuat masalah," Delta menautkan alisnya.
"Bohong, pah. Aku sama sekali tak berkata apa pun dan tak melakukan apa pun," tukas Monalisa membela diri.
"Haduh, mau sampai kapan rumah tangga kalian seperti ini. Satu ngomong ini, satu ngomong itu," Delta menghela napas panjang.
"Sebenarnya bukan masalah yang serius, pah. Mas Tara itu ketemu lagi sama mantan istrinya, dan aku nggak suka." Akhirnya Monalisa berkata jujur.
"Mantan istri yang mana? karena mantan istri, Tara kan banyak?"
__ADS_1
"Tiara, pah. Mas Tara alasan ingin tanya kabar tentang anaknya, tapi aku nggak percaya dengan ucapannya, pah."