Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Hilangnya Sertifikat Perusahaan


__ADS_3

Laras tak juga menemukan apa yang di carinya, bahkan dia mencoba mencari di tempat yang lain. Yakni di kolong ranjang, di almari, akan tetapi tidak di ketemukannya juga.


"Masa nggak ada ya, lalu dimana amplop coklat tersebut? padahal akan aku gunakan untuk membantu ibu yang saat ini sedang kesusahan," Laras terus saja mencarinya akan tetapi tidak di ketemukan juga.


"Pi, kok amplop coklatnya nggak ada. Sudah aku cari di semua tempat, masa hilang ya?" Laras melapor pada Reno seraya terus berpikir tentang amplop coklat berisikan sertifikat perusahaan milik Tara.


"Amplop coklat apa, Laras?" tiba-tiba Saras datang dan bertanya.


"Aduh bagaimana ini, pi," bisik Laras lirih pada Reno.


Reno hanya mengernyitkan alis tak berkata apapun. Saras semakin curiga dengan diamnya Laras dan Reno.


"Pi, pasti kamu mengetahui tentang amplop coklat yang Laras katakan tadi kan? untuk apa pula Laras mencari amplop tersebut?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Saras.

__ADS_1


"Amplop yang berisi sertifikat perusahaan Tara, mi. Aku berniat akan menjualnya, untuk membalas sakit hatiku pada, Tara. Akan tetapi malah hilang entah dimana," Laras akhirnya berkata jujur, tapi dia beralasan lain.


Karena jika dia beralasan untuk membantun Intan, pasti Saras akan marah besar.


"Apa kamu nggak salah menyimpannya? coba di cari kembali yang teliti," pinta Saras menyarankan.


"Sudah, mi. Berkali-kali aku mencarinya, tapi tetap tak ketemu. Aku jadi heran, padahal aku sembunyikan. Tapi kok hilang?" Laras masih saja belum percaya dengan hilangnya sertifikat tersebut.


"Aneh, kok bisa hilang? padahal kita selalu di rumah?" Saras mengernyitkan alisnya.


"Laras, jika sudah hilang ya mau bagaimana lagi? nggak usah di pikirkan, lagi pula kamu kan masih punya tabungan dari hasil jual rumah mewah, Tara? memangnya untuk apa, sepertinya kok di butuhkan sekali? padahal segala kebutuhanmu dan Risky, mami yang mencukupi," Saras semakin tidak mengerti dengan sikap Laras.


"Tapi aku nggak ingin selamanya menjadi beban, mami. Makanya alu berniat menjual perusahaan, Tara. Untuk modal usaha bagiku," kembali lagi Laras berbohong.

__ADS_1


"Laras, kok kamu bicara seperti itu? seperti pada orang lain saja? memangnya kamu ingin usaha apa?" Saras merasa penasaran.


"Aduh, padahal aku cuma sekedar memberi alasan," Laras menjadi bingung sedang berpikir lagi di dalam hati.


Akhirnya dia menjawab pertanyaan dari Saras hanya sekenanya saja.


"Entahlah, mi. Aku belum terpikirkan sama sekali, hanya punya ide kelak ingin usaha tapi belum ada angan usaha apa," jawab Laras sekenanya.


"Bagaimana kalau mami yang memberi modal, menurut mami buka restoran saja. Kamu kan pintar memasak dan selalu enak, lagi pula ada restoran yang sedang tutup karena kebakaran. Ini kesempatan emas, jika kita buka restoran di wilayah restoran yang terbakar itu, masih akan laris manis," Ide Saras.


"Tega sekali mami berucap seperti itu, padahal restoran yang terbakar adalah milik, ibu. Apa mami benar-benar nggak tahu?" batin Laras sedih.


"Saras, kenapa kamu diam saja? setuju nggak dengan saran, mami?" Saras mengernyitkan alisnya.

__ADS_1


"Maaf, mi. Aku belum berminat untuk itu, bukankah membutuhkan uang banyak untuk membuka restoran?" tolak Laras secara halus.


*******


__ADS_2