
Tia semakin gelisah, saat tak mendapat kabar dari Tara.
"Jangan-jangan Mas Tara memang ada hubungannya wanita itu dan bapak tua itu," gerutu Tia dalam hati.
Dia semakin tak tenang memikirkan semua itu. Namun dia bingung harus bertanya pada siapa lagi. Sejenak dia ingat pada Atin, dan diapun menelponnya.
π±"Asalamu alaikum, Cantika?"
π±"Walaikum sallam wr wb. Ada apa ya, Tia?"
π±"Sudah dua hari, Mas Tara nggak pulang ke rumah juga nggak ada di kantor. Apa kamu tahu dia ada dimana?"
π±"Aku pikir dia tidak ke kantor karena sedang bersamamu?"
π±"Jadi kamu tidak mengetahui dimana kiranya Mas Tara berada?"
π±"Tidak, Tia."
Setelah mencari kabar lewat Atin tidak berhasil, Tia semakin panik dan gelisah.
"Seperti hantu saja, tidak memberi kabar apapun," Tia mengerucutkan bibirnya seraya mendengus kesal.
Hal yang sama juga di rasakan oleh Laraz, dia juga sedang menanti telpon dari Tara. Tapi sama sekali tak ada telpon.
"Kenapa aku pergi berhari-hari, Mas Tara tak menelponku terlebih dulu? apa memang dia lebih memilih wanita itu?" batin Laras seraya menghela napas panjang.
Intan yang melihat kegelisahan Laras merasa iba.
"Nak, kenapa berapa hari ini mukamu masam dan tak ada senyum sedikitpun dari bibirmu?" Intan menghampiri Laras seraya menjatuhkan pantatnya di kursi teras di samping Laras duduk.
"Bu, kenapa aku pergi dari rumah kok malah Mas Tara sama sekali nggak menghubungiku? misalkan dia tidak peduli padaku, setidaknya dia ingat pada Risky." Laras menghela napas panjang.
"Laras, kenapa kamu masih saja memikirkan pria yang tak punya hati? yang sudah jelas telah menghianatimu, dan mungkin saat ini Tara sedang sibuk dengan istri barunya dan baby nya," ucap Intan sengaja membuat Laras supaya benci pada Tara.
Intan juga merasa geram, saat mengetahui Tara telah memiliki baby umur dua bulan dari wanita lain. Intan ingin membuat Laras benar-benar membenci Tara.
Namun saat ini Intan belum berhasil membuat Laras move on pada Tara.
Pagi menjelang, Tara barulah teringat akan Tia dan Dita. Dia lekas pulang kerumah Tia.
__ADS_1
"Mas Tara, kemana saja tiga hari ini? tak pulang ke rumah, nomor ponsel susah di hubungi?" Tia menatap menyelidik pada Tara.
"Aku habis terkena musibah, saat aku sedang menunggu klien baruku. Ternyata dia penipu, karena saat aku di beri minuman. Aku tak sadarkan diri, semua barang berhargaku hilang yakni ponsel, dompet, bahkan mobil," ucap Tara menghela napas panjang.
"Astaghfiruloh alazdim. Terus bagaimana?" tanya Tia mengernyitkan alisnya.
"Sudah aku urus, tapi belum juga menampakkan hasil yang positif," jawab Tara sekenanya.
"Semoga mobil lekas kembali ya, mas?" kata Tia berharap.
"Entahlah, besok aku akan mencari mobil seken saja. Itu saja mau pake uang perusahaan dulu, karena aku sudah nggak punya uang. Semua kartuku ada di dompet, dan dompet di curi pula. Saat ini semua kartu sudah di blokir supaya tidak di salah gunakan oleh pencurinya.
"Besok aku akan ke Bank, untuk membuat rekening baru dan semua uang di rekening lama akan aku pindahkan. Aku minta maaf, untuk beberapa hari ini aku sibuk," Tara menghela napas panjang.
"Ya, mas. Nggak apa-apa, sudah tahu kabar darimu saja, sudah membuatku lega," Tia menyunggingkan senyuman.
"Terima kasih, atas pengertiannya." Tara mengecup kening Tia.
Sementara saat ini Atin sedang malas masuk ke kantor. Tiba-tiba dia kangen le kios pasar.
"Pak, aku ikut ke kios ya? ini aku sudah membelikan bapak ponsel." Atin memberikan ponsel baru pada Yogi.
"Lagi malas ke kantor, pak. Aku lagi kangen sama pelanggan kios kita. Nanti saat di kios, aku ajari bapak secara pelan-pelan ya?" ucap Atin dengan pastinya.
"Baiklah, nak. Bagaimana baiknya kamu saja. Ya sudah ayuk kita berangkat ke kios sekarang." Ajak Yogi melangkah menuju ke mobil boxnya.
Atin mensejajarkan langkahnya sehingga setara dengan langkah kaki Yogi.
"Pak, biar aku saja yang mengemudikannya," pinta Atin.
Atin mengemudikan mobil box, sedang Yogi berada di samping Atin.
"Ada salam, nak," ucap Yogi.
"Dari siapa, pak?" tanya Atin mengernyitkan alisnya seraya fokus mengemudi.
"Langganan kita yang baru, Intan namanya." Jawab Yogi sekenanya.
"Kok nggak kirim notifikasi chat pesan padaku, ya?" Atin mengernyitkan alisnya.
__ADS_1
"Entahlah, katanya khawatir mengganggu kerjaaanmu. Bapak heran, dia kok tahu kalau saat ini kamu bekerja di kantor expedisi?" Yogi mengernyitkan alisnya.
"Aku yang memberi tahunya, saat terakhir kita saling chat," Atin berbohong.
Tak berapa lama, Atin dan Yogi telah sampai di kios dalam pasar. Dandanan Atin saat di kantor dan saat di kios sungguh sangat berbeda.
Karena Atin mempunyai suatu bakat yang orang lain tak punya, yakni bisa meniru gaya seseorang. Bahkan sudah banyak yang memakai jasa Atin.
Atin lekas membantu bapaknya melayani para langgananya. Dan kebetulan, saat ini Intan datang ke kios Atin sehingga mereka bisa bertemu.
"Heh, Atin. Lama kita nggak bertemu." Intan menyalami Atin seraya menyunggingkan senyum.
"Iya, Intan. Bagaimana kabarmu? aku sebenarnya ingin sekali bertemu baby Adam," Atin menyunggingkan senyum pula.
"Bagaimana kalau kamu sesekali main ke rumahku?" Intan mengajak Atin main ke rumahnya.
Atin tidak langsung menjawabnya, dia malah menatap Yogi seakan meminta persetujuan.
"Pergilah, lagi pula ada Wanto dan wanti yang membantu. Jadi bapak nggak begitu kerepotan," Yogi mengijinkan Atin pergi ke rumah Intan.
Intan menyerahkan urusan belanjanya pada anak buahnya. Sementara dia dan Atin pergi ke apartementnya.
Hanya beberapa menit saja, Atin dan Intan telah sampai di apartement Intan.
"Wah, rumahmu bagus sekali. Hebat kamu, Intan." Atin mengacungkan kedua ibu jarinya pada Intan seraya menyunggingkan senyum.
"Yuk kita masuk." Intan merangkul Atin membawanya masuk ke dalam rumah.
Atin menjatuhkan pantatnya di sofa ruang tamu. Sementara Intan melangkah masuk ke dalam mencari keberadaan ibunya.
"Bu, keluar sebentar yuk? ada yang ingin bertemu dengan Adam dan ibu." Intan merangkul ibunya membawanya melangkah ke ruang tamu.
Saat Atin melihat Bu Mita yang sedang menggendong Adam, dia langsung terhenyak kaget. Matanya membola mulutnya terperangah, dia langsung bangkit berdiri.
Atin meraih tasnya, untuk mengambil dompetnya. Di cocokkannya wajah Bu Mita dengan foto yang ada di dompetnya.
"Alhamdulilah ya, Allah." Tak terasa bulir putih bening keluar dari pelupuk mata Atin.
Bu Mita dan Intan yang melihat reaksi Atin, mereka menjadi heran. Saling berpandangan seolah saling bertanya satu sama lainnya.
__ADS_1
*******