
Suasana di liputi oleh canda dan tawa, semua merasa bahagia. Selagi asik bercengkrama, Reno dan Laras berpamitan pulang.
Reno sudah tak kuat melihat hal itu, dia beralasan pada Laras jika ada janji bertemu dengan klien barunya.
"Laras, papi akan pulang. Kamu mau ikut pulang atau di sini saja? toh acaranya sudah selesai," bisik Reno pada Laras.
"Aku masih betah, pi. Memangnya kenapa buru-buru pulang?" Laras mengernyitkan alisnya.
"Papi ada janji bertemu dengan klien baru, papi." ucap Reno berbohong.
"Ya sudah, kita berpamitan saja pada semuanya. Aku ikut pulang juga, khawatir mami bertanya banyak hal nantinya," jawab Laras.
Hingga Laras dan Reno berpamitan pada semua orang yang ada di rumah Intan. Setelah itu keduanya pulang bersama Risky.
Di rumah, Saras sangat gelisah. Karena Reno dan Laras belum juga kembali.
"Ini bapak sama anak sebenarnya pergi kemana? masa dari pagi hingga sore begini belum pulang juga? bodohnya aku nggak minta ikut seperti biasanya," Saras mondar mandir gelisah.
__ADS_1
Setelah satu jam berlalu, sampailah Reno dan Laras di rumah. Saras yang sedang duduk di kursi teras segera bangun saat melihat kepulangan Reno dan Laras.
Laras segera menyalami Saras, dan Saras segera menyalami Reno.
"Sebenarnya kalian dari mana? masa waktu menjelang petang begini ko baru pulang?" Saras bertanya menyelidik pada Reno dan Laras
Belum juga Reno dan Laras menjawab, si Risky tiba-tiba berucap.
"Habis lihat orang nikahan, oma. Rumahnya jauh sekali, nikahannya Nenek Intan dan Nenek Atin," kata Risky dengan lantangnya.
Mendengar hal itu, Saras membulat matanya. Dia menatap ke arah Laras dan Reno.
"Apa yang di maksud Risky itu Intan mantan istrimu, pi?" Saras mulai terbakar api cemburu.
Reno hanya diam tak bisa menjawab, hingga akhirnya Laras memberanikan diri menjawab.
"Iya, mi. Kami minta maaf karena tidak berkata jujur pada mami. Kalau kami pergi ke rumah, Ibu Intan. Kami ke sana hanya ingin menyaksikan pernkahan mereka, itu saja tak ada maksud lain," Laras mencoba menjelaskan.
__ADS_1
"Laras, jadi selama ini kamu telah mengetahui dan bertemu dengan ibu kandungmu?" kembali lagi Saras bertanya.
"Sejujurnya memang aku telah mengetahuinya, mi. Maaf jika aku tak jujur pada, mami." Laras tertunduk lesu.
"Tega kamu sama, mami. Menyembunyikan hal ini pada, mami? kurang apa mami sama kamu?" mata Saras berkaca-kaca.
"Bukan begitu, mami. Jika aku berkata jujur, pasti mami melarangku bertemu dengan, Ibu Intan. Padahal dia tak seburuk yang mami katakan tentangnya. Bahkan Bu Intan juga tak pernah menyinggung atau berkata buruk tentang, mami." Kata Laras panjang lebar.
"Kamu sudah mulai membelanya, padahal dulu dia telah meninggalkanmu dan papimu hanya demi pria kaya," Saras berusaha menghasut Laras.
"Mami, kenapa selalu berkata buruk tentang Bu Intan. Dan kenapa selalu memusuhinya, padahal dia tak pernah memusuhi, mami," kembali lagi Laras membela Intan.
"Saras, ini balasanmu pada mami yang telah merawatmu dari bayi hingga dewasa?" Saras menitikkan air matanya.
"Mi, aku tak berbuat apa pun pada mami. Bahkan aku tak meninggalkan, mami. Apa salahnya aku bertemu dengan ibu yang telah melahirkanku?" Laras berusaha memberi pengertian pada Saras.
*******
__ADS_1