
Di sore hari, di saat Saras sedang tidur nyenyak. Laras menghampiri Reno. Dia mengutarakan niat hatinya pada Reno, jika ingin menemui Intan.
"Pi, aku kangen sama ibu. Bagaimana caranya supaya aku bisa ke rumah, ibu. Sudah cukup lama aku tidak bertemu dengannya," bisik Laras memelas.
"Untuk sementara waktu, kamu telponan dulu saja dengan ibumu," pinta Reno lirih.
"Sudah berkali-kali aku menelpon, ibu. Tetapi nomor ponsel selalu tidak aktif. Aku khawatir dengan kondisi, ibu. Insiden kebakaran ke tiga restoran, apa tidak membuat, ibu shock?" rengek Laras.
"Sebaiknya kita ke teras depan, papi akan mencoba menelpon ibumu." Reno merangkul Laras melangkah bersama menuju ke teras.
"Ya, kenapa pula nomor ponsel ibumu nggak aktif?" Reno berkali-kali memencet nomor ponsel Intan.
Tanpa mereka tahu, Intan telah mengganti nomor ponselnya pada saat terakhir Tara menelponnya. Intan tidak ingin terganggu oleh Tara lagi, dia ingin benar-benar lepas dari Tara.
__ADS_1
"Begini saja, biar papi yang mencari tahu kondisi ibumu. Kalau kamu pasti nggak bisa, karena ada Risky yang harus kamu urus. Papi berangkat sekarang juga, jika mami bertanya katakan saja papi sedang menemui klien baru papi." Reno menitip pesan pada Laras sebelum dirinya pergi.
"Baik, pi. Hati-hati di jalan, kalau sudah sampai jangan lupa berkabar," pesan Laras.
Reno berlari kecil ke arah garasi untuk mengambil mobilnya, karena dia tak ingin berlama-lama. Jika Saras terbangun, dia akan sulit untuk pergi sendiri.
Sejak Saras bertemu dengan Intan, dia lebih cenderung posesif pada Reno. Tak membiarkan Reno pergi sendirian, dia akan selalu memaksa pada Reno untuk mengijinkannya ikut serta.
Dengan laju yang cukup cepat, Reno mueluncurkan mobilnya ke arah apartement Intan.
Dia memutuskan untuk mencari tahu dari Rendy. Reno memarkirkan mobilnya di depan pintu gerbang apartement Rendy. Sekilas Rendy melihat kedatangan Reno, karena kebetulan saat ini dia sedang bersantai di teras halaman.
"Sehat, bro. Kenapa akhir-akhir ini aku susah sekali menghubungimu? nomormu selalu tidak aktif," Reno menyalami Rendy kemudian menjatuhkan pantatnya di kursi teras tepat di samping Rendy.
__ADS_1
"Maaf, bro. Kebetulan nomor ponselku sudah ganti, tapi aku lupa memberi tahumu karena aku sibuk mengurus perkebunan teh." Rendy menangkupkan kedua tangannya di dada.
Belum juga Reno berkata, Rendy telah berkata lagi.
"Kebetulan sekali kamu datang, aku juga ingin berbagi kabar bahagia denganmu. Dalam waktu dekat aku akan menikah, bro." Sangat antusias Rendy memberi tahukan tentang kabar pernikahannnya pada Reno.
Reno mengernyitkan alisnya saat mendengar apa yang di katakan oleh Rendy.
"Menikah? apa aku nggak salah dengar, aku pikir sejak istrimu meninggal, kamu tak pernah dekat dengan wanita manapun. Kok tahu-tahu mau menikah?" Reno masih saja belum percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Rendy.
"Memang waktu dulu iya, tapi beberapa bulan yang lalu aku mengenal wanita. Bahkam calon istriku ini ternyata kakak kandung dari mantan istrimu," tukas Rendy.
Reno membola dan terperangah saat mendengar perkataan dari Rendy. Karena selama ini yang dia tahu, Intan hanya hidup dengan ibunya saja.
__ADS_1
********