
"Spre dari aku pergi, sampai aku pulang belum juga di ganti." Gerutu Laras seraya mengambil spre yang baru di dalam almari.
Namun saat Laras mengambil sprei di almari, dia sempat melihat ada amplop coklat yang tertindih tumpukan baju. Laras penasaran dengan amplop tersebut.
"Amplop apa ini?" Laras mengambil amplop coklat tersebut.
Karena rasa penasarannya, Laras akan membukanya. Dan dia terdiam matanya terperangah menatap kertas yang di raihnya di dalam amplop coklat tersebut. Tangannya gemetaran.
"Astaghfiruloh alazdim. Ternyata Mas Tara telah menikah siri dengan perempuan itu?" perlahan bulir bening keluar dari matanya.
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, seketika itu juga tubuh Laras lemas, dia jatuh terduduk di pembaringan.
"Aku pikir, penglihatanku waktu itu salah. Wanita itu masih saudara Mas Tara. Saat dia mengatakan istri sirinya, aku sempat berpikir Mas Tara sedang ngeprang aku. Ternyata ini memang sungguh nyata adanya," terus saja air mata Laras berderai.
Seketika itu juga, Laras memutuskan untuk menyambangi rumah wanita yang menjadi istri siri Tara. Dia juga membawa bukti buku nikah dia bersama Tara.
"Bi, aku titip Risky sebentar. Karena aku akan keluar sebentar." Laras bergegas pergi meninggalkan rumah tersebut.
Dia lekas memesan taxi on line menuju ke rumah Tia.
Sementara Intan merasakan hatinya tak tenang. Dia lekas menelpon Reno.
π±"Asalamu alaikum, Mas Reno."
π±"Walaikum salam wr wb. Ada apa, Intan?"
π±"Mas, saat ini Laras sedang ke rumah Tara. Kemungkinan saat ini telah sampai, tapi hatiku merasa tak tenang. Aku khawatir padanya, Mas."
π±"Kenapa kamu baru memberitahuku? ya sudah, kamu nggak usah khawatir. Biar aku yang menyusulnya."
Setelah itu panggilan telpon di matikan baik oleh Reno maupun oleh Intan.
Reno lekas melangkah ke garasi mobilnya, namun langkahnya tertahan oleh Saras.
"Pi, barusan aku dengar kamu telfonan dengan seseorang dan menyebut nama Laras?" tanya Saras menyelidik.
"Nanti aku jelaskan, aku mau pergi dulu." Reno melanjutkan langkahnya ke garasi mobil.
__ADS_1
Sementara Saras mengunci pintu rumahnya, dia lekas berlari mengejar Reno. Dia tak ingin ketinggalan seperti waktu itu.
"Pi, mami ikut." teriaknya saat Reno sedang menyalakan mesin mobilnya.
"Buruan, masuk." Perintah Reno
Saras lekas masuk ke dalam mobil. Duduk di depan samping Reno.
"Pi, memang siapa yang barusan menelpon?" tanya Saras mengernyitkan alisnya.
"Anak buahku, mi." Jawab Reno singkat seraya fokus mengemudikan mobilnya.
"Sejak kapan kamu punya anak buah, pi?" kembali lagi Saras bertanya.
"Sudah, nggak usah tanya terus. Apa kamu nggak melihat, jika aku sedang mengemudi!" Reno melirik sinis pada Saras.
Setelah mendapat teguran seperti itu, Saras tak berani bertanya kembali. Dia langsung diam, dan pandangannya menatap ke depan.
Walaupun dalam hati sangat kesal dengan ucapan Reno yang ketus.
Sementara saat ini Laras telah sampai di depan pintu gerbang di rumah Tia. Kebetulan ibunya Tia membuka pintu gerbang akan membeli sate di seberang jalan.
"Asalamu alaikum, bu. Apa benar ini rumah Tiara?" tanya Laras pada Bu Ita.
"Walaikum salam wr wb. Benar sekali, nak. Memang anak ini siapa?" tanya Bu Ita mengernyitkan alisnya.
"Ibu, ingin tahu saya siapa? kalau begitu ijinkan saya masuk, dan pertemukan saya dengan Tiara," jawab Laras mencoba tersenyum.
Bu Ita merasa penasaran, dia pun mengurungkan niatnya untuk membeli sate. Bu Ita mengajak Laras masuk ke dalan rumah. Kebetulan Tara belum juga pulang dari kantor.
"Mari, nak. Silahkan duduk dulu, biarkan saya memanggil Tia sebentar." Bu Ita mempersilahkan Laras duduk, setelah itu melangkah menuju ke kamar Tia.
Laras menatap ke sekeliling, ada banyak foto kebersamaan antara Tara, Tia dan Baby Dita. Bahkan ada foto pernikahan siri Tara dan Tia.
Hati Laras sakit bagai di sayat sembilu, luka tapi tak berdarah. Dia mencoba menahan rasa ingin menangis.
"Ya Allah, ternyata seperti ini pria yang selama ini aku puja dan aku banggakan," keluhan Laras di dalam hati.
__ADS_1
Tak berapa lama, Bu Ita dan Tia telah ada di hadapan Laras. Tia terhenyak kaget saat melihat Laras.
"Ternyata kamu, untuk apa kemari lagi? mau mengaku sebagai istri Mas Tara kembali?" Tia tersenyum sinis pada Laras.
"Duduklah dulu, kita bicarakan secara pikiran dingin. Tamu adalah raja, seharusnya di sambut dengan ramah. Bukan dengan tatapan sinis," Laras mencoba menahan rasa sakit hatinya.
"Iya, nak. Kamu nggak boleh kasar padanya, bagaimanapun dia adalah tamu. Ayok kita duduk," Bu Ita mencoba menenangkan hati Tia.
"Sialan! kenapa pula ibu malah membelanya bukan membelaku! padahal dia orang asing, sedangkan aku ini anak kandungnya!" gerutu Tia dalam hati seraya menjatuhkan pantatnya di sofa.
Begitu pula yang di lakukan oleh Bu Ita, dia juga duduk di samping Tia.
"Sebenarnya apa maksud kedatanganmu kemari, nak?" tanya Bu Ita menatap lekat wajah Laras.
"Apa benar, anak ibu ini istri siri suami saya?" tanya Laras menyodorkan berkas pernikahan siri antara Tara dan Tia di meja.
"Nak, anak saya bukan menikah siri. Tapi Tia telah menikah resmi dengan Tara. Dan kenapa pula kamu mengaku sebagai istri Tara?" Bu Ita semakin penasaran.
"Bu, usir saja wanita nggak jelas ini. Dia hanya berdusta, bu. Pasti dia terobsesi dengan Mas Tara, hingga mengaku menjadi istri, Mas Tara." Tia mendengus kesal seraya melotot pada Laras.
"Nak, sabarlah dulu dan jangan terpancing emosi," Bu Ita mencoba menenangkan hati Tia.
"Iya, Tiara. Saya kemari juga tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin membuka kedok Mas Tara padamu." Laras mencoba tetap tenang, walaupun sebenarnya hatinya sudah tidak kuat.
"Apa buktinya jika kamu ini istri, Mas Tara?" Tia melirik sinis pada Laras.
Laras meraba ke dalam tasnya dan meraih sepasang buku nikahnya bersama Tara.
"Ini bukti aku dan Mas Tara menikah sah, bahkan saat ini anak kami sudah tumbuh dewasa yakni berumur enam tahun," Laras juga memperlihatkan beberapa foto kebersamaannya bersama Tara dan Risky.
Sejenak Tia meraih buku nikah dan foto yang ada di meja. Tangannya gemetar saat membuka buku nikah antara Laras dan Tara.
Tia mencoba menahan air matanya supaya tidak tertumpah, karena dia tak mau kesedihannya terlihat oleh ibunya.
"Nak, ini pasti buku nikah palsu. Karena anakku dan Tara juga memiliki buku nikah juga. Apa maksudmu ingin menghancurkan pernikahan anakku?" Bu Ita mulai terpancing emosi.
"Jika ibu dan Tiara tidak percaya dengan keabsahan buku nikah ini, besok pagi kita bisa cek di KUA," ucap Laras sekenanya.
__ADS_1